oleh

Pohon, Gunung, Matahari dan Bulan Pernah Dipuja

POSKOTA.CO – Sinai itu gunung batu. Tidak ada tumbuhan apalagi hutan. Gunung di negeri kita sebetulnya tanah.
Ada banyak tumbuhan bahkan menjadi kawasan hutan lindung. Jika dikatakan gunung Sinai gemetar, berarti batu yang tidak punya nyawa, yang tidak punya kehidupan pun gemetar.

Dalam sejarah agama-agama, pohon, gunung matahari, dan bulan pernah dipuja, ditakuti, dan dihormati sebagai dewa.
Bahkan sampai sekarang pun masih ada hal-hal tersebut di daerah-daerah tertentu. Tetapi ketika Tuhan Allah menyatakan diri, semuanya gemetar. Semua yang ditakuti manusia, ternyata takut kepada Tuhan.

Umat Tuhan menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, bahkan mereka tahu, bahwa dewa-dewa para mantan tuan-tuan mereka di Mesir sebetulnya tidak ada artinya dibandingkan dengan kedahsyatan kuasa Tuhan Allah.

Segalanya adalah ciptaan dan hanya Tuhan Allah sajalah sang pencipta tunggal. Ciptaan yang sesungguhnya memberhalakan.
“Semuanya mengalami krisis apabila Tuhan Allah menyatakan diri dan kuasaNya. Itulah Epifani,”kata Pendeta Sherlie Petonengan S.Th.

Bagi Pendeta yang melayani di GPIB Zebaoth Bogor ini, hari Epifani yang dalam bahasa Yunani, epiphaneia atau manifestasi, penampakan yang jelas serta pernyataan dalam bahasa Indonesia ini selalu jatuh pada tanggal 6 Januari setiap tahun.

Hal ini di maksud, agar manusia mensyukuri awal penampakan atau penyataan Allah dalam diri Yesus Kristus.
Ada tradisi Epiphani yang mengacu pada hari kedatangan para majus. Namun sebenarnya Epifani lebih mengacu pada baptisan Yesus, atau pada mujizat pertama di Kana yang dicatat sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya.

Tuhan telah menyatakan kemuliaannya yang dalam bahasa Yunani disebut ephanerosen ini termaktub dalam kitab Yohanes 2:21.
Epifani mensyukuri Yesus yang memanifestasikan Allah atau lebih tepat lagi mensyukuri Allah yang memanifestasikan diri dalam pribadi dan pekerjaan Yesus.

Oleh sebab itu Epifani juga disebut Teofani atau penyataan Allah yang juga merupakan penampakan Tuhan Allah.
Pendeta Sherlie menguraikan, sering dalam lingkup kerja, pergaulan atau juga dalam keluarga, kita mengalami proses pemberhalaan.

Ada yang memberhalakan materi, ada yang memberhalakan tehknologi, prestasi atau prestise. Tapi yang hebatnya ada yang memberhalakan kekuasaan. Siapa yang memegang kuasa dia merasa pantas untuk memaksa orang menghormati dirinya sebagai paduka yang dipertuan agung yang mulia. “Manusia menjadi gila hormat dan memberhalakan dirinya sendiri,”tegasnya.

“Kalau kita merasa menjadi korban paksaan pemberhalaan atau pernah menjadi korban pemberhalaan, ingatlah akan Epifani. Tuhan menyatakan atau menampakan diri, untuk melawan semua yang tinggi diri,”katanya lagi. Bagi Pendeta Sherlie, kesombongan selalu berjalan lebih dahulu dari kejatuhan yang menghancurkan.
Oleh karena itu jangan pernah dan senang memberhalakan diri.

“Saya jadi teringat pada sebaris lagu sebuah pujian yang berbunyi, semuanya akan binasa, batu demi batu tetapi kerajaan Tuhan dan tahta Tuhan tidak akan binasa,” demikian kata Pendeta Sherlie sambil mengajak semua umat manusia untuk selalu mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut.

Ibrani 12:28 dan Mazmur 102:1-28 memberi pemahaman bagi kita, untuk memiliki cara pandang yang benar terhadap hal-hal yang sementara dan kekal. “Jangan pernah merasa rugi dan tetaplah rendah hati. Karena Tuhan mencintai orang yang rendah hatinya,”pesan Pendeta Shelie. (yopi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *