JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Atip Latipulhayat, Ph.D., menghadiri Seminar Nasional bertajuk ‘Reaktualisasi Pedagogi dalam Era Disrupsi: Mengembalikan Ruh Pendidikan yang Terabaikan’. Seminar yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Selasa (30/6).
Seminar yang dibuka oleh Wakil Rektor UNJ, Prof. Dr. Ari Saptono, tersebut menghadirkan Wamendikdasmen dan para pakar pendidikan nasional untuk membahas masa depan pedagogi Indonesia di tengah perubahan kebijakan pendidikan dan perkembangan teknologi dan VUCA.
Ketua Panitia Seminar Nasional, Canter Sangaji, mengatakan kehadiran Wamendikdasmen menjadi momentum penting bagi dunia akademik untuk membangun dialog yang konstruktif antara pembuat kebijakan, perguruan tinggi, dan para praktisi pendidikan.
“Kami bersyukur seminar ini mendapat kehormatan dengan kehadiran Wamen Prof. Atip Latipulhayat. Kehadiran beliau menunjukkan pentingnya ruang dialog di kalangan akademik dalam merumuskan arah kebijakan pendidikan nasional pemerintahan Presiden Prabowo yang berpijak pada nilai-nilai pedagogi dan kebutuhan masa depan Indonesia,” ujar Canter Sangaji di kampus UNJ kawasan Rawamangun Jakarta Timur, Selasa (30/6).
Wamen Prof. Atip Latipulhayat menjelaskan arah kebijakan pemerintah terkait implementasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai bagian dari transformasi sistem evaluasi pendidikan nasional. “TKA itu merupakan kebijakan transisi untuk moderasi. Kewenangan kelulusan menurut UU Sisdiknas tetap pada para guru di sekolah. TKA menjadi alat untuk intervensi kebijakan, terutama untuk sekolah-sekolah di daerah yang tertinggal,” tegas Prof. Atip.
Menurutnya, TKA bukanlah pengganti kewenangan guru dalam menentukan kelulusan peserta didik, melainkan instrumen pemerintah untuk memperoleh data yang lebih objektif sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan nasional yang lebih tepat sasaran.
Sementara itu, Prof. Dr. Mamat Supriatna mengingatkan bahwa akar persoalan pendidikan Indonesia justru terletak pada semakin terabaikannya kajian pedagogi. “Akademisi dan praktisi cenderung fokus meneliti pendidikan formal, pengajaran, dan persoalan teknis metodologis di kelas. Dimensi fundamental teori, struktur, dan praksis pendidikan dalam keluarga maupun masyarakat justru terabaikan,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Prof. Dr. Nurhattati Fuad, M.Pd., menegaskan bahwa pedagogi masa depan harus mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. “Pedagogi mesti membantu guru dan pengambil kebijakan untuk mengantisipasi kondisi masa depan dan mempersiapkan murid agar mampu hidup di zamannya,” tandasnya.
Keterhubungan jejaring, kemampuan mengintegrasikan kecerdasan buatan, disertai sentuhan yang memuliakan manusia menjadi orientasi pedagogi saat ini. “Bahwa empati, solidaritas, kepedulian, keadilan, serta keberlanjutan kehidupan manusia harus tetap menjadi fondasi utama pendidikan,” tegasnya.
Pada sesi penutup, moderator seminar Doni Koesoema, M.Ed., menekankan bahwa pendidikan harus melahirkan warga negara yang berintegritas. “Orientasi pedagogis perlu memiliki dampak transformatif, memperjuangkan keadilan, serta membangun budaya antikorupsi. Mempersiapkan warga negara yang memiliki integritas, kejujuran, dan kepedulian terhadap bangsa menjadi sangat mendesak di tengah maraknya pejabat yang tertangkap korupsi,” tuturnya.
Seminar Nasional ini diikuti oleh ratusan (200 offline, 500 online) peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, guru, kepala sekolah, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum, baik secara luring maupun daring. Kegiatan ini diharapkan menjadi forum strategis dalam merumuskan kembali arah pedagogi Indonesia agar lebih humanis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. (jo)







Komentar