Nurshobah Abdul Fattah, S.Ag., M.Si/ Rois Syuriyyah PRNU Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.
DALAM sebuah riwayat dikatakan bahwa dari sisi keutamaannya bulan Ramadhan dibagi menjadi tiga tahap. Yaitu sepuluh hari pertama diperolehnya kasih sayang Allah swt (rohmah), kemudian ampunan-Nya (maghfirah) dan terakhir terbebasnya mereka yang berpuasa Ramadhan dari siksa api neraka (Itqun minannaar). Alangkah indah hidup kita jika setiap saatnya dalam kasih sayang Allah Swt. Begitu pula alangkah senangnya jika segala salah dan khilaf dihapus dan diampuni dan pada saat kita kembali kepada Allah swt di negeri akhirat nanti kita terbebas dari siksa api neraka.
Betapa luasnya rahmat Allah Swt. Pernah Rasulullah saw berpesan kepada para sahabatnya, “ketika Allah Swt menciptakan seluruh makhluk, Allah swt menuliskan di dalam kitab yang berada di sisi-Nya di atas Arsy, yang isinya adalah: “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR Bukhari Muslim).
Pernah terjadi rombongan tawanan perang dihadapkan kepada Rasulullah saw. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya itu maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan lalu menyusuinya. Saat itulah Rasulullah bertanya kepada rombongan itu.
“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Rombongan itu menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah Swt lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini menyayangi anaknya.” (HR Bukhari Muslim).
Sifat Rahman dan Rahim Allah Swt
Allah Swt memiliki sifat Rahman dan Rahim. Sifat rahman Allah Swt itu diberikan di dunia kepada siapapun tanpa pandang bulu. Kepada manusia, hewan, jin, setan, orang muslim maupun kafir semuanya diberi kesempatan untuk menikmati kehidupan di dunia. Siapapun mereka di dunia ini apakah muslim-non muslim, ahli ibadah atau ahli maksiyat jika pandai dalam urusan di dunia mereka akan mendapat rahmat Allah swt dengan menikmati kehidupan di dunia.
Adapun sifat Rahim Allah Swt khusus diberikan di akhirat nanti bagi siapa yang beriman dan bertakwa kepada-Nya, yaitu berupa kenikmatan masuk surga dan terbebas dari neraka. Bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan kerelaan semata-mata karena Allah Swt dipastikan memperoleh rahmat Allah Swt, yaitu berupa pahala yang tanpa batas, dan hanya Allah Swt yang akan membalasnya. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad saw: “Semua amalan anak Adam untuknya dan dilipat gandakan setiap satu kebaikan (dianggap) sepuluh kali kebaikan tersebut dan dilipat gandakan menjadi 700 kali. Allah Swt berfirman : Kecuali puasa, karena amalan itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. (disebabkan) meninggalkan sahwatnya dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim).
Lebih dari itu bagi mereka yang berpuasa dengan penuh kesadaran bahwa ibadah puasa itu sangat bermanfaat bagi mereka, Allah Swt akan tambahkan rahmat-Nya dengan memperoleh lailatul qadar atau malam seribu bulan. Bagi yang mendapatkannya berarti mendapat kemuliaan telah beribadah senilai selama seribu bulan atau sekitar delapan puluh tiga tahun lebih.
Adakah manusia yang mampu beribadah terus menerus tanpa terputus selama itu? Namun dengan kemurahan Allah Swt dan rahmat-Nya yang dikhususkan bagi ummat Nabi Muhammad Saw keutamaan itu diberikan oleh Allah Swt.
Akhirnya memang rahmat Allah Swt yang menyebabkan manusia masuk surga. Sebab jika amal ibadah dan amal saleh ditimbang maka hasilnya akan lebih berat dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat manusia. Namun demikian rahmat Allah Swt harus dicari dengan selalu berusaha menjadi hamba-Nya yang terbaik, dengan selalu menjunjung tinggi perintah-Nya dan manjauhi segala hal yang dilarang-Nya. Ibadah puasa dalah saat yang sangat berharga untuk memperoleh rahmat tersebut.
