oleh

Kasus Graha Medika, Fikri Salim Akui Mendikte Pembuatan Kuitansi

POSKOTA.CO – Rina Yuliana menjadi saksi mahkota dalam sidang lanjutan kasus dugaan pemalsuan surat dengan terdakwa Fikri Salim di Pengadilan Negeri Bogor, Selasa (19/1/2021). Sidang ini beragendakan pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Arya Putra Negara, Rina menerangkan, ia mengenal Fikri pada saat mendampingi Isnanto untuk pengurusan perizinan pembangunan rumah sakit. “Pada akhir tahun 2015, Pak Isnanto minta didampingi untuk bertemu dengan Pak Fikri. Pada saat itu Isnanto diminta untuk membantu mengurus perizinan Rumah Sakit Graha Medika di Kota Bogor,” ujanya.

Rina menerima jasa pengurusan perizinan sekitar 20 item. Untuk berkas-berkas dibutuhkan dalam permohonan perizinan di DPMPTSP didapat dari Isnanto. Ketua majelis kemudian menanyakan perihal surat kuasa dalam pengurusan perizinan. “Ada yang mulia, pada saat itu, Pak Slamet Isnanto yang meminta saya menandatangani surat kuasa,” kata Rina.

Permohonan perizinan itu diajukan atas nama PT Muhammad Medika Abadi. Selain rumah sakit, Rina juga mendapat permintaan untuk pengurusan perizinan hotel Family yang lokasinya dekat dengan rumah sakit Fikri Salim.

Rina menjelaskan, dalam berkas dan gambar rumah sakit yang diterima untuk permohonan awal 4 lantai dan 2 basement. Permohonan awal disampaikannya telah selesai.

Selanjutnya, kata Rina, ada pengurusan IMB perluasan untuk rumah sakit dengan penambahan dua lantai atas permintaan Fikri. Untuk pembiayaan IMB perluasan tersebut sebesar Rp30 juta dan dinyatakan telah selesai. Rina mengaku menerima sejumlah uang untuk pengurusan perizinan per item dari Isnanto. Sedangkan dari Fikri sendiri diakuinya tidak ada.

Dalam persidangan, JPU membacakan hasil lab Bareskrim Mabes Polri terhadap beberapa lembar berkas di antaranya tanda terima IPPT, surat kuasa dan surat pernyataan disimpulkan bahwa tanda tangan Dr Lucky Azizah merupakan tanda tangan berbeda dengan aslinya. Selain hal lab, JPU juga memperlihatkan bukti dalam berkas perkara berupa rekening atas nama Rina Yuliana.

Terkait Sertifikat Laik Fungsi (SLF), Rina mengatakan, dokumen dimaksud tidak keluar dikerenakan tugasnya sampai penyelesaian IMB rumah sakit. Setelah disurvei dengan dihadiri instansi terkait, bangunan tidak sesuai dengan IMB dan ada banyak revisi bangunan, salah satunya siteplan.

Sementara, penasihat hukum Fikri Salim kepada saksi mempertanyakan perihal kerja sama pengurusan perizinan dengan Isnanto. “Saya bekerja kepada Pak Isnanto kurang lebih dari tahun 2013. Untuk pengurusan perizinan rumah sakit kurang lebih sekitar satu tahun. Hotel Family terpisah,” jawab Rina.

Dalam persidangan tersebut, terdakwa Fikri banyak melontarkan pertanyaan kepada Rina. Dia juga menyatakan keberatan dengan keterangan saksi saat ditanya ketua hakim.

Sementara kesaksian Fikri Salim atas terdakwa Rina Yuliana, Fikri mengaku memalsukan sejumlah kuitansi sebagai tanda bukti transaksi. Fikri juga mengaku pernah diminta untuk memberikan uang kepada Rina sebesar Rp30 juta untuk survei supaya proses berjalan lancar. Dalam proses pembangunan RS Graha Medika, Fikri mengaku tidak memiliki SK atau surat tugas dari PT Muhamad Medika Abadi.

Hakim meminta jaksa untuk menunjukkan sejumlah dokumen yang berupa surat keputusan (SK) penunjukan Fikri Salim dari PT Muhamad Medika Abadi untuk mengurus proyek RS Graha Medika Abadi dengan 7 lantai dan basemant serta mengurus segala perizinan RS tersebut. “Tidak pernah yang mulia,” ucap Fikri.

Tak hanya itu, Fikri juga mengaku tidak pernah menyuruh Junaedi membuat rekening BCA atas nama PT. Namun Fikri memerintahkan Junaedi mengirimkan uang ke beberapa rekening keluarganya salah satunya Sadam Firdaus ponakan dari Fikri Salim. Selain itu di hadapan majelis hakim, Fikri juga menyuruh Junaedi membayar mobil dan pembayaran rekening listrik apartemen atas nama Wulan. (omi)

 

 11 total views

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *