
POSKOTA.CO – Dalam pagelaran Piala Dunia, tidak menarik jika tak disertai perang urat syaraf atau psy war antar negara yang berlaga. Tak ayal ada beberapa pernyataan-pernyataan perang urat syaraf yang kemudian sangat terkenal dan dikenal sepanjang zaman.
Dalam Piala Dunia 2014 ini, sebelum laga Inggris vs Uruguay digelar, pelatih Inggris Roy Hodgson mengatakan, Luis Suárez hanya bagus main di level club, di Liverpool saja. Tapi di timnas Uruguay belum tentu Suarez main bagus seperti di Liverpool.
Sebagaimana diketahui selanjutnya, Suarez membuktikan apa yang dikatakan Roy Hodgson salah besar. Uruguay menang 2 – 0 tanpa balas dari Inggris, dan dua gol itu diborong Suarez.
Lebih seru lagi, usai laga Suarez mengatakan, dua golnya itu untuk menjawab media Inggris yang selama ini sering mengolok-ngolok dirinya.
Pendukung Inggris yang mulanya diam saja atas dua gol Suarez ke gawang Joe Hart, menjadi marah oleh pernyataan Suarez terhadap media Inggris itu, dan pendukung Inggris minta Suarez ‘dideportasi’ dari Inggris. Belum jelas bagaimana sikap pendukung Liverpool.
Apa yang terjadi pada Suarez ini mengingatkan kepada pemain Korea Selatan Ahn Jung-hwan saat menjebol gawang Italia pada Piala Dunia 2002 di Korsel dan Jepang. Golden goal itu membuat Italia tersingkir di babak 16 besar.
Ahn Jung-hwan yang saat itu main di Perugia Seri A Italia setelah Piala Dunia 2002 itu tidak dapat kembali ke Italia, karena Presiden Perugia Luciano Gaucci secara sepihak memutus kontrak Ahn Jung-hwan. Apakah musim depan Suarez bernasib sama dengan Ahn Jung-hwan? Kita lihat saja.
Soal perang kata-kata, penggemar sepakbola asal Bitania Raya juga sering dibuat bingung. Beberapa tahun lalu ketika Scotlandia dan Irlandia sering lolos ke putaran Piala Dunia, dan kemudian harus berjumpa Inggris, perang urat syaraf-nya sungguh menarik.
Pemain Scotlandia dan Irlandia sering menyebut diri mereka ‘lebih Inggris dari Inggris’. Dan dalam beberapa duel Inggris tak selalu menang dari Irlandia dan Scotlandia.
Dalam Piala Dunia 1986 mungkin bisa disebut perang kata-kata yang paling heboh dan sensitif bagi Inggris dan Argentina. Tahun itu Argentina dan Inggris baru saja berperang memperebutkan Pulau Malvinas.
Ketika akhirnya Argentina dan Inggris harus bertemu di lapangan hijau, FIFA tak mau suasana perang itu terbawa ke lapangan hijau. FIFA pun meminta Diego Maradona menggelar jumpa pers, yang intinya mengatakan, apa yang akan terjadi di lapangan, yaitu Argentina vs Inggris tak lebih dari permainan sepakbola, dan ada hubungannya dengan Perang Malvinas.
Dan Maradona membawa misi jumpa pers FIFA itu dengan baik. Namun diluar dugaan dalam laga itu Maradona membuat gol dengan tangan, dan disahkan wasit. Situasi menjadi Inggris makin sewot, karena kemudian Maradona menciptakan gol kedua yang brilian dengan melewati enam pemain Inggris.
Susanana diperpanas oleh pernyataan tandem Maradona, Luis Burruchaga yang mengatakan, “Inggris tak puas dengan gol pertama, dan Maradona memuaskan dengan gol keduanya.”
Perang media Inggris dan Argentina pun tak terhindarkan, dan makin memanas. Di tengah perang pernyataan itu Maradona ‘menghianati’ pernyataan dalam jumpa pers sebelum laga.
Mungkin karena terpengaruh situasi yang makin panas perang kata-kata media Inggris vs media Argentina, Maradona lalu mengatakan, “Mengalahkan Inggris dalam sepakbola seperti menang perang dengan sebuah negara…”
Namanya juga Piala Dunia, membawa nama negara, bukan membawa nama club, pasti sentimen Negara terbawa-bawalah…







Komentar