Betapa Pentingnya Ampunan Allah Swt
Sebagaimana kita butuh dengan rahmat Allah Swt, demikian pula kita juga sangat butuh dengan ampunan Allah swt. Manusia tempat salah dan lupa dan mudah tergelincir untuk melakukan dosa dan maksiat. Belum lagi godaan hawa nafsu yang berada dalam jiwa dan raga manusia, demikian pula tipu daya setan yang ‘bersarang’ dalam aliran darah dan setiap saat memiliki misi untuk menjerumuskan manusia ke lembah kenistaan.
Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk bertaubat dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan melebihi hari biasanya. Sampai Nabi saw mengamini doa Malaikat Jibril as yang berdoa: “Celaka mereka yang melewati Bulan Ramadhan tidak diampuni dosa-dosanya.” Padahal Allah Swt sangat senang kepada mereka yang terlanjur berbuat dosa lalu memohon ampun dengan setulus hati.
“…Sesungguhnya Allah sangat senang kepada orang-orang yang gemar bertaubat dan selalu menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 223). Dalam sebuah riwayat juga dijelaskan bahwa Allah swt sangat senang kepada seorang yang bertaubat melebihi senangnya seorang yang menemukan kembali untanya yang telah hilang.
Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Allah Swt memiliki sifat Al Ghafuur dan Al Ghaffar. Al-Ghafur menunjukkan bahwa Allah swt adalah banyak mengampuni dengan tidak hanya mengampuni satu dosa, melainkan banyak sekali dosa yang diampuni oleh-Nya apapun bentuk dosa tersebut, dosa kecil maupun dosa besar. Sedangkan Al-Ghaffār menunjukan bahwa Allah swt yang mengampuni dosa hambanya berkali-kali dan berulang-ulang sepanjang hamba tersebut memohon ampunan kepada-Nya.
Yakinlah betapa dahsyatnya ampunan Allah Swt bagi hamba-hamba-Nya, maka seharusnya kita lebih bersemangat lagi untuk menjemputnya dan jangan sampai terlintas dalam benak pikiran untuk berputus asa. Sikap putus asa ini adalah sifat orang-orang kafir dan sesat. Firman Allah Swt: “Mereka menjawab, ‘Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.’ Ibrahim berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb- Nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS al-Hijr: 55-56).
Bulan Ramadhan untuk Evaluasi Diri
Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang tepat untuk merivieu lagi jalan hidup kita, tentang apa yang telah kita perbuat untuk masa depan kita di kemudian hari (di dunia) maupun hari kemudian (di akhirat). Apakah jalan hidup kita sudah lurus sebagaimana yang selalu kita mohonkan setiap kali sholat, Ihdinasshirootol mustaqim, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan istiqamah? Atau hidup kehidupan kita masih ‘zig-zag’, belak-belok tak tahu arah, dan masih bersahabat dengan segala dosa dan maksiyat. Bulan Ramadhan kesempatan kita untuk menyucikan diri betapapun besar dosa yang telah dilakukan, betapa pun kelam masa lalu kita.
Dalam Al-Qur’an jelas disampaikan: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”.
Dalam sebuah hadits Nabi saw pernah menceritakan ada seorang pendosa yang telah membunuh seratus nyawa namun ternyata diampuni dosanya oleh Allah Swt meskipun baru niat dan bertekad dan belum sempat melakukan kebaikan karena keburu wafat. Di negeri kita misalnya seorang Freddi Budiman, Gembong Narkoba kelas kakap, yang telah meracuni anak-anak Indonesia dengan Narkoba berani bertaubat diakhir hayatnya sebelum mati ditangan sniper.
Begitu juga jauh sebelumnya, seorang Jhoni Indo, penjahat kelas kakap yang pernah meresahkan di negeri ini juga bertaubat, dan masih banyak lagi contoh testimoni pertaubatan yang dapat menjadi ibroh, pelajaran bagi kita.
Puasa sebagai perisai dari api neraka Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw bahwa pada bulan Ramadhan pintu-pintu neraka ditutup. Para ulama menjelaskan maksudnya adalah adanya upaya mereka yang berpuasa untuk menutup diri dari maksiat, syahwat, dan segala hal yang pada akhirnya membawa dan mengantarkan manusia ke neraka di akhirat nanti akibat dari maksiyat yang dilakukan selama di dunia. Pada kesempatan lain Rasulullah saw juga mengatakan bahwa puasa juga merupakan merupakan perisai. Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa junnatun berarti perlindungan atau penutup. Maksudnya, puasa tersebut dapat menjadi pelindung, penutup, atau benteng bagi orang yang berpuasa dari segala maksiyat.
Besarnya Manfaat Puasa
Demikian besar manfaat puasa yang dapat kita raih. Bagaimana tidak. Seorang yang berpuasa berusaha untuk tetap berpuasa dari makan, minum, menahan nafsu seks, menahan hawa nafsu untuk tidak maksiat yang semuanya itu karena semata kecintaan dan ketaatannya kepada Allah Swt. Orang itu sangat peduli dengan nasibnya di dunia dan akhirat. Mereka tak sudi hidupnya di dunia dipenuhi dengan maksiyat dan di akhirat dilaknat, dimasukkan ke neraka.
Dalam Hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah Swt jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Alangkah besarnya karunia Allah swt bagi mereka yang berpuasa. Tingkatkan level Ibadah puasa kita Untuk memperoleh rahmat, ampunan dan kebebasan dari siksa neraka kita perlu menaikkan level puasa kita tidak seperti puasa orang awam, yaitu puasa orang kebanyakan yang hanya masih di sekitar urusan menahan lapar dan haus, tidak lebih. Ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi tentunya. Antara lain: Pertama, niatkan berpuasa Ramadhan ini yang utama adalah untuk mencari keridhoan Allah Swt.
Dengan kata lain tidak sekadar menggugurkan kewajiban, takut dosa, apalagi hanya ikut-ikutan karena tidak dilandasi dengan niat yang kuat. Puasa yang dijalankan hanya pencitraan, pengakuan keislaman dan kesalehan saja. Bukan berangkat dari hati yang paling dalam.
Kedua, merencanakan dengan baik program dan kegiatan selama Ramadan. Melakukan ibadah melebihi seperti pada bulan-bulan sebelumnya. Bertekad untuk menjalankan ibadah-ibadah tambahan (sunnah) dengan sebaik-baiknya, seperti niat tidak akan meninggalkan sholat taraweh, rajin bertadarus Al-Quran, qiyamullail, sholat tahajjud dan ibadah lainnya. Juga mengiringi ibadah dengan rajin beramal sosial, seperti menunaikan zakat, infak dan sedekah, memberi ta’jil berbuka puasa bagi para tetangga atau musafir di perjalanan.
Ketiga, meninggalkan hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa, seperti berbohong, menggosip, bahkan perbuatan-perbuatan yang kurang membawa manfaat seperti mengurangi nonton hiburan di televisi atau pun you tube pada media sosial. Ikutilah kuliah Ramadhan yang disampaikan di masjid dan musolla untuk menambah ‘vitamin’ ibadah dan amal saleh kita selama ramadhan sehingga Ramadhan dapat kita tuntaskan dengan baik. Tidak hanya diawal Ramadhan begitu menggebu-gebu, namun di pertengahan sampai akhir Ramadhan sudah kehilangan semangat.
Semoga kebiasan-kebiasaan baik selama ramadhan dengan adanya peningkatan ibadah dan amal saleh dapat menjadi kebiasaan-kebiasaan baik pula pada bulan-bulan berikutnya sampai menemui Ramadhan yang akan datang. Dengan niat yang tulus, tekad yang kuat dan mohon pertolongan Allah Swt kita yakin akan dapat menyelesaikan Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya. Rahmat, ampunan dan kebebasan dari siksa neraka dapat kita raih. Mari kita semua bertekad, mumpung masih berada di awal Ramadhan. Semoga Allah memudahkan segala niat baik kita. Amin ya Robbal Alamin. (ta)






Komentar