oleh

Sikap Jokowi Tak Lekang Kena Hujan Tak Retak Kena Panas

 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  menerima pasangan capres Joko Widodo dan Jusuf Kalla di kediamannya Puri Cikeas, Bogor, Jabar, Rabu (9/7). Presiden bertemu dengan Joko Widodo dalam rangka menyikapi polemik hasil quick count Pilpres 2014. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap kedua pasangan capres-cawapres menghormati pilihan rakyat terhadap pemimpinnya dan bisa menerima hasil pilpres ini dengan baik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima pasangan capres Joko Widodo dan Jusuf Kalla di kediamannya Puri Cikeas, Bogor, Jabar, Rabu (9/7). Presiden bertemu dengan Joko Widodo dalam rangka menyikapi polemik hasil quick count Pilpres 2014. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap kedua pasangan capres-cawapres menghormati pilihan rakyat terhadap pemimpinnya dan bisa menerima hasil pilpres ini dengan baik.

POSKOTA.CO – Sikap Presiden Jokowi tak lekang kena hujan dan tak retak kena panas meski dari berbagai kalangan mengkritik soal hukuman mati terhadap bandar narkoba. Meski dirayu penyanyi, meski diancam negara lain, para kartel narkoba yang merusak bangsa Indonesia tetap di wassalamkan (Ditembak mati).

Mungkin saja mereka belum menyadari berapa ribu jiwa generasi muda bangsa kita mati sia-sia karena barang haram itu. Maukah pejabat yang memprotes negaranya dijadikan pasar narkoba dan warganya satu per satu game over?

Sadarkah Anggun, si penyanyi cantik, keluarga atau bangsanya dirusak oleh narkoba? Semua itu kembali pada Nurani Anggun. Memang yang ber hak mencabut nyawa adalah Tuhan yang maha segalanya, tapi apa kita juga membiarkan umat Tuhan dibunuh secara perlahan oleh orang yang tak berhak mencabut nyawanya.

Badan Narkotika Nasional (BNN) angkat bicara terkait pernyataan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), Ban Ki-moon, yang menyebut kejahatan narkoba bukan hal serius. Oleh sebab itu, hukuman mati tidak perlu diterapkan.

“Indonesia mempunyai kedaulatan hukum. Segala hal yang sudah diputuskan oleh pengadilan dan telah mempunyai kekuatan hukum, siapapun harus menghormati itu. Apalagi para calon eksekusi mati itu sudah melalui proses hukum panjang,” kata Kepala Humas BNN, Komisaris Besar Slamet Pribadi.

Berbicara mengenai hukum, kata Kombes Pol Slamet, tidak melulu berpikir mengenai hukum materil dan formil semata. Namun juga memperhatikan korban-korban akibat peredaran narkotika.

Hasil riset yang dilakukan Universitas Indonesia (UI) dan BNN menyebut, ada 33 nyawa di Indonesia melayang akibat narkotika setiap harinya. Bahkan bila dirupiahkan kerugian materiil mencapai angka cukup fantastis.

“Korban akibat narkotika di Indonesia 33 orang meninggal. Kerugian materiil Rp 63,1 triliun,” kata Kombes Pol Slamet.

“Soal kejahatan narkotika di Indonesia adalah kejahatan serius, extra ordinary crime. Oleh karena itu cara penanganan juga harus serius, termasuk soal hukuman mati,” imbuh Kombes Pol Slamet.

Adapun hukuman mati masih merupakan bagian dari hukum positif di Indonesia dan konstitusional. Terlebih lagi dengan dikuatkannya hal tersebut di Mahkamah Konstitusi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *