oleh

Survei Membuktikan Pemahaman yang Salah Terkait Kental Manis Berkorelasi Positif Terhadap Kasus Stunting di Yogyakarta

POSKOTA.CO –  Stunting masih menjadi persoalan serius yang harus dihadapi Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini. Survei Gizi dan Status Gizi Indonesia (SGSI) tahun 2022 menunjukkan angka prevalensi stunting di Yogyakarta mencapai 16,6 persen. Meskipun ada penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun masih mengindikasikan bahwa tindakan lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Hal lain yang perlu disorot dalam survey SSGI tahun 2022, adalah bayi usia antara 0 sampai lima bulan yang mengalami stunting relatif kecil yaitu 11,7 persen. Akan tetapi bayi yang berusia 6-12 bulan yang mengalami stunting berada di angka 13,7 persen (atau meningkat 2 persen). Lebih mengejutkan lagi adalah bayi usia 12-23 bulan yang mengalami stunting mencapai 22,4 persen. Terlihat bahwa asupan makanan anak pada masa MPASI mempengaruhi asupan gizi dan kesehatan anak.

Peneliti Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, S.K.M., M.K.M., mengatakan kesalahan asupan gizi balita rentan terjadi di masa MPASI. Sebab, pada masa ini asupan gizi anak tidak lagi hanya mengandalkan ASI namun makanan tambahan harus mencukupi kebutuhan gizinya. “Jika pada masa ini MPASI-nya tidak cukup gizi, balita mulai mengenal makanan dan minuman dengan rasa yang kuat yang tinggi kandungan gula garam dan lemak, seperti terbiasa makan makanan instan, minuman dengan penambah rasa atau menggunakan kental manis sebagai minuman susu anak, ini sangat beresiko,” jelas Tria saat konferensi pers di Universitas Aisyiyah DIY , Sabtu (19/8).

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan Tria bersama Majelis Kesehatan PP Aisyiyah dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) mengenai konsumsi kental manis oleh balita di provinsi Yogyakarta, terungkap 5.3% atau 55 balita mengkonsumsi kental manis sebagai minuman susu, 43 balita diantaranya terdeteksi gizi buruk atau kurang gizi. Hal itu sejalan dengan persepsi ibu terhadap kental manis. Sebanyak 22,3% ibu beranggapan kental manis adalah susu. Anggapan ini terbentuk akibat pengaruh iklan kental manis yang dahulu kerap tayang di televisi sebagai susu untuk anak (57%).

Lebih lanjut, Tria memaparkan temuan-temuan dari penelitian yang dilakukan pada rentang waktu Juni hingga Juli 2023 tersebut.

“Media massa, seperti televisi, radio, dan media lainnya, juga memiliki peran penting dalam membentuk persepsi tentang kental manis. Responden menganggap bahwa kental manis adalah susu karena informasi yang diperoleh dari media tersebut,” jelas Tria.

Tria juga mengungkapkan, dari 55 balita yang mengkonsumsi kental manis diperoleh proporsi bahwa 34,3% balita stunting mengonsumsi kental manis lebih dari sekali dalam sehari. Selain itu 31,3% dari balita sunting mengonsumsi kental manis di usia 24-59 bulan.

Kesalahan Persepsi Kental Manis

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., mengatakan konsumsi dan persepsi masyarakat mengenai kental manis sebagai susu ini telah terjadi sejak lama.

“Fenomena ini sudah cukup lama, konsumsi kental manis sebagai susu sudah membudaya dan mengakar sejak lama. Dimana masyarakat sering salah kaprah memaknai bahwa kental manis bukan merupakan  susu,” jelas Warsiti dalam konferensi pers Hasil Penelitian Penggunaan Kental Manis pada Masyarakat Marjinal dan Dampaknya Terhadap Status Kesehatan Balita yang diadakan di Gedung Siti Moendjijah Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Sabtu 19 Agustus 2023.

Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta itu juga memaparkan bahwa mengubah pemahaman masyarakat seputar kental manis dapat menggantikan asupan nutrisi terutama pada balita perlu perhatian khusus.

Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mengatakan YAICI telah lebih dari 5 tahun memberi perhatian terhadap isu gizi  masyarakat. Dengan berkolaborasi dengan banyak pihak, salah satunya adalah PP Aisyiyah,  YAICI berkomitmen untuk mendukung pencapaian Generasi Emas 2045, salah satunya adalah pencegahan stunting dengan menggali akar persoalannya.

“Temuan bahwa 13 orang tua bayi dari 17 orang tua Bayi menganggap kental manis adalah susu. Lebih lanjut 13 bayi dari 17 bayi yang berpotensi stunting dan mengonsumsi kental manis mengalami dampak lain seperti diare dan karies,” lanjut Arif Hidayat.

“Bersama mitra, kami melakukan pendekatan ke masyarakat, menggali informasi mengenai kebiasaan-kebiasaan yang mempengaruhi asupan gizi anak dan juga melakukan berbagai penelitian. Dengan demikian, akan menghasilkan rekomendasi untuk penanganan stunting yang berlandaskan fakta dan akademis,” jelas Arif.

Lebih lanjut, Arif menggarisbawahi, hal-hal berdasarkan temuan di lapangan yang berpengaruh terhadap kecukupan gizi anak adalah pemahaman gizi ibu. “Literasi gizi atau pemahaman gizi masyarakat sangat erat kaitannya dengan gizi anak. Tidak jarang kami temukan anak-anak di keluarga mampu juga mengalami gizi buruk atau stunting. Penyebabnya adalah asupan makannya tidak tepat, konsumsi kental manis sebagai susu dan kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula lainnya,” beber Arif.

Penelitian kolaborasi YAICI bersama PP ‘Aisyiyah ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan semua pihak yang saat ini sedang berupaya keras mengejar target penurunan stunting. Peningkatan literasi gizi masyarakat perlu diperhatikan agar dimasa mendatang tidak terjadi lagi kesalahan asupan anak khususnya balita. (*/fs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *