oleh

Setiap Hari Berada dalam Kebaikan (Merenungi Surat Al-Ashr)

Oleh : H. Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si

DEMI masa. Sesungguhnya manusia itu adalah dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berpesan dalam kebenaran dan berpesan-pesan dalam kesabaran. (QS. Al-Ashr: 1-3).

Setiap orang umumnya senang ketika merayakan hari ulang tahunnya. Bahagia dan senang karena usianya bertambah. Padahal seiring bertambahnya usia secara bilangan, saat itu pula berkurang usia kita secara pasti. Pepatah mengatakan hidup ini bagaikan garis lurus tak pernah kembali ke masa yang lalu. Hidup bukan bulatan bola yang tiada ujung dan tiada pangkal.

Hidup ini melangkah terus semakin mendekat ke titik terakhir. Setiap langkah hilangkan jatah menikmati hidup untuk menikmati dunia.

Pada saat yang lain Allah berfirman:” sesungguhnya diciptakan manusia itu berada dalam susah payah.” (QS Al-Balad: 4). Inilah kenyataan hidup di dunia bagi manusia yang tidak akan terlepas dari susah-payah. Susah payah merupakan bagian dari hidup manusia. Berkata al-Yaman: “Tak ada Allah menciptakan makhluk yang lebih banyak susah-payah dalam hidup ini melebihi Anak Adam, padahal dia makhluk yang paling lemah pula.

Buya Hamka dalam Tafsr Al-Azharnya menggambarkan kepayahan manusia: “fikirkanlah, sejak dari dalam rahim ibu kepayahan itu sudah dimulai. Membalik-balikkan badan mencari jalan keluar sampai kepada tersumbur dari pintu. Setelah lahir dengan kepayahan, yang mula terdengar adalah tangisan karena tak kuat dengan dingin awal permulaan bertemu dengan udara luas, setelah berbulan lamanya merasa panas badan dalam rahim ibu. Setelah itu mulailah pusat dikerat, lalu menangis kesakitan. Mulailah mengerak-gerakkan tangan dan kaki; mulai menangis meminta susu, menangis kedinginan karena telah basah oleh kencing, menangis karena telah buang air besar, menangis minta digendong, minta dibawa. Berangsur badan besar, berangsur besar kepayahannya.

Setelah itu ibu bapak memandang telah kuat mulailah merasakan sakit dikhitan. Setelah dikhitan mulailah bersekolah. Sejak dari kelas satu sekolah rendah sampai sekolah tinggi bertemu kesusahan menghafal, kepayahan mengulang pelajaran, ketakutan pada angka ‘merah’. kalau maju sekolah, orang tua susah dan melarat, susah payah mencari akal bagaimana melanjutkan sekolah. Setelah tamat sekolah tinggi, menggondol titel dan gelar sarjana hukum, insinyur, doktorandus timbul lagi kesusahpayahan mencari pekerjaan. Kemudian setelah sampai berumahtangga timbul lagi kesusahan menafkahi istri, kemudian mendidik anak, timbul lagi kesusahpayahan lantaran usia sudah berusia lanjut.

Setelah istri dan anak berdiri berkeliling, timbul lagi kesusahan menyediakan rumah yang layak tempat tinggal atau kediaman, kendaraan yang layak untuk transportasi, timbul lagi kesusah-payahan memperjodohkan anak-anak. Perempuan supaya bersuami, laki-laki supaya beristri.

Setelah semuanya itu selesai, rumah sudah ada, anak-anak sudah kawin, yang laki-laki telah keluar bersama istrinya, yang perempuan telah keluar dibawa suaminya, tinggallah seorang telah tua dalam kesepian di tinggal anak-cucu. Setelah datang usia tua, segala penat, payah, lelah mulailah terasa. Kaki mulai penat, tangan mulai pegal, mata mulai kabur, gigi mulai goyah dan gugur, uban mulai bertabur, telinga mulai pekak, kepala mulai sakit-sakitan, dan akhirnya ditutup semua dengan kematian.

Oleh sebab itu kepayahan dan kesusahan memang bagian dari hidup yang diciptakan Tuhan untuk kita. Sehingga walaupun pekerjaan baik atau buruk semuanya meminta kepayahan.

Demikianlah realitas kehidupan manusia yang akan selalu bersusah-payah dalam hidup untuk memenuhi segala keinginan dan cita-cita. Susah-payahnya manusia di dalam hidup belum ditambah kenyataan bahwa manusia itu juga merupakan makhluk yang lemah, sebagaimana Firman Allah swt: “Dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS An Nisa: 28). Karena banyak terdapat kelemahan dalam diri manusia menyebabkan tidak semua keinginan dan cita-cita menusia akan tercapai.

Jika demikian gambaran hidup dengan segala problematikanya maka manusia sesungguhnya berada dalam kerugian besar, karena kesenangan yang dicari, kebahagiaan, kesejahteraan yang dinikmati hanya sesaat setelahnya kembali berkutat dengan kesusah-payahan sampai maut

menjembut.

Manusia Selalu Berada dalam Kerugian

Al-Quran menawarkan kepada manusia agar dalam hidup jangan terjebak kepada kerugian dan segala susah payah dalam hidup jadi bernilai dan dengan demikian justru akan membawa kepada kebahagiaan hidup. Tawaran Al-Quran itu terdapat dalam Surat Al-Ashr.

Ayat pertama surat Al_ashr dimulai dengan kalimat “Demi Masa.” Allah bersumpah dengan masa agar manusia memperhatikan masa dan memanfaatkannya dengan baik. Bersumpah dengan waktu sore sebagaimana dengan waktu dhuha sebagai bukti kuasa Allah swt. Masa adalah waktu-waktu yang kita lalui dalam hidup kita, zaman demi zaman, masa demi masa, masa yang telah berlalu, masa kini dan masa yang akan datang terus senatiasa berputar dan kita melaluinya dengan suka dan duka, naik-turun, masa muda-tua, ada waktunya hidup dan akan pula ada saatnya mati. Itulah masa dan waktu yang jika tidak dimanfaatkan dengan baik sesuai petunjuk Allah swt niscaya manusia akan berada dalam kerugian.

Empat Hal yang Membawa Keuntungan Dunia Akhirat

Surat Al Ashr ini mengajarkan ada empat hal yang menjamin manusia bahwa kehidupan yang dijalani tidak akan mengalami kerugian, melainkan justru keuntungan.

Pertama, adalah menjadi orang yang beriman kepada Allah swt. Orang-orang yang beriman adalah orang yang percaya bahwa hidup ini adalah atas kehendak Allah swt Tuhan Yang telah menciptakan alam semesta. Manusia ditakdirkan datang di dunia ini hanyalah sementara waktu, tidak kekal abadi. Iman menyebabkan manusia insaf dari mana datangnya dia, mau apa dan akan ke mana.

Kehidupan adalah dari Allah swt asalnya, hidup di dunia ini untuk mengabdi kepada-Nya dan juga berbuat baik kepada sesama manusia. Iman juga mengajarkan bahwa akan ada kehidupan lagi sesudah di dunia ini. Itulah hidup yang sebenarnya. Dengan Iman manusia akan termotivasi untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya meskipun menghadapi susah-payah dan perjuangan tanpa henti. Dengan iman manusia tidak akan bertindak sembrono, ‘semau gue’ tanpa arah dan tujuan yang jelas, karena segala tindak-tanduknya dalam monitor Sang Pencipta yang selalu mengawasi setiap-saatnya, dan dengan iman manusia memiliki cita-cita yang jauh ke depan, tidak hanya bahagia di dunia melainkan juga di akhirat kelak.

Kedua, agar terbebas dari kerugian manusia harus melakukan amal saleh. Beramal saleh adalah bekerja dengan baik dan berfaedah bagi diri dan sesama manusia di sekelilingnya. Bagi orang beriman hidup dan mati itu suatu kenyataan karena itu harus diisi amal saleh. Melakukan amal saleh akan terpuji di dunia ini dan yang buruk sudah pasti merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Jika beramal saleh di dunia maka ketika kita sudah mati pun amal saleh itu akan tetap sepanjang masa di dunia.

