JAKARTA – Polytrauma dan multiple fractures adalah dua kasus patah tulang yang tersulit penanganannya. Dua kasus patah tulang tersebut bisa berakibat fatal berupa cacat permanen bahkan kematian.Tidak banyak rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan untuk kasus-kasus patah tulang dengan tingkatan tersulit tersebut.
Salah satu rumah sakit yang memiliki kompetensi menangani kasus patah tulang dengan kondisi tersulit adalah RS Siloam Mampang. Rumah Sakit yang berlokasi di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan tersebut memiliki tim dokter orthopedi yang sangat mumpuni. Didukung oleh teknologi modern, tim dokter RS Siloam Mampang pernah menangani kasus patah tulang dengan tingkatan paling sulit pada seorang pasien yang mengalami polytrauma dan multiple factures dalam satu waktu.
Polytrauma merupakan trauma yang terjadi pada beberapa bagian tubuh disertai oleh penurunan fungsi fisiologi yang dapat mengakibatkan disfungsi organ multipel bahkan kematian pada pasien. Sedang multiple fraktur adalah keadaan dimana terjadi hilangnya kontinuitas jaringan tulang lebih dari satu garis fraktur yang biasanya disebabkan oleh tekanan langsung atau tidak langsung pada permukaan tulang dengan gaya yang tinggi
“Saat itu kami dapat pasien kasus multiple fractures rujukan dari RS Siloam Kebon Jeruk, seorang pekerja yang jatuh dari ketinggian lantai 3 dengan kondisi patah tulang di lima area,” kata Prof. Dr.dr Ismail Hadisoebroto Dilogo SpOT (K) Pelvic, Hip and Knee, dokter bedah ortopedi subspesialis konsultan pelvic. hip and knee adult reconstruction dari RS Siloam Mampang Prapatan pada media gathering yang digelar Kamis (14/3/2024).
Diakui Prof Ismail, kasus ini merupakan kasus dengan tingkat kesulitan tinggi dikarenakan pada pasien tersebut didiagnosa Polytrauma ( Mild Head Injury, SDH Interhemisferik + Tentorial) dan Multiple Fraktur ( Pelvic Ring Fracture type A2 , Right acetabulum Fracture transverse- posterior wall type, Left Anterior Wall type Acetabular Fracture, Complete Linear Fracture of Bilateral Ramus Pubic and Inferior Pubic, Complete Transverse Fracture of the Left Surgical Neck Humerus, Comminutive fracture and dislocation of left distal humerus, complete transverse fracture of the left olecranon) dengan patahan hampir semua terletak di artikuler (sendi), yang penanganannya jauh lebih sulit dibandingkan fraktur yang berada di diafisis (batang tulang panjang). Serta outcome dari operasi pada artikuler biasanya lebih jelek dibandingkan fraktur yang berada pada diafisis.
“Tentunya dibutuhkan kolaborasi multidisiplin dari dokter Emergency, SpBS, Anestesi, SpPD, Rehab Medik, dengan keahlian khusus dari dokter SpOT,” lanjut Prof Ismail.
Prof Ismail bersama timnyadi RS Siloam Mampang yakni dr. M Triadi Wijaya SpOT (K) dan dr. Riky SpOT berhasil menangani kasus tersebut dengan baik. Kolaborasi multidisiplin pada kasus ini sukses dijalani sehingga pasien tertangani dengan baik dan saat ini pasien dapat beraktifitas kembali di kehidupan sehari-harinya.
Prosedur yang dilakukan oleh Prof. Ismail beserta dengan timnya adalah ORIF (Open Reduction Internal Fixation) dan Percutaneus Screwing. ORIF adalah suatu jenis operasi dengan pemasangan internal fiksasi yang dilakukan ketika fraktur tidak dapat diredukasi secara tertutup. Sedangkan Percutaneus Screwing adalah operasi dengan minimal invasive untuk memfiksasi tulang patah yang salah satunya adalah untuk Fraktur Acetabular karena kompleks nya anatomi dari pelvis.
“Setelah tindakan selesai, pasien disarankan untuk rutin melakukan fisioterapi selama masa penyembuhan agar hasil dari operasi dapat tercapai dengan sempurna,” lanjut Prof. Ismail.
Kasus Pinggul Memendek
Selain polytrauma dan multiple fractures, tim medis RS Siloam Mampang juga pernah menangani kasus tersulit sendi pinggul yang memendek dan menyatu dengan teknik operasi primary difficult Total Hip Replacement (THR). Ini adalah operasi yang dijalankan pada pasien yang memiliki komorbid dengan gangguan pada tulang atau jaringan lunak.
“Pasien ini menderita TBC tulang sehingga mengakibatkan tulang pinggul sebelah memendek 3 Cm. Jalannya menjadi pincang,” jelas Prof. Ismail.
Meskipun prosedur yang dilakukan adalah sama dengan penggantian penggantian sendi pada panggul secara keseluruhan atau yang biasa dikenal dengan THR namun pada pasien pasca Coxitis TB dengan sendi yang sudah menyatu dan memendek 3 cm adalah kasus dengan kesulitan tingkat tinggi.
“Dan hal tersebut membutuhkan pendekatan terencana, komprehensif dari dokter bedah ortopedi subspesialis konsultan yang berpengalaman agar tidak lagi berjalan pincang, tungkai sama panjang, bebas nyeri, pulihnya rentang gerak sendi pinggul, bisa kembali sholat posisi duduk sempurna dan tidak membuat adanya komplikasi setelah operasi,” tutur Prof. Ismail.
THR adalah operasi penggantian sendi pinggul yang rusak, yaitu tulang dan tulang rawan yang rusak akan diganti, kepala tulang femur akan diganti dengan logam atau keramik, dan permukaan tulang rawan yang rusak dari soket dihilangkan dan diganti dengan soket logam.
Kasus ini ditangani dengan pendekatan komprehensif, orthopaedi rekonstruksi, penyakit dalam, anasthesi, bedah saraf dan rehabilitasi medis dan berbasis team work. “Alhamdulillah, saat ini pasien sudah bisa beraktivitas dengan normal, jalan tidak lagi pincang,” tambahnya.
Lebih lanjut Prof Ismail menjelaskan bahwa penanganan kasus patah tulang bukanlah sekadar menyambung tulang yang patah atau retak. Tetapi bagaimana pasca penyambungan, pasien bisa kembali beraktivitas normal.
“Kalau dia seorang muslim, maka bagaimana bisa menjalankan shalat dengan benar terutama posisi tulangnya,” jelas Prof Ismail.
Mengembalikan fungsi tulang pasca patah seperti ini tentu saja tidak dijumpai pada penanganan patah tulang yang dilakukan oleh dukun atau tukang urut patah tulang. Mereka biasanya hanya sekadar meluruskan tetapi tidak bisa memastikan apakah tulang yang diperbaiki nantinya bisa kembali berfungsi normal.
“Sebenarnya tulang yang patah itu akan nyambung dengan sendirinya dalam waktu tertentu. Tetapi bagaimana nyambungnya itu benar, itu yang jadi masalahnya,” kata Prof Ismail.
Karena itu, pada kasus patah tulang, Prof Ismail menyarankan agar masyarakat mendatangi tim medis (dokter). Pergi ke dukun patah tulang bukanlah tindakan yang tepat.
Ia mengakui sebagian masyarakat yang mengalami patah tulang enggan untuk ke dokter karena takut akan dioperasi. Namun ia memastikan bahwa tidak semua kasus patah tulang harus menjalani prosedur operasi. Pada kasus patah tulang yang tergolong ringan, acapkali pasien hanya mengenakan gips untuk mengindari geseran tulang yang patah selama masa penyambungan.
“Jadi nggak perlu khawatir ketika datang ke dokter. Tidak selalu ada tindakan operasi. Hanya sekitar 10 sampai 15 persen kasus patah tulang berakhir di meja operasi,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa tulang adalah organ tubuh yang paling unik karena mampu meregenerasi dirinya sendiri secara sempurna. Artinya, tulang yang patah bisa sembuh dengan sendiri seiring waktu tanpa perlu dilakukan operasi. Peran operasi hanyalah untuk memposisikan tulang yang sudah patah dalam kondisi yang benar ketika sembuh nantinya.
Senada juga disampaikan dr. M Triadi Wijaya SpOT (K). Menurutnya penanganan patah tulang tidak selamanya harus operasi. “Semua tergantung pola patahannya. Kalau patahnya tidak stabil, tentu harus operasi. Tindakan ini penting untuk memfasilitasi penyambungan tulang dengan benar,” ungkapnya.
Lansia adalah kelompok masyarakat yang rentan mengalami kasus patah tulang, gangguan sendi dan panggul. Karena itu sangat disarankan mereka yang sudah memasuki usia 30-40 tahun, melakukan deteksi dini kepadatan tulang. Tujuannya untuk mencegah terjadinya pengeroposan tulang yang pada akhirnya dapat memicu patah tulang.
“Keropos tulang adalah gangguan kesehatan yang tidak menampakkan gejala. Tahu-tahu penderita mengalami patah tulang meski awalnya tidak ada keluhan apapun. Ibaratnya pada lansia, batuk pun bisa jadi penyebab patah tulang,” ujarnya.
Selain kasus-kasus tersebut, tim medis RS Siloam Mampang juga pernah menangani kasus nyeri pinggul pada seorang penderita Systemic Lupus Erythematosus atau biasa disebut lupus. Pasien wanita berusia 29 tahun tersebut mengeluh kedua pinggul sakit. Rasa nyeri tersebut menjalar ke bagian depan, tengah dari paha pasien. Tim dokter RS Siloam Mampang melakukan core decompression and bilogical treatment pada pasien tersebut dan pada akhirnya berhasil menghilangkan rasa nyeri di pinggul.
Layanan lain yang juga bisa diberikan oleh tim medis RS Siloam Mampang adalah operasi pergantian sendi. Operasi jenis ini tergolong aman dan jarang menimpulkan efek samping.
Operasi rekonstruksi sendi panggul maupun lutut, direkomendasikan bagi mereka yang berusia 60 tahun ke atas dengan keluhan nyeri sendi dan fungsi yang terganggu, serta tidak memberikan respon setelah terapi non operasi. Selain itu juga pada untuk kasus pengapuran sendi panggul sekunder derajat berat karena autoimun, avaskuler nekronis, trauma dan lainnya.
“Operasi ini bertujuan menghilangkan nyeri dan meningkatkan fungsi sendi sehingga diharapkan pasien dapat beraktivitas seperti sebelumnya,” jelas Prof Ismail.
Resep Boleh Sama
Sementara itu Dr.dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Direktur Siloam Hospital Mampang mengatakan masalah dan penanganan seputar sendi, tulang dan pinggul merupakan satu kesatuan dan juga polemik bagi masyarakat, khususnya bagi yang menetap di sejumlah kota besar. Pasalnya jarang ditemukan satu rumah sakit yang secara khusus menangani persoalan tulang, sendi dan pinggul secara kompetensi dengan melibatkan sejumlah lintas disiplin ilmu.
“Kami di RS Siloam Mampang menangani kasus-kasus seputar sendi, tulang dan pinggul dari yang termudah hingga kasus tersulit,” jelasnya.
Kasus tersulit yang sudah pernah ditangani oleh tim medis RS Siloam Mampang adalah kasus polytrauma dan multiple fractures yang melibatkan sendi khususnya; Pelvic Acetabulum. Juga penanganan Total Hip Replacement, yaitu pergantian tulang panggul yang umum terjadi saat manusia di fase lanjut usia.
Sebagai pusat unggulan layanan Orthopedi, Siloam Hospitals Mampang melihat polemik tulang sendi dan panggul bagi warga ibukota adalah suatu tantangan dan peluang,
“Karena masih sedikit bahkan terbilang jarang, ada sebuah rumah sakit yang melibatkan penanganan multidisiplin ilmu untuk sejumlah kasus tulang dan sendi secara komprehensif, dan umumnya masyarakat ibukota menuju ke kami di Siloam Hospitals Mampang sebagai pusat rujukan dan unggulan penanganan mengenai Orthopedi,” tutur Dr. Wahyuni.
Ia mengaku bahwa saat ini banyak rumah sakit yang menyediakan layanan orthopedi. Namun tingkat keberhasilan pengananan kasus orthopedi tidaklah sama. “Resep boleh sama, tetapi hasilnya akan berbeda,” jelasnya.
Ia berharap ke depannya lebih banyak pasien kasus orthopedi yang bisa ditangani di RS Siloam Mampang dengan hasil jauh lebih baik. (in/fs)








Komentar