oleh

Jangan Ngalup, Ini Daerah Perang Bang

POSKOTA.CO – Ngalup bahasa jawa yg bermakna berandai andai buruk dan bisa menjadi kenyataan. Pada suatu hari saat saya dengan Mayor Burhan dari Beira akan kembali ke pos Muanza. Hari sudah petang belok ke arah Muanza sekitar 100 km jalan pasir tidak
beraspal.

Hari mulai gelap saya turun memasang kunci roda posisi double gardan. Kami melanjutkan perjalanan. Hari makin gelap sama sekali tidak ada cahaya kecuali cahaya lampu mobil kami. Saya yakin tidak akan bertemu orang karena memang sudah sangat gelap dan jalan kami menembus hutan sabana yg banyak binatang buas.

Saat kami berjalan tiba tiba di depam mobil kami ada kijang ( gazele) melompat lompat. Tabrak saja chrysh tabrak saja… Mayor Burhan berteriak. Saya jadi ragu ragu. Kijang ini lompat lompat ke jalan raya pasti ada sebab. Tidak mungkin kalau tidak terancam atau mungkin terkejut dengan sorot lampu mobil kami.

Saya berpikir jangan jangan ada leopard atau macan tutul di belakangnya. Kawasan Nama tanda Muanza memang terkenal banyak binatang buas termasuk leopard. Kalau saya tabrak saat akan mengambil kijang itu malah kami berurusan dg binatang buas lainnya.

Kami memang tidak dipersenjatai sbg petugas civilian police. Akhirnya saya mengikuti saja dari belakang dan pada suatu tempat tiba tiba kijang itu menghilang entah ke mana. Jalan jalan di Afrika rata rata lurus tidak berbelok belok walaupun naik turun tetap saja dpt dilihat garis lurusnya.

Kami berjalan seperti biasa. Eh tiba tiba mayor Burhan berkata : ” bagaimana ya kalau mobil ini terbalik”. Saya kaget setengah mati ini daerah perang kok berandai andai buruk. Entah mengapa tiba tiba mobil kami lepas kendali seperti diombang ambingkan ke kanan dan ke kiri dng kecepatan yg sangat tinggi. Saya terkejut semua perangkat tidak berfungsi. Saya lepas kan saja semuanya loss begitu saja.

Letnan Chryshnanda bersama warga setempat

Mayor Burhan berteriak :” kamu gila ya chrysh…”. Saya jawab : ” abang maunya begitu …”. Kendaraan terus saja melaju kekanan kekiri kami spt kapal dalam mangkok air yg diombang ambing ke kanan ke kiri. Entah berapa jauh kami dalam
kondisi spt itu kami hanya pasrah saja.

Tiba tiba mobil nancap pada gundukan pasir di tepi jalan entah pasir dari mana saya juga tidak tahu. Begitu mobil berhenti rasa hati lega paling tapi mobil mesin mati dan pasti selip pikir saya. Mobil tidak rusak sedikitpun saya starter kembali mau hidup benar juga dugaan saya selip tdk bisa keluar dr gundukan pasir.

Mau turun masih ragu ragu. Jangan jangan ada binatang buas. Kami tidak takut hantu karena selama di Mozambique tidak pernah dengar ada cerita cerita hantu spt di Indonesia. Kami takut binatang buas. Saya coba meraba raba di bawah kursi dan ternyata ada parang yg saya simpan di situ.

Saya coba membawa parang dan memberanikan diri turun dari mobil. Saya coba mencari beberapa batu yang tidak terlalu besar dan saya coba starter kembali langsung gas dg gigi mundur dan berhasil.

Ketika modil sudah berada di jalan lega rasanya. Saya bilang ke Mayor Burhan : ” bang jangan suka ngalup….. sangat berbahaya”. ” apa itu ngalup?” Tanyanya. ” jangan berandai andai buruk…” jawab saya.

” Hayah kamu ini mengada ada…” bentaknya. ” faktanya demikian… hampir kejadian” sanggah saya. ” hei aku ini mayor tahu….”. Bentaknya. ” ini daerah perang bang….. Saya lebih tahu. Mau pulang selamat atau tidak?” Tanya saya setengah membentak.

Kami terdiam. Saya bilang ” maaf bang…” Kami terus melaju dan sampai pos kami di Muanza sdh pukul 22.00 . Tidak mandi tidak ganti baju terus saja ndlosor tidur.(cdl) Cerita misi Onumoz yang terngiang kembali Jakarta 8 pebruari 2021

 20 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *