oleh

Prevalensi Stunting di Kota Magelang Turun Berdasarkan Penimbangan Serentak

MAGELANG-Kepala BKKBN, dokter Hasto, mengingatkan kembali jangan malu makan lele, karena kandungan nutrisi pada lele lebih baik daripada daging sapi.

“Daging sapi dibanding lele lebih bagus lele. Lele protein hewani, sapi juga. Lele ada DHA, omega 3, EPA tapi tidak ada di daging sapi,” terangnya pada ratusan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Kota Magelang pada acara Sinergi Dan Kolaborasi Tenaga Lini Lapangan untuk Mensukseskan Program Bangga Kencana Dan Percepatan Penurunan Stunting, di Hotel Atria, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (07/07/2024).

Tidak pernah lupa, dokter Hasto juga selalu mengingatkan bahwa stunting pasti pendek, tapi pendek belum tentu stunting. “Stunting itu pendek plus otaknya tidak cerdas,” tandasnya. Sekaitan dengan itu, ia menyatakan  bahwa rata-rata IQ orang Indonesia masih rendah.

“IQ Indonesia urutan 130 di dunia. Protein hewaninya kurang. Yang membuat cerdas otak kita supaya tidak stunting itu protein hewani,” tambahnya berdasarkan data Tingkat Kecerdasan Negara-negara di Dunia dari World Population Review tahun 2022.

Kepala BKKBN, dokter Hasto.

Usia Kawin Pertama dan iBangga

“Median usia kawin pertama perempuan di Provinsi Jawa Tengah  tercatat 21,7 tahun, sedangkan Kota Magelang 23,6 tahun. Adapun minimal 20 tahun, maksimal 35 tahun tapi masuk KRT atau kehamilan risiko tinggi,” jelas dokter Hasto.

Dari data memperlihatkan bahwa median usia kawin pertama perempuan di Kota Magelang sudah lebih dewasa dibandingkan tingkat Jateng. “Jangan terlalu muda, jangan terlalu tua, jangan terlalu sering hamil dan jangan terlalu banyak,” diingatkan dokter Hasto.

Adapun Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) di Jawa Tengah naik. Skornya menjadi 63,1. Indikator iBangga adalah mandiri, tenteram, dan bahagia. Sementara skor untuk Jateng 65,5.

Ia pun membeberkan keluarga berisiko stunting di Magelang Tengah, Magelang Utara, dan Magelang Selatan masih banyak. Sumber air minum tak layak di Magelang Utara lebih tinggi dibanding Magelang Tengah dan Magelang Selatan.

Sedangkan jamban tak layak paling banyak di Magelang Tengah. Persentase rumah tidak layak huni juga di Magelang Tengah tertinggi dibanding Magelang Utara dan Magelang Selatan.

Prevalensi Stunting Turun

Sementara itu, Wakil Walikota Magelang, Drs. KH. M. Mansyur, M.Ag, pada kesempatan yang sama mengungkapkan prevalensi stunting di Kota Magelang tahun 2023 mengalami peningkatan 1,5% berdasarkan hasil Survey Kesehatan Indonesia (SKI).

“Prevalensi stunting Kota Magelang 15,4%, dan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 sebesar 13,9%. Bila dilihat dari hasil penimbangan serentak di Kota Magelang tahun 2023, stunting di angka 10,4%,” ungkapnya.

Ini berarti, berdasarkan hasil penimbangan dan pengukuran  tinggi badan bayi yang  dilakukan serentak di seluruh posyandu di  Kota Magelang cenderung turun dibanding SSGI 2022 maupun SKI 2023. Hasil capaian ini akan diinput ke dalam Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM).

Menurt Wakil Walikota Magelang, permasalahannya stunting yang kompleks perlu ditangani secara konvergen di semua tingkatan atau lini.

“Masih terus menjadi fokus bagi kami untuk atasi permasalahan yang menyertainya. Dari permasalahan tersebut muncul inovasi yang digagas para emak-emak Magelang untuk mencegah stunting,” paparnya.

Dalam hal ini, Ketua TP PKK Kota Magelang punya ide dan inovasi dengan sebutan Ceting Emas (Cegah Stunting Emak-emak Magelang Sehat). Inovasi ini dikembangkan  berkolaborasi dengan lintas sektor dan stakeholders pendukung lainnya.

Dipengaruhi Dua Faktor

Anggota DPD RI 2019-2024 yang juga Ketua KNPI Provinsi Jateng, Casytha Arriwi Kathmandu, SE, M. Fin, mengungkapkan  permasalahan  perkawinan usia muda di Jawa Tengah yang dipengaruhi dua faktor. Yakni, kultur masyarakat Jawa Tengah yang menormalisasi pernikahan setelah lulus SMA dan penggunaan sosial media (sosmed) di kalangan remaja.

“Kultur sosial di Jateng  yang kata orang Jateng itu maju ternyata nggak juga. Masih ada pemikiran kewajiban perempuan ya menikah. Pertanyaannya, bagaimana mengubah _mindset_ masyarakat seperti ini. Kultur sosial di Jateng masih gitu. Yang kedua adalah sosial media terkait dengan nikah,” jelasnya.

Kata Casytha, sekarang ada dua tren yang berkembang. Pertama, menikah adalah solusi dari semua permasalahan hidup dan kampanye childfree. “Jadi (di media sosial beredar) menikah jadi solusi dari semua permasalahan hidup. Ga tau aja kalau asal nikah ya tambah masalah pas menikah.”

Kedua, ada tren juga, “udahlah ga usah nikah, single itu happy. Ga usah punya anak karena anak itu tambah masalah. Orang banyak kampanye gini di sosmed dan followersnya banyak,” ujarnya.

Menurutnya, pengaruh sosmed sangat luar biasa. Sehingga ia yakin peran TPK makin dibutuhkan dalam pendampingan keluarga dalam menghadapi dua permasalahan tersebut.

Acara Sinergi dan kolaborasi ini  dihadiri  282 TPK; para pejabat di Kota Magelang; Wakil Walikota Magelang, Drs. KH. M. Mansyur, M. Ag; dan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk & KB Kota Magelang, Nasrodin, S. Kep, Ners, MM; serta ⁠Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, Eka Sulistia Ediningsih, SH, dan ⁠Direktur KIE BKKBN, Soetriningsih, S. Sos, M.Si. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *