oleh

Dahlan Iskan: “17 Tahun Lalu Transplantasi Hati dan Kini Saya Sudah 70 Tahun”

POSKOTA.CO – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menjadi salah satu penyintas kanker hati. Melalui pengobatan transplantasi atau cangkok hati yang dilakukan di Tianjin First Center Hospitan, China pada 6 Agustus 2007, Dahlan Iskan yang awalnya divonis bisa bertahan hidup hanya 6 bulan, nyatanya dapat bertahan hingga usianya yang kini menginjak 70 tahun.

“17 tahun lalu saya operasi transplantasi hati dan kini saya sudah 70 tahun,” kata Dahlan Iskan pada webinar ‘From Heart to Heart: Dukungan untuk Pejuang Kanker Hati dan Kanker Tiroid’ yang digelar Inspirasien, berkolaborasi dengan Yayasan Sahabat Hati Indonesia, Komunitas Pita Tosca Indonesia, PT Eisai Indonesia, dan Harian Disway pada Ahad (20/02/2022).

Seperti halnya pasien lain, Dahlan Iskan mengaku tak memiliki gejala yang khas sebelum akhirnya dokter memvonis kanker hati. “Sebelum akhirnya divonis kanker hati, saya tidak merasakan keluhan apapun, tidak ada demam, tidak merasakan lemas atau keluhan aneh lainnya,” tutur Dahlan Iskan.

Ia mengetahui menderita kanker hati ketika suatu hari mengalami demam tinggi dan muntah darah dalam volume yang cukup banyak. Setelah diusut, diketahui bahwa perdarahan tersebut muncul akibat varises kerongkongan sebagai akibat komplikasi dari penyakit hati yang dideritanya tanpa beliau sadari.

Saat memeriksakan diri ke dokter, Dahlan Iskan didiagnosis menderita hepatitis B kronis dengan sirosis hati, dimana ternyata sudah mulai muncul benjolan di organ hati yang kemudian diketahui merupakan sel-sel kanker. Sedihnya waktu itu tim dokter memberikan aba-aba bahwa usianya tinggal 6 bulan. Pengobatan yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan transplantasi hati.

Lalu Dahlan Iskan pun menjalani operasi cangkok hati di Tianjin First Center Hospitan, China pada 6 Agustus 2007. “Itu dilakukan sudah 17 tahun yang lalu dan sekarang saya sudah 70 tahun,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, FINASIM yang juga merupakan Ketua dan Founder dari Yayasan Sahabat Hati Indonesia, menjelaskan penyakit hati di Indonesia termasuk permasalahan masyarakat yang besar. Beberapa penyakit hati termasuk dalam penyakit katastropik pada BPJS sehingga memerlukan pembiayaan kesehatan yang besar. Sementara itu kesadaran masyarakat tentang penyakit hati masih rendah sehingga pasien dengan penyakit hati yang datang berobat di pusat kesehatan sudah dalam keadaan lanjut. Saat ini masih sangat sedikit organisasi kemasyarakatan yang berorientasi pada penyakit hati di masyarakat. Sehingga dirasakan perlu untuk mendirikan sebuah lembaga masyarakat (NGO) yang akan bekerja berorientasi pada penyakit hati di masyarakat. Hal tersebut tertuang dalam visi-misi Yayasan Sahabat Hati Indonesia yang berperan aktif dalam pendampingan pejuang kanker hati.

Prof Rino juga berupaya mengedukasi bahwa pada kenyataannya 80 persen lebih kasus hepatitis tidak bergejala seperti yang pak Dahlan Iskan rasakan, sehingga seringkali pasien datang dalam kondisi yang sudah terlambat. Sebaiknya, individu yang merasa pernah terinfeksi oleh virus hepatitis B dan C tentu harus secara berkala, biasanya 6 bulan atau 1 tahun sekali melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan awal pun cukup mudah, yakni dengan tes SGOT dan SGPT (indikator sensitif dari kerusakan hati). “Walaupun banyak orang yang merasa bahwa ia sehat, belum tentu sebetulnya kondisi hatinya baik-baik saja. Ada baiknya kita memeriksakan kesehatan hati kita secara berkala,” begitu penjelasan Prof Rino yang juga menjadi salah satu penasihat dalam Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia.

Menurut data Globocan pada tahun 2020, penderita kanker hati di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 21.392 kasus dengan kematian sebanyak 20.920 kasus. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) juga menyebutkan jika kanker hati termasuk penyebab kematian tertinggi bagi penduduk Indonesia. Hal ini terjadi karena seringkali pasien sudah datang saat sudah stadium lanjut atau saat kondisi sudah berat. Padahal kemungkinan kanker hati untuk sembuh bisa lebih besar jika dapat terdeteksi dan ditangani lebih awal.

Selain Dahlan Iskan, dalam acara tersebut turut hadir juga artis sekaligus influencer Talitha Latief untuk berbagi cerita sebagai pejuang kanker tiroid. Juga dr. Alvita Dewi Siswoyo, Sp.KN(K), M.Kes., FANMB yang membahas “Mengenal Seputar Kanker Tiroid”. (fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *