oleh

TNI AD di Bawah Jenderal Maruli, Turun ke Sawah Jaga Perut Rakyat Lewat Ketahanan Pangan

JAKARTA – Menjaga kedaulatan negara bagi TNI Angkatan Darat hari ini tidak melulu bicara soal peluru dan medan pertempuran. Di era modern, kedaulatan itu bermula dari dapur rumah-rumah rakyat, dari kecukupan pangan, dan dari senyum para petani yang tidak lagi merasa berjuang sendirian. Di bawah komando Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., TNI AD terus mempertegas wajah humanisnya.

Banyak kiprah TNI AD membantu rakyat, berkeringat turun menolong kesulitan warga di pelosok. Misalnya, membantu membuatkan pompa air bersih di daerah krisis air, membuat jembatan untuk warga menyeberang sungai, menanam pohon di sepanjang bantaran kali agar tidak banjir sekaligus penghijauan, dan masih banyak lagi.

Kini TNI AD juga  menapakkan kaki di tanah berlumpur, di sawah dan ladang bahu-membahu memperkuat ketahanan pangan nasional. Bukti nyata itu tersaji di Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk. Di bawah terik matahari, Jenderal Maruli hadir langsung dalam Panen Raya Kedelai di lahan seluas 100 hektare dari total 400 hektare area tanam di wilayah tersebut.

​Kehadiran Maruli bukan sekadar seremonial pimpinan di atas panggung. Ia turun bersama Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, serta Sekjen Kemhan Letjen TNI Tri Budi Utomo.

Sinergi tingkat tinggi ini menjadi pesan kuat kepada publik: negara hadir secara total demi swasembada pangan. “TNI AD berkomitmen penuh berada di garda terdepan untuk mendukung program pemerintah. Kami melakukan pendampingan langsung dan membangun sinergi bersama masyarakat serta seluruh stakeholder terkait agar produktivitas pertanian kita melonjak,” tegas Kasad Maruli di sela-sela kegiatan.

Dukungan Nyata: Dari Kedelai hingga Padi Nasional

Langkah konkret Jenderal Maruli dalam sektor pangan tidak berdiri sendiri. Keterlibatan aktif prajurit TNI AD—khususnya para Babinsa di desa-desa—kini meluas dari pengelolaan komoditas kedelai strategis hingga aksi tanam dan panen padi massal bersama Kementerian Pertanian.

​TNI AD menempatkan diri sebagai penyambung lidah sekaligus motor penggerak bagi kelompok tani. Ketika petani mengeluhkan keterbatasan tenaga atau kendala teknis, prajurit loreng hadir memberikan bantuan tenaga, pengawalan distribusi pupuk, hingga optimalisasi lahan tidur milik TNI untuk disulap menjadi lahan produktif.

​Keterlibatan aktif ini menuai apresiasi langsung dari Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi. Ia memuji bagaimana kehadiran TNI mampu mendongkrak semangat dan produktivitas para petani di daerah secara psikologis maupun praktis.

Gaya kepemimpinan Jenderal Maruli yang tak banyak wacana dan langsung bekerja (action-oriented) kembali terlihat jelas. Ketahanan pangan di mata Kasad adalah fondasi dari pertahanan negara yang sesungguhnya. Rakyat yang tercukupi pangannya adalah rakyat yang kuat, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto yang mencanangkan swasembada pangan di RI.

​Integrasi program pangan ini melengkapi berbagai program humanis TNI AD lainnya yang berjalan paralel, mulai dari program Makan Bergizi Gratis menuju Indonesia Emas 2045, kolaborasi pengelolaan sampah nasional dengan Kemenko Pangan, hingga penguasaan teknologi pertahanan siber di era baru.

​Bagi Jenderal Maruli, filosofinya tetap sama dan membumi: “TNI kuat, kalau rakyatnya kuat.” Dan hari ini, kekuatan itu sedang ditumbuhkan dari bulir-bulir padi dan kedelai yang dipanen bersama rakyat.

Data kiprah dukungan swasembada pangan Jenderal Maruli Simanjuntak:

• ​Lahan Strategis Nganjuk: Total area tanam mencapai 400 hektare di Kecamatan Wilangan, dengan panen raya perdana di fase ini seluas 100 hektare.
• ​Sinergi Lintas Sektoral: Kolaborasi aktif hulu-hilir melibatkan Kementan (eksekutif), Komisi IV DPR RI (legislatif), dan TNI-Kemhan (keamanan/territorial).
• ​Gerakan Ketahanan Pangan Nasional TNI AD: Meliputi program “TNI AD Manunggal Air” (yang juga menyuplai irigasi sawah terisolasi), optimalisasi lahan tidur di seluruh Kodam, dan penempatan Babinsa sebagai pendamping harian kelompok tani. (aga/in)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *