oleh

Berbuat Adillah Sebagai Hakim

ALLAH Subhanahu Wa Taala telah berfirman, “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa, 4: 58).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2:188).

Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar (adil). Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al-Isrà’, 17:35).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Barang siapa dicoba menduduki jabatan peradilan di antara kaum muslimin, hendaklah berlaku adil dalam memutuskan perkara di antara mereka, dan dalam memberikan isyarat dan dalam mengambil tempat duduk dalam majelisnya.” (HR. ad-Daruquthni).

Jabatan peradilan atau hakim menurut hadits ini diungkapkan dengan istilah cobaan. Hal ini tiada lain karena jabatan tersebut mengandung resiko yang cukup besar. Barang siapa yang tidak adil di dalamnya, maka ia akan celaka di hari kemudian, tetapi sebaliknya barang siapa yang berlaku adil dalam menjalankannya, maka pahalanya sangat besar. Hanya sedikit orang-orang yang mampu berlaku adil, karena itulah maka jabatan ini disebut sebagai cobaan.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam telah bersabda, “Berbahagialah orang-orang yang berlomba menuju kepada naungan Allah, yaitu mereka yang apabila diserahi perkara yang hak mau menerimanya, dan apabila perkara yang hak itu diminta dari mereka, mereka mau menyerahkannya, dan orang-orang yang menegakkan hukum atas orang lain seperti halnya mereka menegakkan hukum terhadap dirinya sendiri.” (HR. Hakim melalui Siti Aisyah r.a.).

Dalam hadits yang lain beliau Saw. bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil, yaitu yang bersikap adil dalam mengadili dan kepada keluarga maupun rakyatnya, (di hari Kiamat kelak) berada di dalam tempat dari cahaya. Dia juga ditempatkan di sisi kanan Allah, yang kedua tangan-Nya adalah kanan.” (HR. Muslim).

Orang-orang yang paling dahulu mendapatkan naungan dari Allah pada hari tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya ialah orang-orang yang apabila dihadapkan kepadanya perkara yang hak, maka mereka mau menerimanya; dan juga orang yang memutuskan hukum untuk orang lain, sama seperti ia memutuskan hukum untuk dirinya sendiri.

Dalam hadits yang lain beliau Saw. bersabda, “Batu mengajukan protes kepada Allah Swt. dengan mengatakan, “Wahai Tuhanku, aku telah menyembah-Mu sebanyak sekian tahun lamanya, kemudian Engkau jadikan aku berada dalam tempat yang paling bawah.” Allah menjawab, “Masih belum puaskah kamu sedangkan kamu telah Aku hindarkan dari majelis qadha.” (HR. Ibnu Asakir melalui Abu Hurairah r.a.).

Seandainya batu diumpamakan dengan manusia, maka ia pasti mengadu kepada Allah Swt., “Wahai Tuhanku, aku telah menyembah-Mu sejak Engkau ciptakan aku, tetapi mengapa Engkau jadikan aku sebagai dasar pondasi yang tersembunyi?” Allah Swt., menjawab, “Mengapa engkau masih belum puas, padahal engkau sudah Kujauhkan dari majelis-majelis peradilan.”

Hadits ini mengandung peringatan keras terhadap hakim yang zalim, bahwa tempat mereka yang layak adalah neraka jika mereka berbuat zalim, sehingga jangankan manusia, bahkan batu-batuan pun akan mengutuknya.

Dalam hadits yang lain juga beliau Saw. telah bersabda, “Hakim itu ada tiga, dua di antaranya dimasukkan ke dalam neraka, dan yang satunya lagi dimasukkan ke dalam surga. Yaitu seseorang yang mengetahui perkara yang hak, lalu memutuskan perkara dengan hak, maka ia masuk ke dalam surga. Seseorang yang memutuskan perkara orang lain tanpa pengetahuan, maka ia dimasukkan ke dalam neraka; dan seseorang yang mengetahui perkara yang hak, tetapi berlaku zalim dalam memutuskan hukum, maka ia dimasukkan pula ke dalam neraka.” (HR. Hakim).

Barang siapa yang mengetahui perkara yang hak, lalu ia memutuskan hukum sesuai dengan kebenaran, pahalanya ialah masuk surga. Dan barang siapa yang mengetahui perkara yang hak, lalu ia memutuskan hukum menyimpang dari perkara yang hak tersebut, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Begitu pula orang yang memutuskan perkara di antara manusia tanpa pengetahuan (ilmu).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Penyuap dan orang yang disuap dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Thabrani).

Penyuapan merupakan perbuatan haram, pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka, bahkan dimasukkan pula ke dalamnya orang yang disuap. Berapa banyak kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan ini, dan yang paling parah ialah apabila dimaksudkan untuk melicinkan perkara yang batil dan menghambat perkara yang hak.

*Dalam hadits yang lain Nabi Saw. bersabda, “Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap, dan juga orang yang menjadi perantara di antara keduanya.” (HR. Ahmad dari Tsauban).

Orang yang dikutuk oleh Allah Swt. dalam kasus penyuapan bukan hanya pelakunya saja, melainkan semua orang yang terlibat di dalamnya terkena laknat Allah, yaitu si penyuap, orang yang disuap, dan orang yang menghubungkan di antara kedua belah pihak.

Nabi Saw telah bersabda, “Barang siapa meminta suatu pertolongan kepada saudaranya, lalu ia memberikan hadiah (suap) lalu orang itu menerimanya berarti ia telah mendatangi salah satu pintu riba yang besar.” (HR. Ahmad dari Abu Daud).

Uang suap sama dengan uang riba. Hadits ini melarang perbuatan menyuap dan ia mengecamnya sebagai perbuatan riba yang besar.

Nabi Saw telah bersabda, “Tiadalah bagi seorang hakim dari kalangan para hakim kaum muslimin kecuali selalu dibarengi oleh dua malaikat yang mengarahkannya kepada perkara yang hak, selagi ia tidak menghendaki selain perkara hak. Apabila ternyata ia menghendaki selain perkara hak dengan sengaja, maka kedua malaikat tersebut berlepas diri darinya, lalu menyerahkan dia kepada hawa nafsunya sendiri.” (HR. Thabrani melalui Imran).

Seorang hakim muslim akan dibantu oleh dua malaikat yang membimbingnya kepada keadilan, jika orang yang bersangkutan berpegang teguh kepada kebenaran. Akan tetapi, jika ia menghendaki selainnya dengan sengaja, maka kedua malaikat itu pergi darinya, dan menyerahkan perkaranya kepada diri orang yang bersangkutan. Bila keadaannya demikian, maka akan celakalah ia karena tidak ada yang membantunya kepada perkara yang hak.

Allah Swt. telah berfirman, “Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun ia adalah kerabatmu dan penuhilah janji Allah.” (QS. Al-An’am, 6:152). Semoga.

Karsidi Diningrat

1. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
2. Sekjen FORSIMAS (Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Asean) Indonesia.
3. Mantan Pengurus DKM Masjid Raya Bandung 2004 s/d 2018
4. Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat 2010 s/d 2019.
5. Penasehat PW Al Washliyah Jawa Barat 2019 s/d 2023.
6. Anggota Pengurus Besar Al Washliyah 2015 s/d 2020.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.