JAKARTA – Jakarta kebanjiran di sana-sini, namun Penjabat (Pj) Gubernur DKJ Teguh Setyabudi merasa bersyukur karena tidak separah yang terjadi pada tahun 2020. Hujan lebat dengan durasi panjang itu merupakan siklus lima tahun sekali yang mengakibatkan kawasan 52 RT direndam air dari sejak Selasa hingga Rabu, bahkan ada beberapa kawasan yang belum surut pada Kamis.
Teguh menjelaskan banjir yang terjadi pada tanggal 28 Januari 2025 tidak seperti awal tahun 2020 karena berbagai faktor salah satunya kesiapsiagaan personel dalam mengantisipasi banjir. “Saluran pendukung dan utama walaupun belum maksimal, tapi sudah berfungsi baik. Kemudian sinergi berbagai pihak termasuk satuan kerja perangkat daerah,” kata Teguh di Jakarta, Kamis (30/1).
Dikatakan Teguh, berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan yang terjadi di Jakarta pada Selasa malam lalu tergolong sedang hingga lebat. Ia mengungkapkan, banjir yang melanda Jakarta pada tanggal 28 Januari 2025, dengan curah hujan hampir sama seperti yang terjadi di awal tahun 2020 atau lima tahun lalu.
“Berdasarkan data curah hujan di Jakarta tahun 2020 volume tertinggi 377 mm dan terendah 256 mm. Sedangkan data tanggal 28 Januari 2025 malam, curah hujan tertinggi teecatat hingga 368 mm dan terendah 264 mm. Data ini yang tercantum dari Stasiun Pemantau cuaca Kemayoran,” ungkap Teguh.
Diungkapkannya dalam beberapa hari terakhir BPBD memang tidak melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan cara memindahkan bakal hujan di daratan Jakarta ke kawasan laut. “Selanjutnya, OMC akan diterapkan lagi jika diperlukan dan berdasarkan evaluasi serta data dari BMKG. Ke depan, kami sudah petakan untuk melakukan OMC apabila dipandang perlu,” ujar Teguh.
Sebagaimana diketahui banjir yang sebagian besar terjadi di wilayah Jakarta Utara dan Barat dituding sebagai preseden buruk akibat kurangnya antisipasi membersihkan sungai, kali, saluran penghubung, tali air dan lainnya. Banyak pihak juga menuding adanya sejumlah pompa yang rusak. Banjir yang diduga karena kelalaian jajaran Dinas Sumber Daya Air (SDA) ini menurunkan citra Teguh di pengujung masa baktinya sebagai Pj Gubernur yang akan berakhir pada Kamis tanggal 6 Februari. (jo)








Komentar