oleh

Gelar Media Gathering, M4CR Targetkan Rehabilitasi 12 Ribu Hektare Hutan Mangrove di Kaltim hingga Akhir 2026

SAMARINDA – Kementerian Kehutanan RI lewat Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) menargetkan merehabilitasi 12.000 hektare hutan mangrove di Kalimantan Timur hingga akhir 2026. Upaya tersebut telah dan akan dilaksanakan di lima kabupaten/kota, termasuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), sebagai bagian dari pemulihan ekosistem pesisir.

Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Manager BRGM Kalimantan Timur, Asman Azis, mengatakan rehabilitasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki kawasan mangrove yang telah mengalami kerusakan. “Capaian itu diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat untuk turut berkontribusi dalam menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove,” katanya pada acara Media Gathering Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) yang berlangsung di Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (30/7) malam.

Berdasarkan data Peta Mangrove Nasional, Kalimantan Timur masih memiliki sekitar 240.000 hektare mangrove yang eksisting. Dari luasan tersebut, sekitar 80 persen masih tergolong lebat, 15 persen berkategori sedang, dan sekitar lima persen telah jarang atau mulai mengalami kerusakan.

Sementara itu, terdapat sekitar 111.000 hektare kawasan yang berpotensi direhabilitasi karena telah mengalami alih fungsi sehingga tidak lagi berupa hutan mangrove. “Kalau target kami terpenuhi semuanya sampai di akhir tahun ini, kami mungkin akan menanam di sekitar 12 ribuan hektare di Kalimantan Timur,” kata Asman dalam Dialog Media bertajuk Potret dan Transformasi Mangrove Kalimantan Timur.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPDAS Mahakam Berau Kementerian Kehutanan, Indi Hendraswari, mengatakan keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang ditanam. “Tapi keberlanjutan ekologi dan ekonomi masyarakat menjadi faktor yang menentukan keberhasilan program tersebut dalam jangka panjang,” paparnya.

Indi menjelaskan, rehabilitasi mangrove harus mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang selama ini bergantung pada kawasan pesisir. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari program rehabilitasi.

Indi menyebut terdapat tiga kunci utama agar rehabilitasi mangrove dapat berjalan berkelanjutan, yakni transfer pengetahuan, transfer keterampilan, dan perubahan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan kawasan mangrove.

Sebagaimana diketahui, M4CR merupakan sebuah program nasional di Indonesia yang berfokus pada rehabilitasi hutan mangrove dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Program ini dijalankan oleh pemerintah bekerja sama dengan lembaga internasional seperti Bank Dunia untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir.

Pada hari pertama media gathering yang diisi acara diskusi dibuka oleh Fajar Aryanto selaku Communication, Outreach, and Social Media Specialist M4CR. Menurutnya ini merupakan kegiatan yang ke-3. “Sebelumnya M4CR telah melakukan kegiatan yang sama di Sumatera Utara dan Riau. “Rencananya nanti yang ke-4 akan dilakukan di Kalimantan Utara,” jelas Aryanto.

Pada kegiatan di Kalimantan Timur yang berlangsung hingga akhir pekan, tambah Ayanto, pada hari kedua melakukan kunjungan ke kawasan Ibukota Negara (IKN) dan sekitarnya. Pada sesi ini, para peserta diajak bertualang ke daerah pesisir untuk memantau kondisi hutan mangrove sekaligus menanam pohon mangrove yang berfungsi menjaga eko sistem laut. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *