POSKOTA.CO-Peristiwa Isra yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an Suroh Al-Isra’ Ayat pertama berimplikasi kepada wajibnya mengimani peristiwa tersebut lengkap dengan mi’raj dan berbagai peristiwa didalamnya. Terlepas dari berbagai perbedaan pendapat misalnya apakah dalam peristiwa tersebut hanya ruh Rasulullah saja yang mengalami ataukah bersama dengan jasad beliau juga, kewajiban bagi seorang mukmin adalah mengimani peristiwa besar tersebut. Sudah menjadi jamak dalam pemahaman kita, bahwa tidak ada kesia-siaan dalam suatu hal atau peristiwa yang diciptakan oleh Allah, terlebih peristiwa besar isra’ mi’raj ini.
Salah satu dari ketidak sia-siaan peristiwa besar tersebut adalah kenyataan bahwa dianya yang walaupun mutlak atas kehendak Allah, namun belakangan analisa ilmu pengetahuan mampu menangkap berbagai fakta didalamnya. Seorang pegiat tasawuf modern bernama Agus Mustofa, dalam salah satu bukunya berjudul “Terpesona di Sidratul Muntaha” mencoba untuk menafsirkan ayat yang membahas ihwal peristiwa tersebut dengan pendekatan sains. Persoalan yang coba digali adalah perjalanan panjang tersebut yang hanya ditempuh dalam satu malam.
Kita ketahui bahwa informasi dari Al-qur’an berkaitan dengan transportasi yang digunakan oleh Rasulullah dalam peristiwa tersebut yaitu menggunakan buraq atau barqun yang berarti cahaya. Dan dalam tinjauan ilmiah sangat mustahil bobot badan materi Rasulullah mampu bersesuaian dengan kecepatan cahaya, maka dalam kacamata ilmu pengetahuan, jika yang melakukan perjalanan menggunakan buraq tersebut adalah fisik materi Rasulullah, maka konsekuensi logisnya adalah fisik materi tersebut pastinya akan hancur lebur jika harus menyesuaikan diri dengan kecepatan cahaya.
Dalam bukunya tersebut Agus Mustofa mencoba menggunakan suatu teori yang disebut teori “annihiliasi” sebagai pisau analisa, dimana teori tersebut menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu berat massa pada materi fisik dapat diubah menjadi cahaya yang sangat minim bobot berat massanya, dan ditegaskan bahwa makhluk yang ditunjuk langsung oleh tuhan untuk mengoperasi fisik materi Muhammad menjadi cahaya adalah Jibril yang kita ketahui bersama merupakan makhluk cahaya, sehingga proses annihiliasi tersebut pastinya sangat mudah dilaksanakan.
Faktanya, tidak hanya Agus Musthofa yang berusaha merasionalisasikan peristiwi Isra Miraj tersebut. Ada banyak ilmuwan baik Muslim maupun non Muslim yang berusaha memahami dan memahamkan peristiwa ilahiyah tersebut dengan pendekatan ilmiah dan tentunya, walaupun penjelasan-penjelasan tersebut mampu memahamkan kita, namun sejatinya proses maha dahsyat tersebut tidaklah sesederhana sebagaimana penjelasan Agus Musthofa dan para ilmuwan tersebut.
Penjelasan para ilmuwan tentang Isra Miraj semuanya sebatas pendekatan yang bersifat spekulatif. Sekali lagi, kita percaya kepada Allah, dan kita membenarkan terjadinya Isra’ dan Mi’raj itu dengan sepenuh hati. Justru yang menjadi sangat menarik dan penting untuk kita coba selami adalah nilai-nilai spirit yang ada pada peristiwa tersebut yang dapat kita jadikan pegangan dalam hidup terutama dalam mengkontekstualisasikan peristiwa ilahiyah tersebut dengan kondisi bangsa kita, Indonesia. Apakah bangsa kita ini yang merupakan mayoritas muslim terbesar di dunia telah mampu untuk mewarisi “api” dari spirit isra’ mi’raj tersebut, ataukah kita hanya mewarisi “abu” dari peristiwa penting tersebut sehingga setiap tahunnya kita hanya mampu merayakannya secara seremonial tanpa mengejewantahkan nilai moril dari peristiwa tersebut dalam ikhtiar kita merestorasi peradaban bangsa kita?
Bila kita tarik kebelakang, peristiwa Isra Miraj ini diawali dengan pembersihan qalbu Rasulullah. Hanya dengan qalbu yang bersih, Rasulullah SAW entah ruh dan jasad beliau atau hanya sekadar ruh beliau saja, mampu menembus perjalanan dimensi batas akhir daya kuasa manusia. Hal ini menjadi sangat menarik bila kita hubungkan dengan teori fluktuasi quantum dimana batas kekuatan alam semesta ini akan mampu melesat dengan cepat sampai pada batas paling maksimalnya ketika alam semesta tersebut mampu membersihkan dirinya. Hal ini memberi suatu ibrah kepada kita, bahwa bila bangsa ini ingin mencapai kekuatan positifnya sacara maksimal dalam waktu yang cepat, hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu adalah pembersihan qalbu masing-masing elemennya dari hulu sampai ke hilir. Tentunya, tidak cukup dengan pembersihan qalbu saja, namun ada persiapan-persiapan lain yang harus di tindak lanjutkan pula. Namun diatas itu semua, berkaca dari peristiwa dahsyat Isra’ Miraj, pembersihan qalbu menjadi hal yang mutlak dilakukan dalam tahap-tahap awal persiapan maksimalisasi quantum kemajuan bangsa kita. (*/anton)






Komentar