Oleh : Karsidi Diningrat
ALLAH subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra) namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Ali Imran, 3: 45).
HAMKA menjelaskan tentang ayat di atas, “Maka Malaikat Jibrilpun datanglah kepada Maryam menyampaikan bahwa Kalimat Allah itupun akan berlaku atas diri Maryam. Tuhan akan mengatakan ‘KUN’ pula, sehingga akan mengandunglah dia seorang anak, tidak dengan perantaraan disetubuhi laki-laki. Namanya Almasih Isa anak Maryam, yaitu akan sama kedudukan beliau dengan Nabi-nabi dan Rasul yang lain, sama-sama mulia kedudukannya di sisi Allah baik di dunia maupun di akhirat, dan termasuk orang-orang Muqarrabin, yaitu mereka-mereka yang dianggap dekat kepada Tuhan.”
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Ali Imran, 3: 59-60).
Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Ia diciptakan melalui firman-Nya (kun) dan ruh-Nya yang ditiupkan kepada Maryam. Dengan demikian, Isa adalah makhluk Allah. Dalam hal mencipta, Allah relah membuat bermacam-macam proses penciptaan. Hal ini dapat dijadikan bukti kekuasaan-Nya. Allah telah menciptakan Adam a.s. sebagai manusia tanpa ayah-ibu. Kemudian Ia menciptakan Hawa, isteri Adam, sebagai manusia tanpa ibu. Dalam hal ini Allah berfirman, “… dan daripadanya Allah menciptakan isterinya …” (QS. An-Nisaa’, 4: 1).
Isa Diciptakan Allah Manusia Tanpa Ayah
Allah menciptakan Isa a.s. sebagai manusia tanpa ayah. Jadi, Isa a.s. bukan satu-satunya contoh penciptaan Allah yang luar biasa. Bahkan, penciptaan Adam dan Hawa jauh lebih menakjubkan dibandingkan penciptaan Isa. Baik Adam maupun Hawa diciptakan tidak melalui proses kehamilan, sedangkan Isa masih tetap melalui proses kehamilan. Renungkan, bagaimana kuasanya Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam, dan Adam dari tanah!
Jika Allah kuasa menciptakan manusia dari tanah, sedangkan tanah bukan dari jenis anggota badan manusia, maka tentu Ia lebih kuasa lagi menciptakan makhluk (manusia) yang berasal dari anggota badan. Allah menciptakan Adam dari tanah dengan firman-Nya “kun” (jadilah). Setelah ditiupkan ruh kepada Adam, lalu terciptalah Adam. Begitupun dengan Al Masih, sebagaimana kepada Adam, Allah berfirman dengan “kun”, maka terciptalah Al-Masih.
Setelah ruh itu ditiupkan kepada Adam, maka jadilah Adam sebagai manusia. Begitu juga Al Masih, setelah ruh ditiupkan kepadanya, maka jadilah ia sebagai manusia biasa seperti halnya Adam.
Allah kepada Rasul-Nya (Muhammad saw.) telah memerintahkan untuk menjelaskan kedudukan Isa yang sebenarnya, yakni sebagai hamba Allah dan utusan-Nya. Hal ini Allah berfirman, “Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita ber-mubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran, 3: 61).
Rasulullah saw. telah menyampaikan perintah Allah guna meluruskan pandangan manusia yang menganggap Isa sama dengan Tuhan. Namun, kaum Nashrani, menentangnya sehingga datanglah laknat dari Allah. Akhirnya, mereka kalah dan siap untuk membayar jizyah.
Allah menjelaskan bahwa Isa tidak lebih hanya sebagai hamba dan utusan-Nya. Barangsiapa yang menentang dan ingkar terhadap apa yang diturunkan Allah sehingga enggan untuk masuk Islam – sebagaimana orang-orang Nashrani – maka ia termasuk orang-orang dzalim.
Allah Tempatkan Isa pada Proporsi yang Sebenarnya
Allah menempatkan kedudukan Isa pada proporsi sebenarnya dan menyifati Isa dengan sifat yang semestinya. Begitu pula terhadap ibunya (Maryam) Allah telah menyifati sebagaimana mestinya. Allah menyangkal segala bentuk penyerupaan serta menetapkan atas kemanusiaan Isa dan ibunya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan ceriterakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis).” (QS. Maryam, 19: 16).
Dalam ayat lain disebutkan, “Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam, 19: 29-32).
HAMKA mengatakan, “keshalehan Nabi Isa, tawadhunya dan tunduknya kepada Tuhan Allah adalah terkenal dari antara Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Sehingga ahli-ahli tasawuf Islam, terutama Imam Ghazali di dalam Kitab Ihya’ Ulumiddinpun banyak mengambil perumpamaan tentang zuhud kepada diri Nabi Isa Almasih.”
Masih dalam surat Maryam, Allah berfirman, “Itulah Isa putra Maryam (yang mengatakan) perkataan yang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Maryam, 19: 34-35).
Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Sebagaimana manusia, ia disifati Allah dengan sifat-sifat kemanusiaan, seperti makan, minum, dan sebagainya, sebagaimana Allah berfirman, “Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan …” (QS. Maryam, 19: 75).
Isa Adalah Hamba Allah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menjanjikan surga kepada siapa yang bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa firman Allah dan ruh yang dikirim kepada Maryam berasal dari-Nya. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad hamba dan rasul-Nya dan bahwa Isa hamba dan rasul-Nya, serta bersaksi bahwa Isa dicipta dengan firman-Nya yang disampaikannya kepada Maryam, dan surga neraka itu benar adanya, maka kelak Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai amalnya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah Saw. memperingatkan umatnya untuk tidak berlebihan dalam mengagungkan dirinya. Sebab, hal semacam inilah yang menyebabkan Isa bin Maryam dijadikan Tuhan.
Beberapa argumentasi di atas berikut dalil-dalil aqli maupun naqli merupakan penjelasan yang memperkuat pandangan bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Adapun firman dan ruh yang disampaikan kepada Maryam itu berasal dari Allah. Karena itu, barangsiapa yang menyifati Isa selain dari sifat ini atau dengan sifat-sifat yang belum pernah diberikan Allah kepadanya yang menciptakannya, berarti dzalim dan di luar kategori orang-orang berakal.
Dalam ayat lain disebutkan, “Al-Masih sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, dan begitu pula para Malaikat yang terdekat (kepada Allah). Dan barangsiapa yang enggan menyebah-Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.” (QS. An-Nisa, 4: 172).
Dan juga dalam ayat lain disebutkan, “Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberikan kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya. Dan (tidak mungkin baginya) menyuruh kamu menjadikan para Malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi muslim?” (QS. Ali Imran, 3: 79-80).
Isa Berkata “Aku Utusan Allah”
Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. As-Saff, 61: 6).
HAMKA mengatakan, “bahwa menurut kepercayaan Bani Israil, setelah raja-raja mereka yang besar-besar sebagai Daud dan Sulaiman mangkat, satu kali akan datang lagi Almasih Raja Besar mereka, yang akan mendirikan Kerajaan Israil kembali. Setelah beberapa lama kemudian, diutus Tuhanlah Nabi Isa anak Maryam Alaihis Salam, beliau memakai gelar Almasih, yang berarti raja itu. Maksudnya ialah raja untuk memperbaiki jiwa yang telah rusak. Sedikit golongan yang percaya akan seruannya. Tetapi Imam-imam Yahudi sendiri tidak mau percaya sebab mengganggu kedudukan mereka yang telah kokoh dalam masyarakat. Sampai Nabi Isa mereka difitnahkan kepada penguasa Kerajaan Romawi yang menguasai Jerusalem waktu itu, supaya Nabi Isa dibunuh saja. Oleh sebab itu sampai saat inipun orang Yahudi masih menunggu kedatangan Masyikha lain, sebab menurut mereka, dia belum juga datang. Sedang menurut Nashrani, Isa itulah dia raja itu, putra Daud yang menjanjikan Kerajaan Allah yang di Surga.” Wallahu a’lam bish-shawwab. (*/fs)
-Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah






Komentar