oleh

PLN Puslitbang Tantang Mahasiswa Garap Riset Energi Laut Sebagai Sistem Kelistrikan Masa Depan

JAKARTA – PLN Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) membuka peluang kolaborasi riset bagi mahasiswa dan peneliti Institut Teknologi PLN (ITPLN) untuk mengembangkan teknologi energi baru terbarukan (EBT). Sejumlah inovasi yang tengah dikembangkan meliputi pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL), green hydrogen, hingga virtual power plant (VPP) untuk memperkuat sistem kelistrikan masa depan.

General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh mengatakan, perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa memiliki peran strategis dalam menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata industri ketenagalistrikan.

“Agenda penelitian perlu terus disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan sistem agar hasilnya tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Soleh dalam Kuliah Ahli Riset dan Inovasi di kampus ITPLN kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (2/11/2026).

Salah satu riset unggulan yang dipaparkan ialah PLTAL berbasis floater untuk memanfaatkan arus laut sebagai sumber listrik. Teknologi ini dikembangkan dengan melibatkan sejumlah institusi dan industri dalam negeri. “Desain struktur floater melibatkan ITS dan pembangunannya oleh PT PAL Indonesia, sedangkan turbin dirancang BRIN bersama mitra industri,” kata Soleh.

Menurutnya, PLN Puslitbang juga mengembangkan generator permanen magnet synchronous generator berkapasitas 200 kW bersama Ricky Elson. Hampir seluruh komponen teknologi tersebut ditargetkan berasal dari dalam negeri. “Saat ini, PLTAL masih menjalani pengujian kinerja, stabilitas struktur, dan efisiensi konversi energi. Kami targetkan teknologi tersebut dapat diuji di sekitar Selat Lombok dalam dua tahun mendatang,” ucapnya.

Soleh menjelaskan, pengembangan PLTAL membuka banyak peluang penelitian, mulai dari pengujian performa turbin, stabilitas floater, hingga interaksi fluida apabila pembangkit dikembangkan dalam skala besar. Jika nantinya dibangun menjadi satu kawasan pembangkit atau farm dengan sejumlah turbin, diperlukan kajian lebih lanjut mengenai interaksi antarturbin dan optimalisasi produksi listrik.

“Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi energi arus laut yang besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, keterlibatan mahasiswa dan akademisi diperlukan untuk mempercepat penguasaan teknologi dalam negeri,” jelasnya.

PLN juga mengembangkan konsep virtual power plant (VPP) melalui integrasi pembangkit listrik tenaga surya atap (PLTS) dan baterai yang tersebar di berbagai lokasi. Sistem tersebut menggunakan Local Control Unit (LCU) dan pusat kendali untuk mengatur produksi listrik dari masing-masing sumber sesuai kebutuhan jaringan. Dengan demikian, energi dari rumah-rumah yang memiliki PLTS atap dapat dikelola sebagai satu kesatuan dan dikoordinasikan dengan pusat pengatur beban.

Inovasi lainnya ialah pengembangan Advanced Metering Infrastructure (AMI) untuk mengintegrasikan meter pintar dan perangkat komunikasi dari berbagai produsen agar dapat bekerja dalam satu jaringan. Riset ini mencakup pengujian interoperabilitas perangkat, pengembangan prototipe, serta pemanfaatan aset secara lebih fleksibel.

“Budaya riset harus dibangun melalui kebiasaan mengenali persoalan, berani menguji gagasan, belajar dari hasil pengujian, dan memastikan inovasi memberikan manfaat nyata,” ungkap Soleh.

Ia pun mengajak mahasiswa dan peneliti ITPLN terlibat dalam pengembangan berbagai teknologi tersebut, termasuk melalui kolaborasi penelitian, pengujian prototipe, dan pengembangan solusi ketenagalistrikan yang mendukung transisi energi Indonesia. (jo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *