JAKARTA – Anemia defisiensi besi (ADB) masih menjadi masalah serius di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menyebutkan sebanyak 23,08 persen anak usia 0-4 tahun mengalami anemia. Angka ini sudah tergolong darurat menurut standar WHO, karena prevalensi di atas 20% sudah masuk kategori masalah kesehatan masyarakat yang kronis.
Karena itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengajak orang tua untuk lebih memperhatikan asupan gizi pada anak balita, terutama pasca ASI Ekslusif guna mencegah anemia pada anak. “Anemia pada anak harus menjadi prioritas penanganan nasional. Ini topik yang masih jarang dibahas publik,” ujar Menteri Arifah pada Talkshow bertema Pentingnya Makan Bergizi dan Fortifikasi untuk Cegah Anemia pada Anak yang digelar pada Rabu (6/8/2025).
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi tentang fortifikasi sebagai strategi konkret dalam mencegah anemia defisiensi besi (ADB) sejak usia dini, terutama kepada ibu-ibu muda yang masih memiliki anak-anak balita. Pemenuhan gizi ini menjadi prioritas utama dalam keluarga karena untuk membangun generasi yang berkualitas.
Menurut Menteri Arifah, istilah makanan bergizi fortifikasi itu masih menjadi istilah yang jarang didengar. Padahal strategi fortifikasi zat besi pada makanan ini penting untuk mencegah anemia dan defisiensi besi pada anak. “Ini program yang sangat strategis ini dan sangat tepat karena Fatayat beranggotakan ibu-ibu muda, sedangkan muslimat adalah ibu-ibu yang berjiwa muda,” tambahnya.
Menteri Arifah mengingatkan kekurangan zat besi pada anak, terutama mulai usia 6 bulan, bisa berdampak panjang terhadap tumbuh kembang, termasuk fungsi otak anak. Kekurangan zat besi pada anak berpotensi menghambat perkembangan fisik, kognitif, dan motorik anak, meningkatkan risiko stunting, serta berdampak negatif pada kemampuan belajar dan produktivitas di masa depan.
Ia mengajak kolaborasi berbagai pihak seperti Kementerian Kesehatan dan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat edukasi, pelayanan kesehatan, dan akses makanan bergizi. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemenuhan zat besi melalui program edukasi dan pemberdayaan, seperti yang diusung Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama, diperlukan untuk mewujudkan generasi anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif.
“Fatayat NU punya jaringan hingga ke akar rumput, jadi sangat strategis dalam menyebarkan informasi kesehatan berbasis komunitas dan nilai keagamaan,” ujar Menteri Arifah.
Menteri Arifah juga menekankan pentingnya peran keluarga dan komunitas untuk membangun kesadaran tentang pentingnya gizi anak.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI, Lovely Daisy, mengungkapkan bahwa ADB disebabkan oleh kurangnya konsumsi gizi mikro karena pola makan yang belum seimbang. Untuk itu, Kemenkes melakukan sejumlah strategi salah satunya adalah pemeriksaan kesehatan gratis di sekolah-sekolah, terutama untuk remaja, sementara untuk anak-anak di bawah usia 7 tahun, pemeriksaan bisa dilakukan di puskesmas terdekat. “Kita sudah mulai program pemeriksaan kesehatan pada anak-anak dan remaja,” katanya.
Menurutnya skrining kesehatan seperti kadar HB ini efektif untuk mendeteksi potensi anemia pada anak. Mengingat acapkali gejala anemia tidak ditunjukkan secara spesifik, kecuali pada kasus anemia berat, seperti lemas dan pucat.
Ia mengingatkan anak pasca ASI ekslusif membutuhkan tambahan zat besi agar terhindar dari anemia. Karena meski masih menyusu, kaadar zat besi pada ASI seiring waktu akan berkurang. “Karena itu penambahan zat besi pada MPASI sangat dibutuhkan. Bisa berupa daging atau hati,” tegasnya.
Senada juga disampaikan sokter spesiaalis anak dr. Agnes Tri Harjaningrum SpA. Dalam paparannya ia mengingatkan bahwa dampak anemia lebih dari sekadar keluhan fisik seperti lemas, kurang bergairah atau pucat.
“Anemia atau kekurangan zat besi bisa menurunkan IQ hingga 60 persen. Kalau kita ingin punya anak yang greenflag, kita harus ajarkan regulasi emosi sejak dini. Anak yang kekurangan zat besi cenderung tidak memiliki kontrol diri,” ujarnya.
Menurutnya, penyebab utama anemia pada anak biasanya berasal dari kesalahan pemberian MPASI atau pola makan yang tidak seimbang. Misalnya MPASI yang salah atau nutrisi yang tidak mencukupi. “Di Indonesia, kebiasaan makan anak sering kali terlalu dominan karbohidrat dan kurang protein hewani, sehingga berisiko mengalami anemia,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah III, Endah Sri Rejeki, mengatakan bahwa lingkungan dan keluarga merupakan faktor yang penting dalam pemenuhan hak gizi anak. Karena itu KemenPPPA selalu berupaya menyadarkan masyarakat untuk mengubah pola asuh menjadi lebih baik.
Ia juga menilai bahwa edukasi sejak dini sangat penting dalam membentuk generasi sehat dan berdaya saing. “Kami memastikan intervensi pada anak-anak dan remaja, karena mereka yang akan membawa masa depan. Misalnya melalui edukasi konsumsi tablet tambah darah. Selain itu, forum anak juga menjadi ruang penting dalam penanganan anemia,” ujarnya. (mk)







Komentar