BANDUNG-Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Stella Christie menyatakan, keberadaan ekosistem riset penting dalam meningkatkan perekonomian nasional. Ia menekankan ekosistem riset tersebut mesti berawal dari perguruan tinggi.
“Ada banyak contoh perguruan tinggi top dunia yang berhasil mengembangkan riset dan mendorong peningkatan ekonomi. Salah satunya, Stanford University yang hingga kini telah melahirkan 40.000 perusahaan dari alumnusnya, dan mempekerjakan total 5,4 juta orang sejak berdiri pada tahun 1930 silam,” katanya saat berbicara dalam Konvensi Sains, Teknologi, Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Institut Teknologi Bandung (ITB), Kota Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (08/o8/2025).
Menurut Stella, Stanford memberikan dampak perekonomian 2 triliun dolar AS per tahun. Kemudian, MIT (Massachusetts Institute of Technology) per 2014 lalu alumninya menjadi founder 30.000 perusahaan yang mempekerjakan 4,6 juta orang, dan menghasilkan US$2 triliun per tahun,” ujar Wamen Stella.
Sedangkan University of Kansas memberikan dampak ekonomi tahunan 7,8 miliar dolar AS di Kansas dan menyokong sekitar 88.000 bidang pekerjaan.
Berbagai praktik baik ini, menurut Wamen Stella, hanya akan terjadi jika budaya penelitian mengakar di perguruan tinggi. Dan ketika kampus dipandang sebagai sumber pengetahuan, maka takkan sulit mendatangkan investasi maupun pendanaan.
“Ketika Anda memiliki investasi, maka Anda bisa membangun infrastruktur. Tanpa infrastruktur, Anda tidak bisa meningkatkan akses untuk penelitian. Ini seperti lingkaran, tapi bermulanya dari pengetahuan,” ujar Wamendiktisaintek.
Dua Langkah Penting
Sementara dari sisi pemerintah, Wamen Stella mengatakan dua langkah penting sudah dijalankan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Yakni, pendanaan dan regulasi.
Terkait pendanaan, lanjut Stella, pihaknya telah melipatgandakan sekitar 80 persen kenaikan dana riset yang akan disalurkan langsung kepada para peneliti di perguruan tinggi. Adapun dari segi regulasi, Kemdiktisaintek telah menetapkan berbagai insentif untuk peneliti.
“Apa saja? Pertama untuk mempermudah dan memperbolehkan peneliti mendapat uang langsung atau dana langsung bagi pribadinya ketika memenangkan grand research. Ini akan bisa dibuat dengan skema dana Rp1,8 triliun. Lalu, kami juga memperbaiki secara keseluruhan agar beban administrasi bagi peneliti itu berkurang,” dia mengatakan.
Diketahui, pengembangan riset tertera dalam Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto, yang meliputi penguatan pengembangan sumber daya manusia, sains teknologi pendidikan, kesehatan, pencapaian di bidang olahraga, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. (fs)







Komentar