POSKOTA.CO – Sekjen Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) Yuli Supriaty mengatakan banyak daerah yang mengklaim berhasil menurunkan prevalensi stunting bahkan ada yang sampai zero stunting. Padahal setelah melihat kondisi riil di lapangan, klaim tersebut tidak logis karena nyatanya kader menemukan adanya anak-anak dengan kondisi gizi kurang, sakit-sakitan dan lainnya.
“Kami berpikir bahwa banyak aparat yang belum memahami apa itu stunting, sehingga mereka berani mengklaim prevalensi stunting yang turun bahkan zero,” kata Yuli pada Diskusi Media Nasional bertajuk “Antara Data & Realita di Lapangan: “Apakah Angka Stunting akan Dapat diturunkan di angka 14% di tahun 2024”, Selasa (18/10/2022).
Selain Sekjen Kopmas, diskusi media menghadirkan narasumber Kepala BKKBN, Dr. (HC). dr. Hasto Wardoyo,SP.OG (K)., Komisi IX DPR RI, dr. H. Edy Wuryanto, S.KP., M.Kep., Plt. Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes dr. Ni Made Diah PLD, MK., Kader Pandeglang, Neneng.
Lebih lanjut Yuli mengungkapkan bahwa banyak orang tua yang masih abai terhadap gizi anak-anak. Akibatnya mereka salah memberikan asupan makanan pada anak-anak, seperti memberikan susu kental manis sebagai pengganti susu pada 1000 hari pertama kehidupan anak, kebiasaan konsumsi makanan instan, serta pemberian makanan padat untuk bayi sebelum usia 6 bulan.
“Susu kental manis, apakah digunakan sebagai bahan tambahan makanan atau dijadikan pengganti susu untuk balita dan anak-anak,” ujar Yuli.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan Air Susu Ibu (ASI) adalah nutrisi mutlak untuk anak usia hingga 6 bulan.”Setelah 6 bulan, harus diberikan MPASI. Jadi yang harus dipersiapkan oleh ibu adalah belajar membuat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), namun untuk anak-anak dengan kondisi khusus, dibolehkan minum susu sesuai dengan rekomendasi dokter,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hasto juga mengingatkan untuk waspada terhadap cara konsumsi kental manis yang tidak tepat. “Konsumsi kental manis yang dijadikan minuman susu untuk anak harus selalu diperangi, BKKBN akan lebih banyak lagi memerangi hal hal yang tidak benar,” tegas Hasto.
Senada dengan Hasto, Plt. Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, dr. Ni Made Diah mengatakan selain melalui edukasi, Kemenkes juga melakukan pemantauan implementasi dari edukasi tersebut di lapangan.
“Program-program Kemenkes akan diukur oleh indicator keberhasilan. Misalnya terkait pengawasan makanan anak, kita lihat persentase bayi memmperoleh ASI ekslusif. Pada masa MPASI, dipastikan apakah mengandung karbohidtrat, protein, dan yang pasti tidak ada susu kental manisnya. Kader-kader kesehatan harus memonitor itu,” jelas Diah.
Diah juga menegaskan, Kemenkes bersama BPOM juga telah mengumumkan bahwa susu kental manis bukan merupakan golongan susu untuk mengantisipasi agar masyarakat tidak salah memilih susu dalam memberikan MPASI untuk anak. Dengan demikian, upaya-upaya pencegahan stunting dapat dioptimalkan untuk mengejar target penurunan stunting.
Sebagaimana diketahui, permasalahan Stunting dan gizi buruk di Indonesia menjadi Pekerjaan Rumah yang belum dapat diatasi, dimana angka stunting masih cukup tinggi yaitu sekitar 24 persen lebih. Pemerintah menunjuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai pelaksana perecepatan penurunan angka stunting nasional dengan target penurunan menjadi 14 persen di tahun 2024. (in/fs)







Komentar