oleh

Pemuda Destana, Ujung Tombak Penanggulangan Bencana

POSKOTA.CO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, merasa perlu mengoptimalkan potensi masyarakat pedesaan, guna menanggulangi kebencanaan di wilayahnya masing masing. Terkait itu, BPBD setempat memberi bekal warga pedesaan agar memiliki kompetensi ber-P3K, dalam sebuah pendidikan dan latihan khusus.

Puluhan pemuda pedesaan yang tergabung dalam Desa Tanggap Bencana (Destana), berbaur dengan para relawan, personel SAR dan personel BPBD, itu menjalani Diklat Potensi Relawan yang digelar di Lapangan Tembak Polres Magetan. Diklat yang berlangsung dalam gemblengan para pelatih SAR berpengalaman, organisasi SAR dan Basarnas itu berlangsung tiga hari, mulai Selasa (24/11/2020) hingga Kamis (26/11/2020).

“Jadi para pemuda desa yang kami panggil dalam pelatihan itu, khususnya yang wilayahnya memang memiliki potensi terjadinya bencana alam,” jelas Kepala BPBD Magetan Budi Ari Santoso, kepada jurnalis, Rabu (25/11/2020).

Ditambahkan Budi Ari, pihaknya sengaja memprioritaskan pemuda yang berasal dari wilayah potensi bencana, dimaksudkan agar mereka cepat melakukan langkah pertolongan dini terhadap kebencanaan. Sebelum Tim SAR, BPBD dan pihak bantuan lain datang ke lokasi, lanjut Budi Ari, pemuda Destana sudah dapat bergerak sehingga sanggup meminimalisasi kondisi yang lebih parah.

“Sehingga tercapai sinergi penanganan bencana, antara warga desa yang terlatih dengan personel BPBD, SAR dan unsur penanggulangan bencana lainnya,” imbuh Budi Ari.

Sementara warga desa dari wilayah potensi bencana yang dipanggil untuk mengikuti diklat tersebut, menurut Budi Ari, antara berasal dari Kecamatan Poncol, Plaosan, Panekan dan Kecamatan Kartoharjo.

“Jenis bencana alam dari berbagai kecamatan tersebut berbeda-beda. Mulai dari tanah longsor, puting beliung, banjir serta bencana alam lainnya,” ungkap Budi Ari.

Selama tiga hari mengikuti latihan itu, para peserta mendapat pendidikan berupa materi teori dan praktek, di antaranya kedaruratan lingkungan, pertolongan pertama serta pengoperasian perahu karet bermesin.

Terlebih memasuki musim penghujan ini, harap Budi Ari, kemampuan semua pihak yang mengikuti pelatihan dapat memiliki kompetensi (kemampuan) dan kognisi (pengetahuan) di bidang penanggulangan kebencanaan. (fin)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *