oleh

Mari Mandi dan Gosok Gigi, Tomar Banyu…Mili Quinyento

POSKOTA.CO – Vai tomar banho (pergi mandi). Lafal yang diucapkan seperti bahasa jawa tomar banyu. Jika sore hari di tepi sungai di kawasan Gorongosa tempat kami ambil air minum, memasak mandi dan kadang juga buang air. Airnya jernih mengalir tenang tepi tepinya banyak batu batu kurang lebih lebarnya 2,5 m. Sungai itu kurang lebih 7 km dari pos monitor Gorongosa.

Saya bersama Mayor Burhan saat berpatroli menemukan sungai itu dan kami memutuskan pagi dan sore hari mengambil air keperluan memasak minum dan mandi. Sepuluh jerigen ukuran 20 liter setiap hari kami mengambil air. Dibantu Tome pembantu kami orang lokal Gorongosa.

Anak anak kampung disana jarang mandi susah gosok gigi. Yang mereka bersihkan hanya tumit kaki. Entah mengapa yang lain blepotan air keringpun tidak dihiraukan lagi. Tatkala kami ke tepi sungai biasanya anak anak kecil berlarian mendekat ke mobil kalau saya membawa permen atau makanan kecil saya bagi bagikan kpd mereka.

Sungai itu tidak dalam cukup untuk berendam dan airnya segar. Suasana terbuka tidak takut bahaya ular atau binatang buas lainnya. Anak2 itu saya ajak mandi awalnya tidak mau. Sampai ada yg harus saya paksa paksa.

Hari berikutnya saya membawa uang receh 500 meticais ( mata uang Mozambique) membawa sabun membawa odol dan bbrp sikat gigi. Sampai di tepi sungai saya bertiak : ” tomar banyu…. mili quinyento …. ” saya ulang ulang entah benar entah salah logatnya hajar saja. Maksud saya ayo mandi saya beri 1500 meticais.

Brigjen Chryshnanda DL saat berpangkat Letnan

Ternyata bahasa saya diterima mereka dan mereka suka cita tanpa dipaksa nyemplung sungai. Mereka bercanda main siram siram air. Saya ajari mereka memakai sabun menggosok gigi. Mereka gembira. Walau baju mereka kumal penuh tambalan namun mereka
fresh segar.

Setiap saat akan mengambil air pagi atau sore selalu kami dikelilingi anak2 yg ikut mandi rata rata 7 sampai 10 orang. Selesai mandi saya bagi uang 1500 meticais. Mereka gembira berlompat lompatan. Sabun dan sikat gigi tidak dibawa pulang dan disembunyikan di tepi sungai. Mereka menggunakan rame rame dan menjadi milik bersama. Mandi dan gosok gigi menjadi barang mewah.

Saya pun senang ada teman bermain saat memgambil air. Anak anak menjadi obat kangen kampung halaman. Mereka seakan tau kami datang sudah antre di tepi sungai. Saya saat ke kota berusaha membelikan oleh oleh buat mereka uang seribu limaratus meticais setara seratus atau dua ratus rupiah.

Mandi dan gosok gigi ternyata bukan kebutuhan tatkala tidak diajarkan. Mereka bukan terbelakang, melainkan miskin dan dalam kemiskinannya selalu ada kegembiraan dan harapan. (cdl) Cerita lembah Gorongosa Jakarta 9 pebruari 2021

 31 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *