oleh

Cinta Tuhan Menjauhkan Kita dari Cinta Uang

POSKOTA.CO – Semua orang yang hidup, pasti tahu bahwa uang itu penting. Setiap orang membutuhkan uang. Bahkan menginginkan uang. Uang begitu luar biasa pentingnya dalam kehidupan manusia. Uang mempunyai kekuatan yang luar biasa dahsyat,‎baik kekuatan yang konstruktif maupun kekuatan yang destruktif.

Uang dalam kelimpahannya maupun dalam Kekurangannya, ‎selalu menimbulkan dampak yang Konstruktif dan Destruktif. Uang memang mempermudah banyak hal. Dengan uang memungkinkan kita melakukan banyak hal.

Uang sendiri betral. Ia ‎tidak jahat atau buruk. Yang harus kita jaga adalah hati kita. Kenapa?, karena cinta uang secara berlebihan, merupakan akar dari segala kejahatan.

Firman Tuhan dalam kitab 1Timotius 6:10 Menyatakan, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

Acapkali bahkan sering manusia menyamarkan “cinta uang” ini dalam bahasa yang mulia. Seperti “Bukankah Tuhan ingin kita di berkati?” atau “dengan lebih banyak uang saya mampu untuk memberi lebih”.

Analogi ini ada benarnya. Tetapi ingat, apa yang kita ucapkan, Tuhan tau segalanya. Apakah motivasi hati kita yang sebenarnya memberi, atau hanya bahasa yang menghibur.

Rasul Paulus mengingatkan, betapa pentingnya untuk kita memiliki rasa cukup. Rasa cukup ini akan menjaga kita, ‎agar tidak jauh dalam godaan cinta uang.

Penulis berkeyakinan, hanya melalui kerja keras dan memenuhi panggilan kita,kita akan menghasilkan uang. “Kalau panggilan kita memang untuk berkarya menghasilkan banyak uang, lakukanlah untuk kemuliaan nama Tuhan. Tetapi biarlah “rasa cukup” menjaga kita dari keserakahan kita, dan‎ “cinta Tuhan” menjauhkan kita dari cinta uang,”demikian kata Yapy Melianton Doroh, majelis Jemaat GPIB Zebaoth Bogor.

Kitab Ibrani 13:5 menegaskan, “AKU sekali-kali tak akan membiarkan engkau dan AKU sekali-kali tak akan meninggalkan engkau.”
Berdasarkan nats diatas, penulis ingin mengingatkan, janganlah kamu menjadi hamba uang tetapi cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

Kenapa?, karena harta dunia, bukanlah tujuan akhir hidup manusia. Pengkhotbah 5:11 “Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.”

Jika demikian, apa yang menjadi tujuan hidup kita?. Apakah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya mumpung masih hidup?. Apakah jika seseorang sudah memiliki kekayaan yang melimpah, maka berbahagiakah hidupnya?.

Ingat, raja Salomo yang sangat terkenal dengan hikmat dan kekayaan yang melimpah, menyatakan bahwa kekayaan duniawi itu adalah kesia-siaan.

Pengakuan raja Salomo ini menurut penulis, memberi pesan, ternyata memiliki kekayaan tidak dengan serta-merta membuat seseorang hidup dalam kebahagiaan.

“Salomo berkata, siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia,” kata Yapy mengutip Pengkhotbah 5:9.

Ayat nats di atas juga menegaskan bahwa, kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur. Orang kaya selalu tidak tenang dalam hidupnya. Tidur pun tidak bisa nyenyak. Kenapa?, karena mereka selalu memikirkan kekayaannya.
“Sungguh benar apa yang dikatakan Alkitab, karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada,” demikian kitab Matius 6:21 sebagai penegasannya.

Orang yang mencintai uang, selalu merasa ketidakpuasan dalam dirinya. Orang kaya selalu berupaya bagaimana cara meningkatkan kekayaannya. Maka tak heran, jika banyak sekali fakta, orang kaya selalu tersandung dalam berbagai kasus mulai dari penipuan hingga korupsi dan sebagainya.

Pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi!!. Jawabannya, karena mereka ingin memperoleh kekayaan dengan jalan pintas di luar anugerah Tuhan.

Lalu apakah orang yang selalu cinta uang ditinggalkan Tuhan!!!. Firman Tuhan tak pernah berhenti untuk mengingatkan. 1Timotius 6:17 menyatakan, kepada orang-orang kaya di dunia ini, agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Harta kekayaan bukanlah tujuan akhir hidup ini, karena semua yang ada di dunia ini hanyalah sementara. Apakah semua harta yang kita miliki tersebut akan kita bawa pada saat kita mati? “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar,” kitab 1 Timotius 6:7 sebagai penegasan.

Maka berdasarkan uraian firman Tuhan diatas, penulis hanya berpesan, marilah kita sebagai anak Tuhan, berlomba-lomba mengumpulkan harta di sorga. Karena harta di sorga tak di makan rayap. “Karena itu, pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi,” kutipan Kolose 3:2 oleh penulis sebagai penutup. (#)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *