oleh

Parfi Mau Kongres Lagi

-Komunitas-204 views

POSKOTA.CO – “Ini mau apalagi, bang?” tanya saya bernada keluh kepada Soultan Saladin, aktor kawakan, sohib lama, yang menggagas bikin kongres Parfi lagi. “Parfi harus dibenahi, tapi kali ini harus serius tapi santai,” jawabnya di pendopo di Pondok Bambu, Jakarta Timur, kemarin sore. Wajahnya cerah seperti biasanya. Dia dikeliling sejumlah aktor lain. Di masa Covid-19 ini, kami tak salaman dan pelukan, tapi ada sodokan tinju lembut.

Sebelumnya saya diundang rekan Matt Bento alias Herman Wijaya untuk ketemuan dengan Soultan Saladin buat ngopi. Saya langsung mengiyakan. Soalnya dia itu seru. Ngobrol dengannya selalu ada cerita asyik. Mau bohong, mau ngarang sama serius dan sama lucunya.

“Dia mau bikin kongres lagi,” bisik Matt Bento lagi.

“Ya, Tuhan,” kali ini saya mengeluh. Rasanya baru kemarin saya membahas Parfi bareng Soultan di sebuah taman dekat Kebon Raya Bogor, dan mempersilakan sohibnya, aktris lawas, Alicia Johar untuk melanjutkan acara kongres dan kepengurusannya bila terpilih.

Saya pun menemui Alicia mewawancarainya setelah terpilih. Juga menyambangi Lela Anggraini yang juga maju ke pemilihan, di rumahnya di Cibubur. Semuanya teman lama. Saya meliput kongresnya juga, Maret 2019 lalu, di sebuah hotel di Mampang, Jakarta. Saya betul-betul sedih.

Mereka satu semangat dan punya pernyataan sama: “Parfi harus bangkit, bersatu dan semua harus dirangkul disatukan sebagai kekuatan. Karena Parfi masih punya potensi dan masa depan”.

Tapi tak lama kemudian ribut juga sesamanya. Ini adalah pertikaian dan kongres ke sekian kalinya.

Parfi memiliki sejarah dalam perjalanan jurnalistik saya. Ini adalah pos saya pertama di film, sebelum saya mangkal di Dewan Film, Menteng untuk meliput kronik seputar film organisasi lain, seperti PPFI, KFT, GPBSI dan lainnya. Sejujurnya Parfi memang paling ‘seksi’ di antara organisasi film yang ada. Dulu hingga kini.

Bahkan setelah lagi organisasi artis film lain seperti GAN (Gabungan Artis Nusantara) bentukan Camelia Malik atau Parsi (Persatuan Artis Sinetron) yang dipelopori Anwar Fuady dan yang baru RAI (Rumah Aktor Indonesia), bentukan Lukman Sardi, Parfi masih tetap ‘living legend’. Seksi.

“Sampai hari ini pun Parfi masih seksi,” kata Eddy Karsito, aktor film sinetron dan wartawan di pendopo sore itu. “Terutama di daerah, mas,” lanjutnya.

Saya ngepos di Parfi sejak diketuai almarhum H Ratno Timoer (1942-2002), aktor kawakan, ganteng dan berkharisma. Padanya ada sisi kelembutan, mengayomi. Tapi pada momen yang lain keluar ‘Arek’-nya. Sangar dan menakutkan. Teman-teman Parfi segan padanya. Tokoh organisasi film pun menghormatinya. Dialah aktor paling ‘legend’ yang memimpin organisasi aktor aktris film di Indonesia sejauh ini.

Saya mencoba mengonfirmasi semua pernyataan orang-orang film. Semua teriaknya sama bang. Ingin mempersatukan artis, semua mau merangkul, tapi nggak bersatu juga. Bagaimana ini, bang?” saya bertanya agak serius.

“Tidak semua dirangkul! Ada juga mesti yang dibunuh!” mendadak Soultan berteriak dengan nada tinggi.

“Orang yang cuma ngacau, bikin intrik-intrik, bikin perpecahan, lalu lari mesti dibunuh, macam si itu. Dia mesti dibunuh!” katanya sambil menyebut nama.

Terbayang sosok itu perlente yang muncul di semua acara kongres Parfi, dari kubu mana pun. Dan gemar provokasi. Saya tak kenal sosok dan nama itu sebelumnya.

“Kalau yang dia itu bukan teman saya, bang!” saya pun menyanggah. “Kalau abang mau bunuh, ya, bunuh aja!” dukung saya, bernada tinggi juga.

Kali ini Soultan Saladin terkekeh.

Suasana pun cair lagi.

Biasa lah… Serius tapi santai. (supriyanto)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *