oleh

Alhamdulillah, Santri Sudah Boleh Kembali ke Pesantren

PENDIDIKAN pesantren tak luput dari dampak pandemi Covid-19. Sejak 3 bulan lalu, sebelum bulan puasa, pesantren memulangkan para santrinya. Mau tak mau, santri harus belajar di rumah.

Tak luput juga mengenai anakku yang sedang nyantri di pesantren Tahfidz PP Nurul Quran, Babelan, Kabupaten Bekasi. Sejak tiga bulan lalu, dua anak saya harus pulang. Yah, mumet dah. Bukan apa, tapi lebih kepada kekhawatiran jika anak-anak di rumah pasti tidak bisa belajar mengaji dengan opotimal.

Kekhawatiran tidak bisa mengaji optimal di rumah dalam masa lockdown ternyata benar terjadi. Membayangkan kalau di pesantren setiap saat mengaji. Setiap siang, manghrib atau subuh harus setoran. Tapi, kalau di rumah? Wah. Ga bisa ngapa-ngapa kita. Kadang muncul pikiran, bodohnya ya bapakmu ini tidak bisa mengajari ngaji.

Satu anak saya cowok setara kelas 1 SMP, dan yang kedua cewek kelas 3 dan baru saja lulus di madrasah aliyah. Senang keduanya masih mau belajar di pesantren. Mau menghafalkan Alquran. Alhamdulillah.

Anak lelaki saya sudah sedikit kita ceritakan kemarin. Kini, giliran sang kakak, yang juga santriwati terimbas lockdown saat pandemi. Sehingga harus nyantri di rumah.

Saya ingat saat baru beberapa hari di rumah dari pesantren karena pandemi, dia sudah bilang kangen bali ke pesantren. Dia mengaku bisa saja mengaji, tepi tidak seseru kalau mengaji bersama teman. Antara mereka, biasanya bersaing. Saling memotivasi.

Ketika mau masuk Bulan Ramadhan, sebenarnya sudah dijawualkan akan mulai masuk. Biasa, Ramadhan adalah waktu emas bagi para santri untuk belajar. Namun, ternyata PSBB dipepanjang. Dan pengurus pesnatren menyampaikan penundaan pemulangan santri karena situasi wabah belum aman. Waduh.

Anak kedua saya ini memang lebih senior di pesantren tersebut. Namanya Syifa. Setelah lulus SD langsung saya masukkan ke pesantren. Sambil sekolah SMP, dia menghafalkan Alquran. Sampai kini sudah kelas 3 Aliyah. Alhamdulillah, sudah hampir 6 tahun di sana. Dan semoga segera selesai hafalannya.

Saya jadi ingat saat prosesi awal memasukkan anak ini ke pesantren. Biasa, awalnya agak alot merayu agar mau ke pesantren. Ada syarat ini itu. Salah satunya seperti minta dibeliin HP. Okeylah.

Besoknya saya antar dia ke pesantren. Jangan ditanya perang batin kami sebagai orangtua. Apalagi emaknya. Tapi, keputusan sudah bulat dibuat. Bismillah, berangkat.

Dengan naik motor saya bonceng dia. Perjalanan sekitar 30 kilometer ke Babelan kami tempuh cukup lama. Nyantai saja. Berhenti di sana sini, buat beli ini itu. Berhenti juga untuk beli kartu buat HP baru. Berhenti untuk istirahat di warung, minum. Dan juga berhenti di masjid untuk sholat dan istirahat.

Sesampai di pesantren, kami langsung menemui kyai. Sungguh kami sangat beruntung karena bisa diterima di pesantren ini. Pesantren kecil, yang papan informasi ‘tidak menerima santri baru’ ditempel abadi di kantor pesantren. Ini karena keterbatasan tempat.

“Di sini (pesantren) tidak boleh bawa HP. Mau di titip saya apa titip ayahmu?” kata pak kyai, lembut sekali.

(Saya sebenarnya sudah tahu kalau aturan di pesantren, HP adalah ‘diharamkan’. Tetapi ini demi agar anak mau ke pesantren maka tetap saja saya belikan. Harus ada skenariolah.)

Alhamdulillah. Entah pak kyai punya ilmu apa, sehingga anak saya begitu nurut sekali. Setiap kalimat yang disampaikan begitu diingat anak saya. Bahkan sampai sekarang. “Titip HP ke ayah saja,” katanya.

Itu cerita 6 tahun lalu. Ketika dia baru punya ‘modal’ hafalan Juz Ama dengan kemampuan seadanya. Tapi, saat ini hatinya sepertinya sudah sangat melekat ke pesantren. Sebulan sekali kami nengok, dan setahun sekali, baru bisa pulang ke rumah saat libur Lebaran.

Kami bersyukur dan terkejut, ketika satu saat anak saya diizinkan oleh pesantren untuk mengikuti MHQ (Musabaqah Hifdzil Quran) tingkat Kota Bekasi di Cabang 10 Juz. Hal yang sama sekali belum pernah saya bayangkan.

Di saat yang lain, anak saya juga diizinkan ikut simaan bersama 10 penghafal Al Qur`an. Dia disimak oleh sekitar 20 jamaah mendapat bagian menghafalkan 3 juz; juz 7, 8 dan juz 9.

Terus terang, dalam dua even ini saya sebenarnya tidak ada kemampuan untuk menyaksikannya. Saya tak percaya, kalau yang ikut lomba MHQ itu anak saya. Saya juga tak yakin, kalau yang disimak puluhan jamaah itu anak saya. Bagi kami, juara tak lagi penting, karena dia sebenarnya sudah menjadi juara di hati kami. Piala kejuaraan MHQ yang dibawa ke rumah (bukan juara satu lho) lebih sebagai motivasi bagi kami.

Yo wislah. Setelah pandemi ini, semoga situasi kembali normal. Karena harapan para santri, adalah agar bisa kembali lagi belajar dan mengaji di pesantren.

Semoga ini bermanfaat, karena niat kami agar menjadi motivasi bagi para orangtua yang akan memasukkan anaknya ke pesantren. (bersambung/chotim wibowo)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *