oleh

Kemlinthinya Polisi Pakistan dan Polisi Swedia

POSKOTA.CO – Dalam bahasa jawa orang yang sok jagoan dan sok tahu serta menganggap enteng dikatakan kemlinthi. Pada suatu senja di pos Gorongosa, salah satu dari kawan kami berkeinginan patroli alasanya memantau situasi menjelang hari pemilihan umum ( election day).

Teman kami polisi dari pakistan dan polisi dari swedia. Saya lupa namanya. Mereka diperbantukan untuk memonitor kegiatan di tempat pemungutan suara ( pooling site). Kami sebagai teman memberitahu situasi dan kondisi yang ada. Gorongosa ini dekat dengan taman nasional. Banyak binatang buas yg melintas bahkan memasuki perkampungan.

Pada hari hari tertentu penduduk lokal melakukan upacara upacara adat dengan menabuh bedug atau tambur yg mereka buat dan membakar api ugun. Dengan maksud agar binatang buas seperti macan tutul tidak masuk pemukiman mereka. Kegiatan ini hampir dilakukan pd setiap kelompok penduduk lokal yg jaraknya cukup berjauhan.

Letnan Satu Chryshnanda bersama warga setempat

Kembali ke teman kami tadi sikap kemlinthinya muncul dan berkata :” kami ini polisi yg terlatih sudah biasa menghadapi permasalahan permasalahan dalam dalam masyarakat”. Kami mengingatka kembali jalan jalan dan jembatan di sekitar ini banyak ditanam ranjau dan kami tidak memiliki petanya.

Sepertinya mereka tidak lagi mendengarkan mereka berdua langsung menstarter mobilnya dan menghilang dari pos kami. Setelah beberapa jam kemudian hari sudah malam. Teman kami yang patroli belum juga ada kabarnya. Saya mencoba mengkontak mereka dengan HT juga tidak ada balasan.

Saya bersama Mayor Burhan mencari mereka di sekitar kawasan pos kami. Saya bertanya tanya dengan warga sekitar tidak ada yang tahu. Pada saat kamindekat dengan pos, kami melihat ada dua orang berjalan kaki bajunya basah kuyub. Setelah dekat kami baru tahu kalau mereka yang kami cari.

Saya bertanya : ” apa yang terjadi?”. Salah satu dari mereka menjelaskan bahwa pada saat mereka melintasi jembatan sungai kecil ban belakang mobilnya terjepit di antara lobang jembatan. Jembatan itu dari kayu dan kondisinya juga sudah kurang baik. Mereka bercerita kami sudah berusaha mengeluarkan tetapi tidak bisa.

Maka memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki. Saya bertanya:” mengapa baju kalian basah?”. Mereka berkata bahwa mereka saat berusaha mengeluarjan mobil dari lobang jembatan itu terpeleset dan masuk sungai. Saya jadibteringat detektif kembar ” Thomson and Thompson” pada cerita serial Tintin.

Brijen Pol Chryhnanda DL saat berpangkat Letnan satu Satu

Saya juga kasihan kepada mereka walaupun kemlinthinya minta ampun. Saya berkata :” oke kalian ganti baju besok kita bantu mengeluarkan dari jembatan itu”. Pagi harinya saya bersama mayor Burhan bersama merek dan ditemani dua orang lokal ke lokasi kendaraan patroli itu terjebak di jembatan.

Tatkala melihat keadaan di lokasi, saya berpikir ini memang Thomson and Thompson betul. Katanya terlatih mengatasi spt ini saja harus sampai nyebur sungai. Mungkin mereka setres dan takut binatang buas karena hari sudah gelap ditambah memdengar musik tetabuhan dari penduduk di sekiling usaha mereka gagal berlari meninggalkan mobil bgt saja.

Setelah beberapa saat mobil bisa di atasi mereka segera membawa pergi mobil tsb. Ngeloyor begitu saja tanpa ucapan terima kasih atau basa basi. Dalam hati sayaberkata :” dasar kemlinthi….”(cdl) Cerita lama dari Gorongosa Fajar di Kampoeng semar 13 pebruari 2021

 62 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *