POSKOTA.CO-Ketua MPR RI H. Bambang Soesatyo, S.E.,M.B.A bersama Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menghadiri acara sosialisasi empat pilar MPR RI, sekaligus Dharmasanti Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944, Minggu (10/4/2022) di ruang Aula Pustaka Loka, Gedung Nusantara IV MPR/DPR/DPD RI.
“Atas nama pimpinan dan segenap anggota MPR republik Indonesia Saya ingin mengucapkan selamat hari raya suci Nyepi kepada segnap umat Hindu di seluruh tanah air.Pada kesempatan yang baik ini kita juga patut bersyukur bahwa setelah lebih dari 2 tahun, kita dihadapkan pada masa-masa sulit, bergelut dengan pandemi covid-19 dan saat ini kondisinya Alhamdulillah telah berangsur-angsur semakin menunjukkan perbaikan, kita sudah hampir bebas untuk melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari.”
Di satu sisi kita tentu mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah dalam penanggulangan andemi covid-19 yang telah menggerus sendi-sendi kehidupan kita, di sisi lain kitajuga harus menyadari bahwa berbagai kebijakan tersebut hanya akan berdampak nyata dan optimal apabila kesadaran dan komitmen kolektif masyarakat, untuk senantiasa menempatkan diri sebagai bagian dari solusi penanggulangan dampak pandemi.Kesadaran masayrakat antara lain, dimanifestasikan dalam bentuk kerelaan mengikuti program vaksinasi massal untuk membentuk kekebalan imunitas dan alhamdulillah hingga tanggal 9 April yang lalu, vaksinasi dosis pertama telah mencapai 94,8% dan vaksinasi dosis ke dua telah lebih dari 77,5%.
Capaian ini tentu telah melebihi standar yang ditetapkan oleh WHO, sedangkan komitmen kolektif masyarakat antara lain diwujudkan dalam bentuk partisipasi segenap elemen masyarakat, termasuk umat beragama dalam membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemi *dalam konteks ini saya ingin mengapresiasi kiprah dan berkontribusi PHDI baik di tingkat pusat maupun di daerah, yang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan bakti sosial pada rangkaian perayaan hari suci Nyepi.
Prayaan hari suci nyepi pada hakikatnya adalah ajaran untuk intropeksi dan mawas diri melalui perjalanan rohani untuk melihat lebih jauh dan dalam menyelami diri sendiri.Rangkaian peringatan hari suci Nyepi juga memiliki kedalaman, makna filosofis pada setiap ritual yang dilaksanakan, ritual amatigeni tidak menyalakan api mengisyaratkan sikap pengendalian diri agar tidak mudah terbakar oleh hawa nafsu, kemudian amatikarya atau tidak melakukan kerja fisik mengisyaratkan agar kita tidak mengenyampingkan kerja-kerja rohani, ritual amati lelungan atau tidak melakukan bepergian agar dalam kesunyian kita melakukan introspeksi diri.
Acara dharma santi nasional Pada hari ini tentunya akan semakin melengkapi rangkaian perayaan hari suci Nyepi, acara ini tidak hanya merepsentasikan rasa syukur dan kelancaran berbagai agenda yang telah diselenggarakan dalam rangka perayaan hari suci Nyepi, melainkan juga manifestasi dari salah satu ajaran Tri Hita Karana, khususnya dalam membangun keharmonisan dalam dimensi hubungan antar sesama manusia.Dharma Santi adalah acara simakrama atau silaturahmi yang bertujuan membangun kerukunan kedamaian dan harmoni antar umat, dengan dilandasi sikap moderasi dalam beragama dengan menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat kemanusiaan.

Narasi yang dihadirkan oleh dharma santi tersebut selaras dengan tema perayaan hari suci Nyepi Tahun Baru saka 1944 yaitu Aktualisasi Nilai Tat Twam Asi Dalam Moderasi beragama menuju Indonesia Tangguh, Ajaran Tat Twam Asi yang mengamanatkan cinta kasih kepada sesama pada hakekatnya adalah ajaran pilosofi tentang kemanusiaan, bahwa eksistensi orang lain adalah refleksi dari eksistensi diri sendiri. Martabat kemanusiaan kita akan tercermin dari cara kita menghormati orang lain dan sebarapa kuat komitmen kita dalam menjunnjung tiggi nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan antar sesama manusia, dalam konsepsi kehidupan dan berbangsa dan bernegara, nilai filosofis dari ajaran Tat Twam Asi ini dapat kita temukan pada rumusan sila kedua Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dewasa ini membangun modernisasi dalam kehidupan beragama Menjadi isu penting untuk empat alasan,
Pertama bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, sejak kelahirannya, di mana dari 273 juta penduduk Indonesia menganut 6 agama berbeda yang telah diakui oleh negara serta puluhan aliran kepercayaan, dengan kemajemukan tersebut, modernisasi dalam kehidupan beragama akan menjadi faktor kunci terwujudnya harmoni dan kerukunan umat beragama tapi saya yakin dan percaya, kita memiliki menteri agama yang luar biasa yang dapat menjaga itu semua.
Kedua kerukunan umat beragama yang menjadi landasan terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa, bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi terus berkembang dinamis, ini dapat kita pada indeks kerukunan umat beragama di Indonesia yang mengalami pasang dan surut.Misalnya dari tahun 2017 dengan capaian indeks 70,27 kemudian tahun 2018 turun menjadi 70,9 tahun 2019 naik lagi menjadi 73,8 dan tahun 2020 yang lalu turun lagi menjadi 67,46 dan tahun 2021 naik kembali menjadi 72,39 dan saya kedepan dengan agama kita hari ini akan naik lagi keatas.
Dinamika ini menjadi pesan penting bahwa membangun kerukunan umat beragama harus menjadi upaya berkesinambungan.
Ketiga kehidupan demokrasi menjamin kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dalam segala bidang termasuk dalam bidang keagamaan, diskursus keagamaan di ruang publik sangat mungkin akan bersinggungan dengan isu-isu sensitif yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, karena adanya perbedaan literasi keagamaan dalam masyarakat, dampak paling ekstrim yang mungkin terjadi agama yang disalahgunakan sebagai alat pembenar untuk melakukan tindakan-tindakan intoleransi dan kekerasan atas nama agama.
Keempat, saat ini isu dalam kehidupan keberagaman telah menjadi isu global,dimana intoleransi telah menyebabkan kebebasan beragama di seluruh dunia mengalami tekanan, hari toleransi internasional setiap tanggal 16 November yang telah ditetapkan oleh PBB.berangkat dari kenyataan bahwa sikap toleransi dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan beragama adalah ancaman yang harus disikapi bersama oleh komunitas global.
Jika kita merujuk pada catatan sejarah banyak negara termasuk negara-negara maju di Eropa masing-masing pernah mengalami masa dimana kekerasan atas nama agama menjadi bagian dari sejarah kelam. (timyadi/sir)







Komentar