Lihatlah orang-orang baik di dunia ini, para Nabi, para Rasul, para ulama, orang-orang saleh, meskipun diri mereka telah tiada namun amal salehnya tetap terkenang dan terus memberi manfaat bagi manusia. Bahkan orang-orang tersebut kenangan amal salehnya lebih panjang daripada umur mereka sendiri. Sebagai mukmin kita percaya segala amal saleh yang kita tinggalkan itulah kekayaan yang akan kita hadapkan kehadapan hadirat ilahi. Sebab itu tidak akan merugi masa hidup yang kita jalani yang bertaburan dengan amal saleh.

Ketiga, saling berpesan dengan kebenaran. Betapa indah jika hidup bermasyarakat dapat saling asah, saling asih dan saling asuh. Telah dikatakan bahwa manusia banyak sekali kelemahan disamping juga memiliki kelebihan. Saling berbagi dalam kelebihan dan saling menutupi dalam kekurangan. Dengan demikian bahagialah hidup dengan bermasyarakat. Sedangkan hidup yang individualis, hanya mementingkan diri sendiri, nafsi-nafsi akan membawa kerugian. Maka agama lebih dari itu mengajarkan agar sharing nasihat tentang kebenaran, saling mengingatkan dalam kebenaran, bukan dalam kebatilan. Kenapa? Karena dengan saling menasehati dalam kebenaran menyebabkan kebenaran itu tetap dijunjung tinggi manusia.

Alangkah beruntungnya mereka yang hidup dengan penuh saling mengingatkan dalam kebenaran. Sebuah contoh masyakarat yang sehat.

Keempat, agar tidak mengalami kerugian dalam hidup adalah saling menasihati dalam kesabaran. Hidup di dunia bukanlah ‘jalan datar’ melainkan pasti akan menemui jalan menurun, menanjak, jalan terjal yang juga terdapat lubang di permukaannya. Karena itu tidaklah cukup hanya saling berpesan dalam kebenaran, melainkan juga saling berpesan dalam kesabaran menjalani hidup. Banyak mereka yang tidak sabar dalam hidup sehingga menempuh jalan pintas yang dilarang agama dan sudah pasti merugikan diri sendiri. Ada yang berbuat kriminal, bunuh diri, dan yang tidak kuat pun akan depresi yang berujung menjadi ODGJ alias orang dengan gangguan kejiwaan. Dengan saling berpesan dalam kesabaran, dapat mencegah itu semua. Nasihat, motivasi untuk saling menguatkan dalam menjalani hidup adalah sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang damai, harmonis dan terhindar dari kebinasaan.

Kesempurnaan Hidup adalah Cita-Cita Bersama

al Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan, jika keempat syarat dalam surat Al-Ashr ini diamalkan dengan baik tercapailah tujuan hidup menuju kesempurnaan hidup. Langkah pertama dalam hidup diawali dengan mengetahui kebenaran melalui iman yang menempel di setiap jiwa manusia. Kedua, mengamalkan kebenaran itu. Ketiga mengajarkannya kepada orang yang belum pandai memakainya. Keempat, sabar dalam menyesuaikan diri dengan kebenaran dan mengamalkan dan mengajarkannya.

Demikian pentingnya pengamalan surat AlAshr ini, dalam hadits Imam Thabrani diterangkan bahwa ada dua orang sahabat Nabi saw yang jika bertemu mereka tidak akan berpisah melainkan salah satu dari mereka berdua membaca Surat Al Ashr terlebih dahulu, lantas mengucapkan salam. Begitu pula di sekolah-sekolah madrasah, di pesantern jika di akhir pelajaran sebelum selesai, pasti beramai-ramai akan membaca surat Al Ashr ini sebagai tanda betapa pentingnya pesan-pesan ayat-ayatnya bagi kehidupan di dunia dan akhirat nanti.

Semoga Allah swt memberi kemudahan dan hidayah untuk mengamalkannya. Aamiin yaa Robbal Aalamiin. (ta)

*Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *