oleh

WANITA PENYELUNDUP NARKOBA, DITUNTUT 17 TAHUN PENJARA

NARKOBAPOSKOTA.CO – Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa penyelundup narkoba jenis sabu-sabu seberat 946 gram, Jenetri Ningsih,26, warga Kebon Duren Ciputat Tangerang, Banten, 17 tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Boyolali, Jateng, Rabu.

Jaksa Penuntut Umum Retno Handayani dalam tuntutannya juga menyatakan denda terhadap terdakwa Jenetri Ningsih sebanyak Rp80 miliar. Menurut dia, terdakwa dinyatakan bersalah dan terbukti kedapatan membawa dan menguasai sabu-sabu seberat 946 gram dari Kamboja.

Terdakwa terbukti membawa dan menguasai sabu-sabu dari Kamboja ke Indonesia melalui Bandara Adi Soemarmo Boyolali, Sabtu (28/12), sekitar 12.00 WIB. Hal itu, sesuai Pasal 112 ayat (2) Undang Undang RI Nomor 35/2009 tentang Narkotika.

Menurut jaksa, dari keterangan para saksi dalam persidangan, bahwa terdakwa terbukti kedapatan membawa barang terlarang tersebut di dalam tiga buku yang sengaja dilubangi.

Hal-hal yang memberatkan terdakwa, kata jaksa, yang bersangkutan tidak mendukung program Pemerintah dan dalam persidangan berbelit-belit. Sedangkan, hal yang meringankan terdakwa masih muda dan belum pernah dihukum.

Sidang kasus penyelundupan narkoba dengan tersangka Jenetri Ningsih dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Popi Juliyani dengan dibantu anggota Retno Lastiani dan Agus M. Mulyohadi itu, akhirnya akan dilanjutkan, pada Rabu (4/6), dengan agenda pledoi atau pembelaan terdakwa.

Namun, Penasihat Hukum terdakwa, Riduan Sihombing, memohon waktu untuk menyusun pembelaan terdakwa dua pekan ke depan.

“Saya kasih waktu tujuh hari untuk sidang pledoi atau pembelaan terdakwa,” kata Ketua Majelis Hakim Popi Juliyani.

Hal tersebut akhirnya disetujui oleh penasihat hukum terdakwa dan jaksa penuntut umum dalam persidangan di tempat yang sama, pada Rabu (4/6).

Menggapi tuntutan jakwa penuntut umum terhadap kliennya, Panasihat Hukum terdakwa Riduan Sihombing menjelaskan, jaksa apakah tidak keliru menggunakan pasal 112 UU RI untuk terdakwa Jenetri Ningsih.

“Pasal 112, isinya untuk para bandar narkoba. Padahal, terdakwa bukan pemiliknya, pengguna, dan dia hanya membawa barang itu. Seharusnya pasal 115 seperti yang digunakan oleh penyidik polisi sebelumnya,” kata Sihombing usai sidang.

Menurut dia, pada berkas berkara sebelumnya hasil penyidikan polisi ada dicantumkan pasal 115, tetapi oleh jaksa dihilangkan, dan dia menuntut dengan pasal 112 atau klienya sebagai bandar narkoba.

“Kami akan menyusun pembelaan terdakwa pada dsidang selanjutnya. Kliennya juga kan membuat sendiri pledoi untuk dibacakan pada sidang Rabu (4/6),” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *