Oleh : Karsidi Diningrat
AGAMA, religi, dan din pada umumnya merupakan suatu sistema credo ‘tata keimanan’ atau ‘tata keyakinan’ atas adanya sesuatu Yang Mutlak di luar manusia. Selain itu, ia juga merupakan suatu sistema ritus ‘tata peribadatan’ manusia kepada sesuatu yang dianggap Yang Mutlak, juga sebagai sistema norma ‘tata kaidah’ yang mengatur hubungan antara manusia dan manusia serta antara manusia dan alam lainnya sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadahan itu.
Menurut Al-Qur’an, agama Yahudi dan Nashrani—seperti yang kita lihat saat ini—bukan lagi agama murni samawi karena yang satu merupakan penyimpangan dari agama asli Nabi Musa as. Dan yang lainnya merupakan penyimpangan dari agama asli Nabi Isa as, hal ini disebabkan beberapa pengingkaran dan penyimpangan dari agama aslinya.
Menurut Said bin Ali Al-Qahthani, “bahwa kaum Yahudi dan Nashrani membenarkan bahwa Taurat di sepanjang kekuasaan Bani Israil berada di tangan seorang dukun terkenal bernama Al-Haruni. Mereka mengakui bahwa sebanyak 70 dukun telah berkumpul dan bersepakat untuk menggantikan 13 kata dari sebagian isi Taurat. Hal ini terjadi pada kurun sesudah Al-Masih, yakni pada masa para kaisar yang menindas mereka. Dengan demikian, jika mereka telah berani untuk menggantikan satu tempat saja dari kitab Allah, maka tidak diragukan lagi bahwa mereka pasti berani pula untuk mengganti yang lainnya.”
“Kaum Yahudi mengakui bahwa As-Samirah telah menukar sebagian isi Taurat dan menggantinya dengan bagian lain secara terang-terangan. Ia telah menambahkan atau menguranginya. As Samirah sendiri telah mengakui bahwa kitab yang ada di tangan orang-orang Yahudi sekarang sudah mengalami perubahan dan pergantian.”
Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. untuk disampaikan kepada mereka tidak lain merupakan penyempurna dari kitab-kitab asli mereka. Penukaran, pergantian, dan perubahan tersebut telah didokumentasikan, ditetapkan, dan disampaikan kepada Ahli Kitab.
Dari perubahan dan pergantian tersebut, ada lima hal yang dapat diketahui tentang perbuatan Bani Israil.
Menyembunyikan Hukum-Hukum
Para Ahli Kitab telah menyembunyikan hukum-hukum yang ada dalam Taurat, di samping hal-hal lain yang juga mereka sembunyikan sesuatu yang sebenarnya, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “Wahai Ahli Kitab! Sungguh Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan.” (QS. Al-Ma’idah, 5:15).
Di antara hukum-hukum yang mereka sembunyikan adalah hukum rajam bagi orang yang berzina. Nabi pernah didatangi orang-orang Yahudi yang membawa pasangan laki-laki dan perempuan yang berzina. Nabi bertanya kepada orang-orang Yahudi, “Jika di antara orang Yahudi berzina, apa yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Kami pukul dan kami siram dengan air”. Nabi bertanya lagi, “Tidak adakah hukum rajam dalam Taurat?” Jawab mereka, “Tidak ada.” Mendengar ini, Abdullah bin Salam (seorang Yahudi yang kemudian masuk Islam) berkata, “Bohong kalian. Kalau kalian memang benar, ambillah Taurat dan bacalah.” Maka dipanggillah seorang guru dari orang-orang Yahudi untuk mencari hukum rajam dalam Taurat. Guru tadi membacakannya sambil menutup Taurat dengan tangannya. Ketika menemui ayat yang menerangkan masalah rajam, ia melewatkannya. Melihat kelakukan ini, Abdullah bin Salam berkata kepada guru tersebut, “Angkat tanganmu, dan ini apa?” Orang-orang Yahudi melihat ayat itu dan mereka mengatakan, “Ini ayat tentang hukum rajam.” Lalu Rasulullah memerintahkan agar kedua orang yang berzina itu dihukum rajam.’ (HR. Bukhari).
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian Kitab (Taurat)? Mereka diajak (berpegang) pada Kitab Allah untuk memutuskan (perkara) diantara mereka. Kemudian sebagian dari mereka berpaling seraya menolak (kebenaran).” (QS. Ali Imran, 3: 23).
Allah Swt. telah menggambarkan para Ahli Kitab yang berpegang teguh kepada Taurat dan Injil yang sudah diubah yang berisikan kebohongan dan memutarbalikan. Jika mereka diperintahkan untuk mengikuti hukum Allah dengan mengikuti Nabi Muhammad Saw. mereka menolak. Inilah bukti keingkaran mereka terhadap apa yang datang dari Allah.
Menyembunyikan Kebenaran
Tidak diragukan lagi bahwa Allah Mahabenar. Tidak ada firman-Nya kecuali kebenaran-Nya, dan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s merupakan kebenaran, karena kitab ini pun firman-Nya. Namun, Bani Israil telah menyembunyikan kebenaran tersebut dengan tujuan menghianati kitab Allah demi kepentingan hawa nafsu mereka. Ayat-ayat yang dianggap penting bagi mereka, mereka tampakkan, sedangkan ayat-ayat yang tidak penting menurut mereka, mereka sembunyikan. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mencampuradukan kebenaran dengan kebatilan, dan kamu menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.” (QS. Ali Imran, 3: 71).
Masalah terbesar yang mereka sembunyikan adalah apa yang mereka temukan dalam kitab mereka tentang sifat-sifat Nabi Muhammad Saw. dan kedudukannya sebagai Rasul Allah untuk semua manusia. Sebenarnya mereka mengetahui tentang kerasulan Nabi Muhammad saw, tapi bila mereka ditanya tentang ini, mereka menyembunyikannya.
Dalam hal ini Allah Swt. berfirman, “Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah, 2: 146).
Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw. dalam kitab Taurat dan Injil, sebagaimana firman-Nya, “… Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka mengerjakan yang munkar; dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik, dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban serta belenggu yang ada pada mereka …” (QS. Al-A’raf, 156-157).
Sifat-sifat yang agung dari kenabian Rasulullah Saw. yang tertulis dalam kitab mereka, mereka ingkari. Jadi, mereka telah menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya mereka ketahui.
Mencampur Kebenaran dengan Kebatilan
Bani Israil telah mencampur kebenaran dengan kebatilan sehingga tidak ada perbedaan lagi antara keduanya. Al-Qur’an telah memberitahukan hal itu seperti yang difirmankan Allah, “Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut (tunduk). Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertaqwa. Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil …” (QS. Al-Baqarah, 2: 40-42).
Memutarbalikkan Kata
Di antara perubahan yang dilakukan orang-orang Yahudi terhadap Taurat adalah memutarbalikkan kata, yang tujuannya untuk mengecoh orang lain ketika membacakan firman Allah tersebut. Dengan demikian, makna dari ayat tersebut bisa menyimpang dari yang sebenarnya. Kemudian dengan seenaknya mereka mengganti kata-kata tersebut.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutarbalikkan lidahnya membaca Al-Kitab, agar kamu menyangka (yang mereka baca) itu sebagian dari Al-Kitab, padahal itu bukan dari Al-Kitab dan mereka berkata, “itu dari Allah,” padahal itu bukan dari Allah. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran, 3: 78).
Dalam firman-Nya yang lain disebutkan, “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata. ‘Kami mendengar’, tapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula). ‘Dengarlah’, sedangkan kamu sebenarnya tidak mendengarkan apa-apa. Dan (mereka mengatakan), ‘raa’ina’, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami’, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat. Namun, Allah mengutuk mereka karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa, 4: 46).
Mengubah Kalimat
Allah Swt. menetapkan atas Ahli Kitab bentuk perubahan ini, sebagaimana Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dan tempat-tempatnya …” (QS. An-Nisa, 4: 46). “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya. Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya …” (QS. Al-Maidah, 5: 13).
Dalam ayat lain Allah Swt. menjelaskan, “… (orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya …” (QS. Al-Maidah, 5: 41).
Said bin Ali Al-Qahthani mengatakan bahwa “bentuk perubahan tersebut ada empat macam: 1. Perubahan-pergantian, yaitu mengganti satu kalimat dengan kalimat lain atau satu kata dengan kata; 2. Perubahan-penambahan, yaitu menambah satu kalimat atau kata. 3. Perubahan-pengurangan, yaitu menghilangkan satu kalimat atau kata dari kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. 4. Perubahan arti, yaitu menambah arti. Maksudnya, kalimat atau kata tersebut tetap tidak ada perubahan, tapi artinya menjadi ganda. Kemudian memilih mana arti yang cocok untuk kepentingan mereka.”
Ayat-ayat di atas merupakan pembuktian adanya perubahan dan pergantian pada isi Kitab Taurat. Seandainya mereka beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan kepada Rasul-rasul-Nya, pasti Allah akan mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga.
Dalam hal ini Allah telah berfirman, “Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat. Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat. Dan banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Ma’idah, 5: 65-66). Dan dalam ayat lain disebutkan, “… dan sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali Imran, 3: 110).
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali Imran, 3: 113-114). Wallahu a’lam bish-shawwab. (*/fs)
-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah







Komentar