oleh

Profesor Lailan Perkirakan Pandemi Covid Berpengaruh Penurunan Kebakaran

POSKOTA. CO – Prof. Dr. Ir. Lailan Syaufina, M.Sc, guru besar tetap pada Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB Univercity menyatakan Indonesia adalah negara dengan lahan gambut tropika terluas di dunia.

Berdasarkan data, kurang lebih 14.9 juta Ha area lahan gambut yang tersebar terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Luasnya lahan ini diakui Prof Lailan, maka lahan gambut memegang peran yang sangat penting untuk keseimbangan lingkungan, sebagai cadangan karbon, penyerap karbon, pengatur hidrologi, penyedia keanekaragaman hayati, sumber mata pencaharian, dan jasa lingkungan lainnya.

Dalam pengelolaannya, Indonesia telah memiliki payung hukum dengan dikeluarkannya PP No. 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut sebagaimana telah diubah dengan PP No. 57 Tahun 2016.

PP ini telah mencetuskan konsep penting seperti konsep ekosistem gambut, Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) dan pengelompokkan gambut dalam pengelolaan, yaitu kawasan lindung gambut dan kawasan budidaya gambut.

Peraturan ini telah menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia memandang penting ekosistem lahan gambut untuk dikelola dengan baik.

Dalam uraiannya kepada wartawan, Prof Lailan menegaskab, salah satu ancaman terhadap lahan gambut adalah kebakaran. Dampak kebakaran lahan gambut lebih parah dibandingkan dengan kebakaran di lahan non gambut.

Kebakaran lahan gambut (peatland fire) dapat terjadi di bawah permukaan (ground fire) sebagai kebakaran gambut (peat fire), di permukaan (surface fire) dan di tajuk pohon (crown fire).

Berbeda dengan kebakaran lahan non gambut, kebakaran lahan gambut sulit dideteksi dan dipadamkan, karena api menjalar di bawah permukaan.

“Dampak kebakaran lahan gambut yang paling signifikan adalah dampak emisi dan kabut asap. Emisi karbon dan emisi partikel kebakaran lahan gambut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebakaran lahan non gambut, karena kebakaran lahan gambut didominasi oleh fase smoldering yang tidak sempurna, sehingga menghasilkan emisi partikel yang tinggi yang bersatu dengan uap air hasil pembakaran yang menyebabkan kabut asap,” ujar Prof Lailan Kamis (24/3/2022).

Lulusan S1 IPB Univercity ini menuturkan, kebakaran lahan gambut di Indonesia telah menyebabkan masalah “Transboundary Haze Pollution”. Selain itu, dampak kebakaran lahan gambut pada keanekaragaman hayati umumnya menunjukkan adanya kematian vegetasi dan penurunan jumlah spesies tumbuhan.

Belajar dari kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2015, Pemerintah Indonesia telah melakukan perubahan paradigma dalam pengendalian karhutla.
Saat ini prioritas pengendalian karhutla adalah pada pencegahan. Pengendalian kebakaran lahan gambut menjadi kunci dalam penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia.

Sektor FOLU (Forestry and Other Land Use) berkontribusi terhadap 17 persen dari 29 persen target penurunan emisi nasional pada tahun 2030 (KLHK 2019).

Aksi mitigasi yang diharapkan paling besar menurunkan emisi dari sektor FOLU, terutama adalah kebakaran lahan gambut. Oleh karena itu, upaya pengendalian kebakaran lahan gambut merupakan kunci strategis dalam penurunan emisi di Indonesia.

Hampir semua instansi terkait telah memiliki teknologi sistem informasi terkait karhutla, seperti: Sistem Informasi Karhutla oleh KLHK, Sistem Pemantauan Tinggi Muka Air Lahan gambut (SIPALAGA) oleh BRGM, Sistem Peringatan Dini Karhutla (SPARTAN) oleh BMKG.

Perkembangan teknologi dan informasi telah menginspirasi akademisi dalam pengendalian karhutla, seperti prediksi karhutla gambut dalam waktu 2 bulan sebelum terjadi kebakaran, peta kerawanan karhutla dengan memasukkan unsur gambut dan mengklasifikasikan dalam 4 tipologi, kriteria hotspot sebagai indikator kuat karhutla, formulasi tingkat keparahan karhutla, aplikasi mobile dan web Sistem Informasi Patroli Pencegahan Karhutla (SIPP Karhutla), penggunaan IoT (Internet of Things) dalam monitoring lahan gambut untuk dimanfaatkan dalam sistem peringatan dini karhutla.

Tidak hanya itu, beberapa pendekatan sosial juga sudah diimplementasikan, seperti pembentukan MPA (Masyarakat Peduli Api), Program Desa Mandiri Peduli Gambut, Program Desa Bebas Asap, Program Desa Makmur Bebas Api dan sebagainya.

“Pendekatan sosial dalam pengendalian karhutla di Indonesia sangat penting untuk dilakukan, karena 100 persen kebakaran lahan gambut disebabkan oleh manusia, terutama penggunaan api dalam penyiapan lahan. Kompleksnya permasalahan karhutla di Indonesia membutuhkan pendekatan multistakeholder sesuai dengan peran masing-masing,”tegasnya.

Bagi Prof Lailan, integrasi antara pendekatan teknologi dan pendekatan sosial dapat dirumuskan sebagai Konsep NO SMOKE (Inovasi Tekno-Sosio Mitigasi Karhutla).

Ia juga memaparkan, jika dalam kurun 2 tahun terakhir (2020-2021), luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menurun tajam. Hal ini juga berdampak pada udara di langit biru yang semakin bersih.

“Perkiraan kami, adanya pandemi COVID 19 berpengaruh pada penurunan kebakaran ini. Hal ini didukung dengan penguatan upaya pencegahan karhutla yang menjadi prioritas kebijakan Pemerintah Indonesia. Tentunya, kondisi ini menjadi momentum menapak di era baru pengendalian karhutla ke depan termasuk kebakaran lahan gambut yang mengacu pada prinsip ‘multistakeholder partnership’, ‘research based policy’, dan ‘lesson learned’ dari ‘good practices’ yang ada secara terintegrasi,”tegas Prof Lailan. (yopi/sir)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.