oleh

Pedagang Pasar Pramuka Pertanyakan Turunkan Harga Sewa Kios untuk Siapa

JAKARTA – Aktivitas berjualan pedagang obat di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, kembali seperti biasanya setelah sebelumnya tutup karena diduga ada intimidasi dari oknum mafia kios. Bahkan, sudah dua pedagang yang tokonya sempat disegel, telah bersedia memenuhi kewajibannya dengan membayar tunggakan.

LT (37), salah satu pedagang mengatakan, dirinya pribadi yang sudah berjualan selama lima tahun belakangan mengaku mendukung upaya revitalisasi. Namun, ketika diminta tutup pada Kamis (13/11/2025) dan Jumat (14/11/2025), malah membuatnya rugi. “Yang pasti kawan-kawan yang ada di pasar sudah mengeluh, karena baru tutup dua hari dan mengalami kerugian,” katanya, Selasa (18/11/2025).

Menurut LT, dirinya sempat menanyakan aksi solidaritas yang sempat melakukan penutupan untuk menolak harga sewa kios. Namun, solidaritas itu harus dilakukan sampai kapan, sementara berjualan demi mencari makan para pedagang harus tetap berjualan.

“Jangan ngotot cuma di harga doang. Tapi saat ini yang terjadi, pengurus malah mengusahakan harga biar turun dan yang menjadi pertanyaan saya, itu buat siapa? Buat yang punya kios banyak atau buat ke semuanya? Kalau buat ke semuanya kenapa pengurus tak memikirkan orang yang sudah bayar, buka dan segala macam,” ujar LT.

Dikatakan LT, permasalahan yang terjadi sudah berlangsung berlarut-larut dan tak terselesaikan dengan baik sehingga merugikan pedagang. Ini harus segera diselesaikan sehingga pengurus yang menamakan tim 15 harus juga punya tenggang rasa. “Tapi kalau sudah begini ya bagimana respon pengurus sampai akhirnya jadi banyak pemikiran lain dari pedagang,” imbuhnya.

LT menambahkan, saat ini ada juga pedagang yang menyebut jika tim 15 kerap meminta turun harga sewa kios ke Perumda Pasar Jaya. Dan ketika si penyewa kios sebagai pihak ketiga meminta turun harga apakah bersedia diturunkan juga.

“Dan yang jadi pertanyaan itu simpel sebenarnya, apakah ketika turun harga kontrak toko akan diturunkan, itu yang menjadi pertanyaan. Karena selama ini kontrak toko yang ada terus naik seperti di lantai 1 harganya 50-60 juta rupiah per bulannya, kalau di lantai dasar saya kurang paham,” terang LT.

Para pedagang, sambung LT, mengharapkan semua masalah yang terjadi dapat segera terselesaikan. Kalau memang harus dirampungkan dengan saling adu data harus dibuat komitmen ketika siapa yang kalah ya harus ikut ketentuan.

“Sekarang itu harus ada data, antara tim 15 dengan Perumda, tapi harus buat komitmen ketika siapa yang kalah harus ikut, kan kita ngga bisa menilai oh itu kemahalan. Sebagai contoh kita mau beli rumah di Kelapa Gading nyari yang Rp250 juta nggak akan ada, cari rumah di PIK seharga Rp1 miliar nggak bakal dapat, posisinya harus diimbangi dengan letaknya juga, kecuali pasar itu pasar yang nggak hidup,” ungkap LT.

Sebelumnya, Perumda Paya Jaya menyegel tempat usaha yang selama ini dikontrakkan ke pihak ketiga oleh pemiliknya. Hal itu pun membuat aksi penutupan toko pada Kamis (13/11/2025) lalu. “Kami menyegel 20 tempat usaha karena para pedagang mengontrak. Dan di Pasar ini dari 401 tempat usaha, 204 ternyata dikontrakan ke pihak ketiga. Dan sampai hari ini sudah dua tempat usaha yang sudah membayar dan kios kembali dibuka,” kata Kepala Divisi Operasional Pasar Wilayah II Perumda Pasar Jaya Yohanes Daramonsidi.

Perumda Pasar Jaya juga akan merevitalisasi Pasar Pramuka dan menetapkan harga sewa baru tempat usaha. Bahkan, penurunan harga terus dilakukan agar tidak memberatkan pedagang dari Rp600 juta kemudian terus menjadi Rp450 juta, sampailah dengan harga yang terakhir.

“Harga yang kami sampaikan sekarang ini adalah kios Rp390 juta untuk lantai dasar, kemudian Rp345 juta untuk lantai 1. Jadi ini kios standar 4 meter. Kalau di breakdown ke meter berarti untuk lantai dasar itu Rp97 juta per meter, untuk lantai 1 itu Rp86,250 juta per meter,” papar Johanes. (*/ifand)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *