JAKARTA-Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN), Lenteng Agung, Jakarta menggelar wisuda 73 Sarjana dan Magister tahun akademik 2024/2025. Mayoritas lulusan sarjana sekolah tinggi ini berasal dari mahasiswa keturunan Papua.
“Banyaknya mahasiswa kami yang berasal dari Papua lantaran mereka diutus oleh pemda-pemda di Papua untuk mengisi kekosongan jabatan oleh warga asli Papua,” kata Dr.Sony Sumarsono, Ketua Yayasan STIPAN, disela kegiatan Wisuda, Kamis (17/07/2025).
Menurut Sony, saat ini pemda-pemda di Papua mengaku kesulitan mencari ASN yang berasal dari warga asli Papua. Padahal ada ketentuan bahwa ASN di Papua sekitar 80 persennya untuk orang Papua.
“Sejak dilakukan pemekaran wilayah di Papua pemda-pemda di sana mengalami kesulitan untuk mengisi jabatan-jabatan yang kosong. Sebab orang Papua yang berpendidikan tinggi jumlahnya masih sangat terbatas.”
Sementara itu ketika mereka disekolahkan oleh pemerintah daerahnya di kampus lain banyak yang drop out. Sedangkan mereka yang dididik di Kampus STIPAN umumnya lulus hingga sarjana, bahkan S2.
Cara mendidik mahasiswa Papua menurut Sony memang berbeda. Harus ada pendekatan khusus sehingga mereka mau menyelesaikan pendidikan hingga tuntas.
“Mendidik mahasiswa Papua harus dengan hati dan sabar. Misalnya ketika mereka tidak masuk kita telpon mereka. Demikian juga ketika sakit kita jenguk,” tambah Sony.
Dengan cara ini mereka merasa diperhatikan sehingga muncul semangatnya untuk menyelesaikan kuliahnya. Sony sendiri mengaku memperlakukan mereka seperti teman sehingga mereka merasa akrab dan betah kuliah di STIPAN. Diakuinya STIPAN merupakan lembaga pendidikan yang memberikan perhatian khusus dalam peningkatan pendidikan wilayah Papua.
Kesenjangan Pendidikan dengan Papua Cukup Tinggi
Kesenjangan kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat Papua, menurut Sony, cukup tinggi secara nasional. Begitupun perilaku budaya dalam organisasi pemerintahan masih terbilang agak tertinggal. “Di STIPAN inilah kami mendidik dengan menyentuh hati mereka. Kami lebih perhatian terhadapnya. Apabila keakraban terjalin dan saling percaya, mereka itu bahkan lebih gigih, dan siap mati untuk NKRI,” ujar Sony.
Menurut Sony, pendidikan di kota besar seperti Kota Jakarta dan daerah lainnya secara terbuka mengarah kepada kegiatan praktis dan bisnis pendidikan. Bagi masyarakat Papua sendiri, untuk bisa sekolah di universitas terkenal seperti UI, misalnya sangat kecil kemungkinan bisa masuk.
“Jadi baru masuk TPA (tes potensi akademik), saja tidak lolos. Karena itu, tidak boleh disamaratakan. Mereka besar tidak dibarengi dengan gemerlap teknologi modern seperti orang kota. Lalu mereka kemana? kami STIP Abdi Negara ini yang mengakomodir mereka hingga mampu menempuh sarjana.”
STIP Abdi Negara kali ini meluluskan sebanyak 73 wisudawan, dan separuhnya wisudawan berasal dari Papua. Para wisudawan ini, mayoritas akan menempati posisi jabatan di Papua, seperti Kepala Distrik atau Camat.
“Masih banyak lurah di sana tak bisa baca tulis, dan ada mahasiswa ke Jakarta ini belum tahu cara pencet lift. Melihat kereta seperti barang ajaib. Nah inilah, jauh perbedaan, sehingga kalau ke kampuspun, kami sentuh hatinya, dan kami perhatikan semua. Kami buat mereka tidak minder.”
Sementara, Ketua Senat STIP Abdi Negara, Prof. Dr. Ermaya Suradinata mengatakan, kualitas SDM menjadi andalan ditengah geopolitik dunia yang sedang tidak menentu. Menurutnya, STIPAN harus bertranformasi menjadi Green Campus, dan mampu bersaing.
“Sebagian besar mahasiswa disini ASN, dan memiliki kekerabatan yang kuat dengan seniornya, dan ada yang menduduki jabatan penting di pemerintahan. STIPAN menyiapkan pemimpin yang profesional dan bermoral. Nantinya juga kedepan akan disiapkan Doktoral STIPAN.” (fs)







Komentar