oleh

TNI AL Gagalkan Penyelundupan Setengah Ton Merkuri di Tanjung Priok

​JAKARTA — Di balik riuh pikuk Dermaga Penumpang 106 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, sebuah bencana lingkungan raksasa nyaris saja lolos ke jantung ibu kota. Selasa pagi (2/6) pukul 06.30 WIB, ketika matahari baru saja menyapa KM Nggapulu yang bersandar usai berlayar jauh dari Namlea, Maluku, sebuah sandiwara hitam berhasil dibongkar oleh ketajaman naluri para prajurit TNI Angkatan Laut.

​Bukan suku cadang (sparepart) biasa seperti yang tertera pada manifes resmi nomor P26052790034450001. Saat kotak kayu kargo berukuran 1 koli itu dibongkar paksa oleh Tim Pengamanan (Pam) Pelni dan Komando Daerah TNI AL (Kodaeral) III, kebohongan itu luruh.

Di dalamnya, berjejer 42 jerigen berisi cairan perak pekat yang berat dan mematikan: merkuri (air raksa) ilegal seberat 544 kilogram.

​Setengah ton lebih racun  bernilai ekonomi Rp 1,5 miliar itu pun berhasil disita. Namun, ini bukan sekadar soal angka miliaran rupiah yang diselamatkan dari kerugian negara. Ini adalah cerita tentang penyelamatan masa depan ekosistem laut Indonesia dan perlindungan jutaan nyawa manusia dari bahaya laten Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

​”Sinergi yang solid antarinstansi menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah perairan Indonesia,” ujar Komandan Kodaeral III, Laksamana Muda TNI Uki Prasetia, S.T., M.M., dengan nada tegas dalam konferensi pers di Mako Kodaeral III, Jakarta Utara, Senin (8/6).

​Langkah senyap namun mematikan dari para penyelundup ini menjadi bukti bahwa ancaman terhadap kedaulatan bangsa kini tak lagi hanya berbentuk kapal perang asing, melainkan racun yang merusak tanah air secara perlahan.

Penindakan tegas ini merupakan wujud nyata dari implementasi Asta Cita ke-7 Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperkuat pencegahan kejahatan mineral, sekaligus perintah langsung Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali melalui operasi Penegakan Hukum di Laut (Gakkumla).

​Mengingat jaringan hitam ini melintasi antar-provinsi dari tanah Maluku hingga Jakarta, TNI AL bergerak cepat menyerahkan penyidikan seluruh barang bukti kepada Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Mabes Polri yang dipimpin oleh Brigjen Pol Pipit Rismanto, S.I.K., M.H.

​Laut Indonesia adalah sumber kehidupan, bukan tempat bagi keserakahan yang meracuni masa depan generasi penerus bangsa. Di bawah pengawalan ketat prajurit Jalesveva Jayamahe, satu lagi ancaman besar bagi ibu pertiwi berhasil diredam. (aga/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *