oleh

Pengamat: Kembali ‘ Serang ” Polisi Media Terkenal Berpotensi Merusak Hukum dan Demokrasi

POSKOTA. CO -Pengamat politik, pegiat media dan media sosial, Ninoy Karundeng, mengecam Tempo yang dinilainya melakukan pemberitaan yang tidak profesional, cenderung sebagai hoaks. Melalui pemberitaan opininya Tempo melakukan framing menyerang Polri yang berpotensi merusak hukum dan demokrasi.

“Lagi-lagi Tempo membuat berita opini yang meresahkan. Terbaru Tempo menyerang Polisi terkait kematian 6 orang teroris FPI di KM 50, yang mana pemberitaanya menyudutkan Polri,” kata Ninoy Karundeng di Jakarta Minggu (28/3/2021).

Dalam catatan Ninoy Karundeng, sebelumnya Tempo membuat hoaks pertemuan antara Moeldoko dan Megawati di Teuku Umar, yang telah dibantah dengan tegas dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Ditambahkan oleh Ninoy, bahwa publik menjadi paham tentang ritme dan gaya Tempo dalam membuat framing berita. Bukan sekedar framing, Tempo secara sengaja membuat hoaks yang seolah memiliki dasar kebenaran.

“Menarik rekam jejak ke belakang, sejak masa kampanye Pilres 2019, Tempo cenderung memihak kepada pelawan pemerintahan Jokowi, dengan menjadikan Jokowi sebagai cover Tempo dengan hidung Pinokio,” papar Ninoy Karundeng.

Publik sering terkecoh dengan pemberitaan Tempo. Seolah media ini menjadi corong kebenaran karena kemampuan untuk mengolah kata dan data yang memang brilian.

“Lupakan Tempo zaman Mas Goen. Kini tampaknya hedonisme dan konsumerisme menggerus idealisme banyak media, termasuk Tempo. Padahal tanpa idealisme, media tidak memiliki nilai,” papar Ninoy Karundeng.

Tempo, menurut pandangan Ninoy Karundeng, menjelma menjadi media partisan. Opini terakhir Tempo menyerang polisi dengan menyebutkan bahwa aparat polisi yang meninggal dunia dalam kecelakaan tidak termasuk dalam daftar nama yang disebutkan oleh Polri.

Padahal Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (26/3) menyampaikan bahwa salah satu terlapor atas nama EPZ telah meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal pada 3 Januari 2021.

“Tempo juga menyesatkan publik dengan menyebut Bripka Adi Ismanto sebagai terlapor dalam kasus unlawfull killing. Padahal dari awal Adi Ismanto bukan terlapor dalam kasus tersebut. Adi Ismanto hanya sebagai saksi pelapor dalam kasus penyerangan laskar FPI kepada anggota Polri yang LP-nya sudah di-SP3 karena 6 tersangka FPI sudah meninggal dunia,” papar Ninoy Karundeng.

Lebih lanjut disebutkan oleh Ninoy Karundeng, sebenarnya almarhum Ipda Elwira sudah menjalani pemeriksaan di Komnas HAM. Bareskrim Polri dan Propam Polri juga sudah melakukan pemeriksaan.

“Artinya Tempo sengaja membuat opini yang bisa merusak tatanan hukum, membangun opini untuk memengaruhi hukum, juga berbahaya bagi demokrasi secara keseluruhan, karena media adalah salah satu pilar demokrasi,” pungkas Ninoy Karundeng.(dk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *