oleh

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

ALLAH Subhanahu wata’ala telah berfirman di dalam surat Ali Imran, 3: 104, : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Hendaknya kalian memerintah kepada kebajikan dan mencegah perkara keji, atau hendaknya Allah menguasakan kalian kepada orang-orang yang jahat di antara kalian, karena itu lalu orang-orang yang terpilih di antara kalian berdoa (agar terlepas dari tekanan orang-orang yang jahat) akan tetapi doa mereka tidak dikabulkan.” (HR. Bazzar).

Suatu kaum yang tidak mau menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar akan dihukum oleh Allah SWT. dengan cara menguasakan mereka di tangan kekuasaan orang-orang jahat dari kalangan mereka. Apabila keadaannya sudah sampai demikian, lalu orang-orang ‘alim di antara mereka berdoa, niscaya doa mereka tidak akan dikabulkan.

Dan dalam hadits yang lain Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, : “Hendaklah kamu beramar makruf dan bernahi munkar. Kalau tidak, maka Allah SWT akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abuzar).

Bentuk diam dari amar ma’ruf dan nahi munkar sangat berbahaya. Jika itu terjadi, maka orang yang berbuat kejahatan akan lebih banyak berbuat kejahatan, dan akan terus melakukannya. Demikian juga, orang yang berbuat kelaliman akan lebih banyak berbuat kelaliman, dan akan terus melakukannya.

Yang sangat kita sayangkan, justru yang banyak pada masa sekarang ini adalah diam dari melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Manakala kita melihat kemungkaran dengan mata kepala kita, kita tidak bergerak untuk menolaknya, padahal amar ma’ruf dan nahi munkar adalah dua dari sepuluh cabang ajaran Islam.

Kita hanya melakukan penolakan dalam hati. Padahal, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. Atau, mungkin kita pun tidak melakukan penolakan sama sekali, termasuk dengan hati. Padahal, diwajibkan atas setiap muslim untuk melatih dirinya melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan tangannya, lidahnya, atau hatinya, sesuai dengan tuntutan keadaan dan kemampuan dirinya, dan sesuai dengan kemungkinan pengaruh yang ditimbulkannya.

Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya (kekuasaannya), apabila tidak mampu, cegahlah dengan lisan (ucapan), dan apabila tidak mampu juga, bencilah dengan hatinya dan yang demikian itu selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

Apabila seseorang melihat suatu perkara munkar dilakukan di hadapannya, lalu ia tidak mampu mencegahnya dengan kekuatannya dan tidak pula dengan lisannya, maka ia harus mengingkari dengan hatinya. Maksudnya hatinya ingkar terhadap perkara munkar tersebut dan tidak memberikan dukungan terhadapnya, melainkan membencinya, maka tingkatan yang ketiga ini merupakan iman yang paling lemah. Sekalipun demikian masih termasuk baik, dan selain dari itu tidak ada yang baik.

Juga dalam hadits yang lain Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, : “Wahai segenap manusia menyerulah kepada yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar sebelum kamu berdo’a kepada Allah dan tidak dikabulkan serta sebelum kamu memohon ampunan dan tidak diampuni. Amar makruf tidak mendekatkan ajal. Sesungguhnya para robi Yahudi dan rahib Nasrani ketika mereka meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar dilaknat oleh Allah melalui ucapan nabi-nabi mereka. Mereka juga ditimpa bencana dan malapetaka”. (HR. Atthabrani).

Umat Islam pada awal-awal Islam dan masa yang lalu menerapkan dan melaksanakan ajaran amar makruf dan nahi munkar dengan sungguh-sungguh. Namun, pada masa sekarang, hanya sedikit dari kita yang bergerak untuk melakukan amar makruf dan nahi munkar.

Apakah pada masa sekarang hal-hal yang makruf telah berubah menjadi hal-hal yang munkar dan yang munkar menjadi yang makruf? Apakah nilai telah terbalik, sehingga yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik?! Sesungguhnya kebaikan adalah kebaikan, dan akan tetap merupakan kebaikan; keburukan adalah keburukan, dan akan tetap merupakan keburukan.

Begitu juga, sesungguhnya yang makruf adalah makruf, dan tetap akan menjadi yang makruf; yang munkar adalah munkar, dan akan tetap menjadi yang munkar, walaupun keadaan telah berubah dan zaman telah berganti.

Kenyataan yang sangat pahit adalah, terkadang kita bersikap diam terhadap para penguasa lalim, fasik, dan munafik hanya untuk menjaga kepentingan diri kita dan harta dunia yang kita miliki, atau karena takut terhadap intimidasi dan siksaan mereka. Namun, jika kita pikirkan secara mendalam, niscaya akan jelas bagi kita bahwa bersikap diam dari kelaliman adalah aib yang paling besar bagi manusia.

Bukankah aib bagi orang yang mempunyai akal jika dia melihat penguasa yang lalim melakukan kelaliman atau kedhaliman dan kerusakan, melecehkan wibawa dan kehormatan, mengabaikan dan menginjak-injak hak-hak manusia, menyelewengkan hak-hak Islam, dan menggadaikan negara dan seluruh kekayaan yang ada padanya kepada orang-orang asing dan para penjajah, lalu kita bersikap diam terhadap semua itu?!

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Demi Tuhan yang diriku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kalian harus mengerjakan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah benar-benar akan menurunkan azab-Nya atas kalian, lalu kalian berdoa kepada-Nya (agar diselamatkan dari azab tersebut) tetapi doa kalian tidak dikabulkan oleh-Nya.” (Hadits ini diketengahkan di dalam kitab Taisiurul Wushul).

Apabila suatu kaum tidak lagi menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, niscaya Allah akan menimpakan kepada mereka suatu azab yang merata menimpa mereka secara keseluruhan. Apabila Allah telah menurunkan azab-Nya, maka doa mereka tidak diperkenankan lagi oleh-Nya.

Juga dalam hadits yang lain beliau SAW., telah bersabda, “Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah berkata benar di hadapan penguasa yang lalim atau dhalim. (HR. Aththusi & Ashhabussunan). “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu” (Sahabat). Semoga kita masih diberi keimanan yang kuat untuk beramar makruf nàhi munkar. Semoga.

 

Karsidi Diningrat
1. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
2.Sekjen Forsima (Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid ASEAN) Indonesia.
3. Mantan Pengurus DKM Masjid Raya Bandung.
4. Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat 2010 s/d 2019.
5. Penasihat PW Al Washliyah Jawa Barat 2019 s/d 2023.
6. Anggota Pengurus Besar Al Washliyah 2015 s/d 2020.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.