BOGOR – Akhirnya KPK mengakui apa yang sejak awal terasa janggal. Kasus suap di Bea Cukai tidak mungkin hanya melibatkan satu forwarder. Pernyataan Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, bahwa ada ‘forwarder lain’ yang sedang didalami, bukan sekadar perkembangan teknis penyidikan.
Itu adalah koreksi terhadap narasi yang sejak awal sulit diterima akal sehat.
Selama sepekan, publik diminta percaya bahwa 12 ASN lintas eselon, safe house, dan aliran dana miliaran rupiah per bulan digerakkan oleh satu perusahaan saja.
Secara logika bisnis, itu mustahil. Secara pengalaman birokrasi, itu tidak masuk akal. Secara sistem, itu tidak pernah terjadi.
Dan kini, narasi itu mulai retak. Korupsi pelabuhan, bukan kasus eceran. Sejarah pengawasan sektor kepabeanan menunjukkan satu pola yang konsisten.
“Jadi persoalannya bukan satu importir nakal, melainkan sistem yang memberi ruang bagi banyak pemain,” kata Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri Indonesia Audit Watch (IAW), Rabu (11/2/2026).
Laporan BPK selama bertahun-tahun tidak pernah menyebut ‘oknum tunggal’ sebagai akar masalah. Yang muncul selalu sama yakni celah struktural, pengawasan lemah, fragmentasi kewenangan, dan kultur permisif.
Bagi IAW, dalam ekosistem seperti itu, suap bukan transaksi insidental. Ia menjadi mekanisme pasar.
Jika ada ‘jalur khusus’ yang bisa dibeli untuk mempercepat arus barang, maka jalur itu akan menjadi komoditas. Ia akan dipasarkan, dinegosiasikan, bahkan dijadikan nilai tambah dalam persaingan bisnis. “Forwarder yang patuh aturan akan tersingkir. Yang berani bermain akan diuntungkan,” tegas Iskandar.
Pasar yang bernilai triliunan rupiah tidak pernah hanya memiliki satu pembeli.
Maka pengakuan soal ‘forwarder lain’ seharusnya menjadi awal pembongkaran jaringan, bukan sekadar perluasan daftar tersangka.
Publik sudah terlalu sering melihat pola yang sama yakni satu OTT besar, satu dua aktor dipenjara, lalu sistem tetap utuh. Rawa tetap basah. Buaya baru tumbuh.
“Jika KPK berhenti pada penambahan satu atau dua nama, maka yang terjadi hanyalah rotasi pemain. Bukan perubahan struktur. Inilah ujian komitmen sesungguhnya,” katanya.
Apakah KPK sungguh ingin memetakan ekosistem suap di pelabuhan, atau hanya menyelesaikan satu berkas perkara? “Ini ujian keberanian,” katanya lagi. IAW meminta, agar KPK menelusuri ‘forwarder lain’, guna menyentuh kepentingan bisnis besar. Ini bukan sekadar soal oknum ASN. Ini menyangkut jejaring ekonomi yang punya akses, pengaruh, dan sumber daya hukum yang kuat.
Data IAW, kasus seperti ini jarang berdiri sendiri. Ia beririsan dengan kebijakan, proyek, dan relasi kekuasaan. Tanpa perlindungan politik yang jelas, penyidikan mudah kehilangan napas di tengah jalan.
“Ini kesempatan terbesar dalam satu dekade untuk melakukan pembersihan menyeluruh di sektor kepabeanan dan bukan sekadar menangkap pelaku, tetapi mengubah insentif,” tegasnya.
IAW meminta, agar audit forensik diperluas ke seluruh aliran dana, bukan hanya satu entitas. Analisis pola importasi harus dilakukan untuk melihat anomali sistematis, siapa yang terlalu sering mendapat jalur hijau, siapa yang hampir tak pernah diperiksa fisik, dan siapa yang selalu ‘lancar’.
“Jika pola ditemukan, maka ini bukan lagi perkara individu. Ini perkara desain sistem.
Dan di titik itu, akan ketahuan siapa yang membiarkan sistem ini bertahan,” paparnya. Dalam pemberantasan korupsi, ada dua pendekatan. Menangkap buaya satu per satu atau mengeringkan rawa tempat mereka hidup.
“Yang pertama spektakuler. Yang kedua melelahkan dan penuh risiko. KPK kini berada di persimpangan itu. Jika ‘forwarder lain’ hanya menjadi tambahan nama, maka ini sekadar episode lanjutan dari drama lama. Tapi jika pengakuan itu menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan, memperbaiki sistem pengawasan, dan mengubah struktur insentif di pelabuhan, maka ini bisa menjadi titik balik sejarah,” tegasnya.
Ditegaskan, publik tidak membutuhkan sensasi. Publik membutuhkan kepastian bahwa hukum mampu menembus jaringan ekonomi gelap yang sudah terlalu lama dianggap wajar. “KPK telah membuka pintu. Pertanyaannya tinggal satu, apakah mereka akan melangkah masuk atau kembali menutupnya perlahan,” kata Iskandar. (yopy/jo)







Komentar