oleh

Memberi Maaf tatkala Mampu dan Berkuasa

ALLAH subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura, 42:40).

Keluhuran akhlak seseorang dan kemampuannya mengendalikan amarah tidak begitu mencolok dengan sikapnya memaafkan orang lain pada saat tidak berkuasa. Kemampuannya menahan amarah akan sangat mencolok manakala dia memaafkan orang lain di saat dia berkuasa. Memberikan maaf tatkala mampu dan berkuasa adalah salah satu sifat menonjol dari Rasulullah Saw, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Rendah diri tidak menambah kepada seorang hamba kecuali pengangkatan, karena itu berendahdirilah kalian, niscaya Allah akan mengangkat derajat kalian. Memaafkan tidaklah menambah kepada seorang hamba kecuali kemuliaan, karena itu perbanyaklah maaf kalian niscaya Allah akan memuliakan kalian. Tiadalah sedekah itu melainkan makin menambah banyak harta, karena itu bersedekahlah kalian, niscaya Allah merahmati kalian.” (HR. Ibnu Abud Dun-ya).

Dalam hadis yang lain Beliau Saw. bersabda, “Tidak akan berkurang harta karena bersedekah dan tidak ada seorang pun yang dizalimi kemudian memberi maaf melainkan Allah akan menambah kemuliaan dirinya.” (HR. Ahmad).

Barang siapa yang ber-tawadhu karena Allah, niscaya Dia akan mengangkat kedudukannya; dan barang siapa yang memaafkan karena Allah, niscaya Dia akan memuliakannya; dan barang siapa yang bersedekah karena Allah, niscaya Allah akan memperbanyak hartanya.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ada tiga perkara, barang siapa ketiganya itu berada dalam dirinya niscaya Allah menempatkannya di bawah naungan-Nya dan Dia mencurahkan rahmat kepadanya, serta memasukkannya ke dalam surga-Nya yaitu, seseorang apabila diberi, dia bersyukur, apabila mampu membalas memaaf, dan apabila marah sanggup menahan diri.” (HR. Baihaqi melalui Ibnu Abbas r.a.).

Juga dalam hadis yang lain Beliau Saw. bersabda, “Siapa yang menahan (meredam) amarahnya padahal ketika itu dia mampu melampiaskannya maka di hari kiamat kelak Allah akan menyerunya dari barisan hamba-hamba-Nya yang terdepan (pilihan). Dia kemudian akan dipersilahkan untuk memilih bidadari mana yang diinginkan.” (HR. Ibnu Maajah).

Barang siapa yang dinaungi oleh Allah Swt. pada hari yang tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya berarti ia memperoleh limpahan rahmat dari-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam surga. Ada tiga syarat bagi orang yang menginginkan hal tersebut: pertama , hendaknya ia bersyukur bila diberi; kedua, apabila berkuasa untuk melampiaskan pembalasannya ia tidak mau membalas melainkan memberi maaf. Dalam hadits pertama telah disebutkan bahwa sifat pemaaf tiada menambahkan kepada diri seorang hambà, melainkan hanya kemuliaan belaka. Dan syarat yang  ketiga ialah hendaknya ia menahan emosinya apabila sedang marah.

Rasulullah  shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Ada tiga perkara, barang siapa ketiganya berada dalam dirinya niscaya Allah akan menghisabnya dengan penghisaban yang ringan dan Dia memasukkannya ke dalam surga, yaitu: hendaknya engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu, hendaknya engkau memaafkan orang yang berbuat aniaya kepada dirimu, dan hendaknya engkau menghubungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya darimu.” (HR. Hakim melalui Abu Hurairah r.a.).

Barang siapa yang menghendaki ringan dalam hisaban dan dimasukkan ke dalam surga dengan cepat, hendaknya ia memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadanya, dan memaafkan orang yang berbuat aniaya kepadanya, serta menghubungkan talisilaturahmi dengan orang yang memutuskannya dari dirinya.

Dalam  hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Ada tiga perkara yang ketiganya kuketahui sebagai perkara yang hak (benar), yaitu: Seseorang yang memaafkan suatu perbuatan aniaya, maka Allah menambah kemuliaan baginya; seseorang yang meminta-minta dengan tujuan untuk memperbanyak (harta) dengan cara itu, maka Allah menambah kefakiran baginya; dan seseorang yang bersedekah dengan mengharap pahala Allah Swt. maka Allah menambah hartanya karena sedekahnya itu.” (HR. Baihaqi melalui Abu Hurairah r.a.).

Dikisahkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, usai melakukan salah satu peperangan, duduk di kaki sebuah bukit. Lalu seorang musyrik mendatanginya, mengambil pedangnya, dan menghunuskannya kepada Rasulùllah Saw. seraya berkata, “Sekarang siapa yang akan membebaskanmu dariku, wahai Muhammad!”

Tatkala itu, batu tempat orang musyrik itu berdiri bergerak, dan ia pun jatuh ke bumi, sementara pedangnya terlepas dari tangannya. Rasulullah Saw. menggunakan kesempatan tersebut dengan mengambil pedangnya, kemudian berkata, “Sekarang, siapa yang akan membebaskanmu dariku!” Orang musyrik itu berkata, “Ampunanmu, wahai Rasulullah.” Mendengar itu, Rasulullah pun mengampuninya, padahal Rasulullah Saw. mampu membunuhnya dan mengirimnya ke neraka.

Rasulullah  shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Musa Ibnu Imran a.s. telah bertanya, “Wahai Rabbku, siapakah hamba-Mu yang paling kuat menurut-Mu?” Allah Swt. menjawab, “Seseorang apabila ia berkuasa (untuk membalas) lalu ia memaafkan.” (HR. Baihaqi melalui Abu Hurairah r.a.).

Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Barang siapa memaafkan dalam keadaan mampu (untuk membalasnya), niscaya Allah akan mema’afkannya pada hari yang sulit.” (HR. Thabrani).

Orang yang paling kuat ialah seseorang yang mau memberi maaf sekalipun ia mampu membalasnya. Dalam hadits lain dinyatakan bahwa orang yang paling kuat bukanlah seseorang yang kuat dalam bergulat, melainkan orang yang kuat ialah orang yang mampu menahan dirinya ketika sedang marah.

“Marah itu berasal dari setan, dan setan itu diciptakan dari api, sedangkan air dapat memadamkan api, karena itu apabila seseorang di antara kalian marah, hendaknya ia mandi.” (HR. Abu Na’im melalui Muawiyah).

Hindarilah amarah dengan sekuat tenaga karena sesungguhnya marah itu merupakan salah satu dari sifat setan. Orang yang kuat bukanlah orang yang jago dalam bertarung hingga dapat mengalahkan beberapa orang, melainkan orang yang kuat secara hakiki ialah orang yang dapat menahan amarahnya di kala sedang emosi. Khulafaur Rasidun berkata, “Sesuatu yang paling durhaka adalah berbuat lalim tatkala berkuasa.” Wallahu A’lam bish Shawabi.

Karsidi Diningrat
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung
* Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *