SEMUA Nabi dan Rasul yang Allah utus ke muka bumi adalah kekasih Allah. Allah begitu mencintai mereka, dan mereka begitu mencintai Allah. Di antara Nabi dan Rasul yang Allah cintai, Muhammad-lah yang memiliki kedudukan yang paling tinggi di antara utusan-utusan-Nya yang lain. Allah Swt berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab, 33:21). Dan dalam firman-Nya yang lain, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya, 21:107). Selain itu, Allah memberi kedudukan yang lebih kepada Muhammad Saw. dibandingkan dengan Nabi dan Rasul lain, maka perhatikanlah hal-hal yang berikut bagaimana Allah Swt. menempatkan Nabi Muhammad, Saw.:
1. Allah jadikan rukun Islam yang pertama pengakuan (syahadat) bahwa tidak Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya, : “Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujurât, 49: 15).
Juga dalam firman-Nya yang lain, : “Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Fath, 48: 13).
Rasulullah Saw. telah bersabda, : “Islam dibangun di atas lima perkara yaitu : bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan Allah; mendirikan shalat; membayar zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan bershaum pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim).
2. Allah nyatakan bahwa mentaati Rasul ini berarti mentaati Allah, dan berjanji taat kepadanya berarti berjanji taat kepada Allah Swt.
Allah Swt. telah berfirman dalam surat Al-Fath, 48: 10), “Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka …”
Juga dalam firman yang lainnya, : ”
Barangsiapa mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (QS. An-Nisà, 4: 80).
3. Perintah Allah untuk mentaati-Nya selalu berdampingan dengan perintah Allah untuk mentaati Rasul dengan status yang sama. Lalu Allah tegaskan bahwa jalan untuk mendapatkan hidayah dan rahmat Allah bergantung kepada ketaatan terhadap Rasulullah Saw. dan menjadi syarat dapat masuk ke dalam surga.
Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat An-Nūr, 24: 56, : “Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.”
Dalam firman-Nya yang lain, dalam surat Al-Fath, 48:17, : ” … Barangsiapa ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; tetapi barangsiapa berpaling, Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih.” Juga terdapat dalam surat An-Nur, 24: 54;
Manusia diwajibkan Allah tunduk setunduk-tunduknya atas segala aturan yang ditetapkannya, menjalankannya dengan perasaan ridha lahir bathin, tidak dibolehkan menaruh rasa keberatan.
Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat An-Nisa, 4: 64., : “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalami dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Dalam hadits yang lain Rasulullah Saw. telah bersabda, : “Yang dapat memberi syafaat kelak di hari kiamat, ialah: para nabi, kemudian para ulama, lalu para syuhada.” (HR. Ibnu Majah). “Sesungguhnya syafaatku diperuntukkan bagi umatku yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah.” (HR. Ahmad).
4. Allah SWT, bukan saja mewajibkan kita mengikuti atau mentaatinya, tetapi diperintahkan untuk mengikuti segala gerak gerik dan perbuatannya, mengikuti semua langkah dan jejak perjalanannya.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat Al-A’ràf, 7: 158, : “Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.”
5. Mentaati Rasulullah Saw. dijadikan Allah sebagai bukti bahwa seseorang mencintai Allah, sebagai bukti seseorang dicintai oleh Allah dan akan mendapatkan ampunan dari Allah.
Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat Âli-‘Imrân, 3: 31, : “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Rasulullah Saw. telah bersabda, : “Seseorang di antara kalian masih belum dikatakan beriman yang sesungguhnya sebelum ia mencintai diriku lebih daripada kecintaannya terhadap anak-anaknya, kedua orang tuanya, dan manusia semuanya.” (HR. Syaikhan).
6. Allah menjamin agama yang diajarkannya satu agama yang terpelihara dari segala macam kepalsuan dan kedustaan, dari dahulu, sekarang dan di masa datang.
Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, : “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr, 15: 9). “Sungguh, Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqarah, 2: 119). “(Kitab Al-Quran) tak pernah dicampuri kepalsuan waktu diturunkan dan tidak pula sesudahnya, diturunkan dari Tuhan yang Bijaksana, yang Terpuji.” (QS. Fushilat, 41:42).
“Agama yang dibawanya adalah agama Nabi Ibrahim yang disempurnakan, sehingga dengan kesempurnaannya itu, maka Allah menasikhkan (mencabut hak berlakunya) seluruh agama-agama yang datang sebelumnya. Dengan begitu agama Islam menjadi satu-satunya agama yang dianggap shah oleh Tuhan, yang diridhai Tuhan untuk dijadikan agama bagi seluruh manusia.” (Syaikh Abdul Hamid Al-Khatib, Asmar Risalat).
Rasulullah Saw. telah bersabda, : “Barangsiapa mengikuti Kitabullah (Al-Qur’an), niscaya Allah akan memberinya petunjuk dari kesesatan, dan Dia akan memeliharanya dari hisab yang buruk kelak di hari kiamat.” (HR. Thabrani).
Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat Âli-‘Imrân, 3: 85, : “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” Dalam surat Al-Mâidah, 5: 3, : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku redha Islam sebagai agamamu.” Wallahu A’lam bish Shawab.
Karsidi Diningrat
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah Jakarta.







Komentar