harmono 26/12/2018

Oleh: Kristin Samah

TIDAK perlu membutuhkan waktu lama untuk membuat lagu ‘Noken’ gubahan AKBP Nanang Rudi Supriatna, disenandungkan orang-orang yang berkerumun di Dok 2, Jayapura, Papua.

Sabtu (22/12), pekan lalu, dalam rangkaian acara terjun payung “Santa Claus is Coming to Papua”, lagu itu dikumandangkan. Iramanya mudah diikuti, syairnya sarat makna.

Selama sembilan bulan Satgassus Nemangkawi bekerja di Papua, khususnya kawasan Pegunungan Tengah, kehadiran Binmas Noken memang selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Mereka mengajar, memberi pelatihan beternak, bertani, juga keterampilan untuk mama-mama.

Apa yang dilakukan itu tak jauh dari filosofi ‘Noken’ sebagai kekayaan budaya Papua. Noken bukan sekadar tas untuk mengangkut berbagai macam barang tetapi simbol dari kearifan.

Secara filosofis, Noken adalah penampung segala macam persoalan untuk dipecahkan bersama. Keberagaman suku tercermin dalam Noken. Sekalipun bentuk, corak, dan modelnya berbeda-beda, mereka dipersatukan dalam Noken.

Noken adalah rahim, merawat kehidupan dalam cinta kasih. Menjaga keindonesiaan di Papua dengan perhatian dan kasih. Bahwa Polri hadir di Papua untuk membangun kesadaran, aman dan damai hanya bisa diciptakan oleh masyarakat sendiri.

Dalam konteks ini, syair lagu Binmas Noken memang harus menjadi bagian dari masyarakat, bukan hanya di Papua tetapi Indonesia.

“Noken”
Bermacam namamu
dari berbagai suku namun kaulah satu
pengikat persaudaraan.

Kaulah jiwa kami, lambang kebaikan
anugerah yang terindah, bagi kami
di tanah ini

Reff:
Noken…. sejuta makna
Noken…. yang selalu kubangga
Noken…. membungkus cinta
damai tanahku bersamamu
Noken…. ku dibesarkan
Noken…. hanya di Papua
Noken…. harta budaya
warisan leluhur Indonesia….

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*