oleh

Posisi Duduk Anak yang Salah Berisiko Alami Gangguan Skoliosis

POSKOTA.CO-Saat anak duduk, perhatikan posisinya. Jangan diabaikan jika anak duduk dalam posisi yang salah. Karena duduk dalam posisi yang salah atau keliru, dalam jangka panjang dapat mengganggu perkembangan tulang belakang anak. Salah satu risiko yang paling besar diderita anak ketika duduk dalam posisi salah terus berulang adalah munculnya gangguan skoliosis.

Dokter spesialis Ortopedi di Siloam Hospitals Bogor, dr Peterson S SpOT(K) menjelaskan, skoliosis adalah kondisi di mana tulang belakang melengkung, seperti huruf C atau S. Skoliosis lebih sering ditemukan pada anak-anak sebelum masa pubertas, yaitu sekitar usia 10-15 tahun. Skoliosis yang terjadi biasanya ringan, namun dapat berkembang menjadi lebih parah seiring pertambahan usia, khususnya pada wanita.

“Bila skoliosis menjadi parah, bisa menyebabkan penderitanya mengalami gangguan jantung, paru-paru, atau kelemahan pada tungkai,” kata dr Peterson disela Bincang Sehat bersama Sekolah Dian Harapan Daan Mogot, Jakarta Barat dengan dokter spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Bogor, Jumat (2/10/2020).

Untuk mengetahui gejala dini skoliosis, lanjut, dr Peterson adalah dengan menempatkan anak di ruangan yang luas dan sepi dengan lepas baju dan celana. Minta anak berdiri tegak dan posisi orangtua di belakang punggung anak lalu di depan anak. Kemudian anak diminta membungkuk. Hal itu dilakukan dengan penilaian tentang kesejajaran bahu kedua sisi, kesejajaran tonjolan tulang belikat, kesejajaran lipatan pinggang, kesejajaran kedua siku, kesejajaran pinggul.

“Jika melihat adanya tanda tanda asimetris (ketidakseimbangan komposisi) dalam pemeriksaan orangtua, setidaknya ada tiga tanda pada bahu, pada punggung dan tulang pinggul, maka bisa jadi itu gejala skoliosis,” ungkapnya.

Sementara itu, Dokter Rehabilitasi Medis di Siloam Hospitals Bogor dr Nur Indah Lestari SpKFR menambahkan, adapun klasifikasi skoliosis terbagi menjadi empat, yaitu Infantile (0-2 tahun), Juvenile (3-9 tahun), Adolescent (10-17 tahun), Adult (18 tahun+).

“Faktor risiko skoliosis adalah jenis kelamin dan lebih dominan terjadi pada anak perempuan. Hal itu diduga karena faktor gen dan keturunan. Tahap pertumbuhan tulang, lokasi kurva, defek jaringan ikat, rotasi tulang belakang, dan riwayat keluarga,” jelasnya.

Menurut dr Nur, adanya penanganan skoliosis sejak dini bermanfaat pada peningkatan kualitas hidup, estetika, menghindari nyeri punggung, dan fungsi pernafasan tidak terganggu jika bertambah dewasa.

“Sedangkan tujuan pengobatan/pemulihan (exercise) adalah untuk memperbaiki ketidak seimbangan otot, meningkatkan kekuatan otot, mengurangi nyeri, memperbaiki kontrol postur, dan memperbaiki fungsi respirasi, serta meningkatkan fleksibilitas,” tutupnya.

Jika tidak segera ditangani, hal itu akan mempengaruhi postur tubuh hingga mengalami gangguan jantung. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *