JAKARTA – Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menilai bahwa Ali Sadikin bukan sekadar pemimpin daerah, tetapi seorang negarawan yang memiliki visi jauh ke depan dan diakui dunia. Ali Sadikin dalam meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta berhasil menempatkan seni sebagai hak publik yang sejajar dengan kesehatan dan pendidikan.
Hal itu disampaikan pria yang akrab dipanggil ‘Bang Foke’ pada acara penutupan Rangkaian Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin di Jakarta, Kamis (16/7). Rangkaian peringatan yang berlangsung pada 7–14 Juli 2026 resmi ditutup dengan sesi Memorial Lecture yang menghadirkan Gubernur DKI Jakarta ke-13 periode 2007-2012.
Dalam peparannya, Foke menegaskan peran besar Ali Sadikin dalam meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan Jakarta dengan menempatkan seni sebagai hak publik dengan status tinggi. “Seni dan budaya diposisikan sebagai barang publik. Dia tidak harus mendatangkan keuntungan, tapi wajib ada,” ujar Foke yang juga dikenal sebagai tokoh Betawi.
Foke menceritakan, gagasan Ali Sadikin membangun Taman Ismail Marzuki (TIM) berawal dari pertanyaan sederhana kepada para seniman. “Dulu itu di Senen seniman-seniman pada ngumpul, sekarang pada ngumpul di mana?” kata Foke menirukan ucapan Bang Ali. Pertanyaan itu kemudian melahirkan gagasan menyediakan ruang bagi ekosistem seni di bekas kawasan Kebun Binatang Cikini.
Menurut Foke, bagi Ali Sadikin, membangun gedung saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah menjamin kebebasan para seniman untuk berkarya tanpa campur tangan pemerintah. Ia pun mengutip salah satu pernyataan ikonik Bang Ali, “Pemerintah tidak boleh ikut campur dan menentukan. Biar para seniman itu sendiri, bebas. Mereka merdeka dalam berkarya.”
Prinsip tersebut menjadikan TIM bukan sekadar kompleks pertunjukan seni, melainkan wujud tanggung jawab negara dalam menyediakan ruang kreativitas bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan anggaran pada awal masa kepemimpinannya, Ali Sadikin membuktikan bahwa visi yang kuat mampu melahirkan pembangunan besar.
Pada kesempatan itu, Foke mengusulkan kepada Pemprov DKI agar Memorial Lecture menjadi agenda tahunan mulai tahun depan sebagai bagian dari rangkaian menuju peringatan 500 tahun kota Jakarta. Menurutnya, Ali Sadikin bukan sekadar pemimpin daerah, tetapi seorang negarawan yang memiliki visi jauh ke depan dan diakui dunia.
Salah satu warisan terpenting Bang Ali, lanjut Foke, adalah keberaniannya menetapkan kebudayaan sebagai barang publik sejak 1968. Prinsip tersebut menjadi pijakan Ali Sadikin saat mendirikan TIM sebagai pusat kesenian Jakarta dan berbagai ruang publik lainnya. (jo)







Komentar