PEMBANGUNAN WC senilai hampir Rp 200 Juta ( atau persisnya Rp 196,4 Juta) di ratusan SD dan SMP di Kabupaten Bekasi makin viral hingga menjadi materi liputan banyak media, cetak maupun elektronik, bahkan televisi. Ketika telah menjadi viral, Bupati Bekasi H Eka Supria Atmaja konon bakal turun ke sejumlah lokasi tempat lokasi WC itu dibangun.
Fantastis memang. Anggaran untuk pembangunan WC lebih mahal dari harga sebuah rumah subsidi tipe 21 yang harganya sekitar Rp 150 juta.
Menggelitik juga untuk mencari tahu. Dari informasi sana sini, konon terkait pembangunan WC di ratusan lokasi yang anggaran keseluruhan mencapai Rp 90 Milyar itu, pernah ‘tarik ulur’ ketika dianggarkan di 2019.
Sedianya, tahun ini sasaran lokasi pembangunan WC tersebut adalah perkampungan kumuh, sehingga menjadi MCK Umum. Namun karena bangunan WC itu akan dihibahkan, tentunya harus ada ‘ penyerahan’ ke pemda terhadap lokasi yang akan dibangun WC atau MCK tersebut.
Pemda rupanya kesulitan atas status tanah yang di atasnya akan dibangun WC. Apalagi jumlahnya sampai ratusan. Maka singkat cerita, rencana pembangunan WC di 2019 itu batal dilaksanakan.
Di satu sisi, Bupati Bekasi H Eka Supria Atmaja yang tengah punya program ‘Bekasi Dua Kali Tambah Baik’ menggulirkan kembali pembangunan WC di 2020. Namun supaya dapat status tanah yang jelas, dipilih lokasi di SD dan SMP.
Memang menjadi pertanyaan banyak orang, ilok bangunan WC yang ukurannya cuma sekitar 2×2 itu anggarannya sampai Rp 200 juta per-unit? Ada hampir 500 unit yang dibangun hingga nilainya sekitar Rp 90 Milyar.
Informasi nih, pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi tidak pernah mengusulkan pembangunan WC tersebut. Lantas, ketika WC akan diserahterimakan, beranikah kepala sekolah menerimanya? Sebagai penerima barang, para kepala dimungkinkan sangat was-was menerimanya. Kenapa? Karena jika kemudian menjadi masalah, pastinya para kepala sekolah ikut repot , ikut ‘ketiban pulung’.
Soal WC fenomenal ini akhirnya menjadi bargaining politik para guru honor ke Pemda Bekasi . Tuntutannya minta honor mereka dinaikkan menjadi Rp 2,8 Juta. Kalau tidak, kasus WC ini akan mereka bawa ke KPK.
Nah, runyam kan? ( agus suzana)







Komentar