harmono 20/09/2019

POSKOTA.CO – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengundang anggota DPR dan DPD asal daerah pemilihan Jatim, dan anggota DPRD Provinsi Jatim periode 2019-2024 dalam rangka silaturahmi memperingati HUT Ke-74 Provinsi Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Jl Gubernur Suryo, Surabaya, pada Kamis (19/9/2019) malam.

Dalam sambutannya, Gubernur Jatim menyampaikan pentingnya sinergitas Nawa Bhakti Satya Jawa Timur untuk dapat membantu mempercepat pembangunan ekonomi, dan dapat menyukseskan pelaksanaan Program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Silaturahmi ini untuk penguatan dan sinergitas yang dapat membawa Jatim ke arah kemajuan dan kemakmuran,” kata Khofifah.

Pada kesempatan yang sama, anggota Fraksi PKB DPRD Jatim, Umi Zahrok, mengutarakan bahwa Nawa Bhakti Sapta Jawa Timur sangat ideal di antaranya dengan Program Jatim Diniyah, di mana saat ini telah ditandatanganinya RUU Pesantren oleh DPR RI Komisi VII untuk dibawa ke Rapat Paripurna.

Anggota Fraksi PKB DPRD Jatim 2019-2024, Umi Zahrok (kiri).

Umi Zahrok optimis bahwa pesantren-pesantren di Jawa Timur akan mendapat berkah dari adanya Nawa Bhakti Satya Gubernur Khofifah ini. “Terlebih lagi bila RUU Pesantren disahkan pada Rapat Paripurna DPR RI nanti,” imbuh Umi Zahrok.

Pada acara ini turut diundang sebagai narasumber yakni Prof Dr Mahfud MD, dan Kepala Kantor Cabang Bank Indonesia (BI) Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah.

Menurut Kepala Kantor Cabang BI Jatim Difi Ahmad Johansyah, dari forum silaturahmi ini adanya dialog terkait hubungan ekonomi di pusat dan daerah yang berdampak perpindahan uang bertambah.

“Teorinya bila suku bunga menguat, rupiah menguat, tapi sekarang ke balik. Indikator ekonomi kita baru tumbuh di atas lima persen, inflasi di Jatim selalu di atas nasional. Apa ini cukup? Dua tahun lalu Kemendag selalu ke Jatim untuk rapat, dan supaya Jatim deflasi pangan. Selama dua tahun terakhir pelajaran perekonomian nasional bertumpu dari Jatim. Kalau ekonomi Jatim batuk, maka nasional batuk,” tuturnya.

Lebih lanjut Difi mengungkapkan, PDB nasional lima persen harapannya kontribusi Jatim lebih tinggi ekspor dari pada impor, dan bagaimana cara dana APBN bisa memancing investasi swasta, maka sistem online dan efektifkan perizinan.

“Ekonomi kita mundur pada komoditas karet, sawit, batubara, dan Jatim kuat di manufakturing perikanan, pertanian, dan industri,” tambahnya.

“Kalau kita berdiri sendiri 5-6 persen cukup, tapi kalau sudah masuk nasional, kompleks. Di luar juga berisik antara Tiongkok dan AS, dampak breexit dan slowdwon economic,” pungkas Difi. (***)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*