JAKARTA – Anak muda diajak membangun kebiasaan baik dalam mengelola uang sejak dini. Ajakan itu disampaikan financial trainer sekaligus Founder & CEO Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, dalam talkshow bertajuk “Good Money Habit” di Indonesia Youth Summit 2026, Kamis (29/10/2026).
Sesi yang berlangsung di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, itu menjadi sesi pertama di hari pertama penyelenggaraan Indonesia Youth Summit 2026. Prita dipandu Adinda Cresheilla, Puteri Indonesia Pariwisata 2022 yang pernah mewakili Indonesia di Miss Supranational 2022 di Polandia.
Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 digelar pada 29–30 Oktober 2026 sebagai rangkaian kegiatan menyongsong 100 tahun Sumpah Pemuda. Selama dua hari, IYS 2026 diramaikan oleh berbagai talkshow bersama sejumlah tokoh dan narasumber. Selain di Teater Besar, talkshow dengan tema berbeda juga berlangsung di Teater Kecil, yang sama-sama berada di kompleks Taman Ismail Marzuki.
Di hadapan peserta, Prita memaparkan sejumlah kesalahan yang kerap dilakukan anak muda dalam mengelola keuangan. Langkah pertama yang ia sarankan adalah mencatat keuangan sebelum membuat rencana. Setelah pencatatan berjalan, anak muda bisa menyusun budget, yaitu rencana alokasi uang agar pengeluaran sesuai prioritas dan tujuan finansial.
Prita memberi contoh lewat konsep assign your rupiah. Uang dibagi ke tiga pos: living untuk kebutuhan kos, makan, transportasi, dan keperluan pribadi; saving untuk cash buffer dan tabungan; serta playing untuk tiket mudik dan jajan social life. Semua itu, kata Prita, berawal dari mindful spending atau belanja dengan penuh kesadaran. “Kebiasaan kecil dimulai lebih dulu, baru keuangan bisa dirapikan”. paparnya.
Menurut Prita, kesalahan terbesar anak muda di usia 20-an adalah social comparison, yakni mudah terpengaruh omongan orang lain. Ia mengajak anak muda meyakini nilai dirinya sendiri. Membandingkan diri dengan orang lain tidak akan ada habisnya. “Di atas langit masih ada langit,” ujarnya. Penggunaan media sosial yang berlebihan juga memperparah keadaan karena batas antara dunia nyata dan dunia maya menjadi kabur.
Prita menambahkan bahwa pola pikir soal uang sering diwariskan dari kebiasaan orang tua. Meski begitu, seseorang tidak bisa memilih lahir di keluarga seperti apa. Anak muda saat ini punya peluang belajar dan mencari pengetahuan, termasuk bagi mereka yang tumbuh di lingkungan yang kurang mendukung.
Prita menekankan pentingnya pola pikir financial independent. Ada tiga pesan yang ia sampaikan: tidak menjadikan orang tua sebagai dana darurat, tidak menjadikan anak sebagai dana pensiun, dan tidak menjadikan teman maupun saudara sebagai paylater. Ia juga mengajak peserta menelaah kembali motif di balik keinginan mereka. Misalnya, saat ingin sekali traveling, tanyakan dulu apakah tujuannya memang untuk refreshing. Dari situ, anak muda bisa menentukan mana yang mendesak dan mana yang menjadi prioritas.
Menutup sesi, Prita mengingatkan bahwa pilihan ada di tangan setiap pemuda Indonesia. “The choice is always yours,” katanya. Ia mengajak peserta memulai dari satu kebiasaan baik, salah satunya good money habit.(dk)







Komentar