oleh

Dari Gang Bloso Karawaci, Kemerdekaan Dirayakan lewat Kebersamaan

TANGERANG – Semangat gotong-royong mewarnai perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gang Bloso (Blantika Orang Seni dan Sosial), Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang pada Senin (17/8/2026).

Puluhan kaum ibu dari 16 RT di RW 05 berkumpul mengenakan pakaian bernuansa merah putih. Mereka mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari senam bersama, lomba makan kerupuk, lomba tumpeng hingga sejumlah permainan.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada semangat kebersamaan yang menjadi bagian penting dari perayaan. Warga tidak hanya datang sebagai peserta, tetapi juga ikut membantu mempersiapkan dan menjalankan kegiatan.

Ketua panitia, Sultan Kalbu Syawal Ahad mengatakan, keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan acara. Panitia inti dari Bloso dibantu warga sekitar untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.

“Panitianya justru memang dibantu oleh masyarakat semua. Memang tim intinya dari Bloso sendiri, tetapi semua berkorban dan banyak membantu dalam acara kegiatan sore hari ini,” kata Sultan.

Menurut Sultan, semangat gotong-royong tersebut sengaja dibangun melalui kegiatan sederhana yang dapat melibatkan masyarakat secara langsung. Ia ingin momentum kemerdekaan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga untuk mempererat hubungan sosial. “Kita pengen semuanya merasakan kemerdekaan ini dari hal-hal kecil saja, seperti biasa orang pada umumnya. Kita adakan lomba kerupuk, lomba tumpeng, dan tadi juga sudah ada senam bersama,” ujarnya.

Kaum Ibu Jadi Pusat Perayaan
Berbeda dengan perayaan kemerdekaan yang kerap menjadikan anak-anak sebagai peserta utama perlombaan, Bloso tahun ini memberikan ruang lebih besar kepada kaum ibu.

Para ibu diajak menikmati suasana kemerdekaan melalui kegiatan yang santai sekaligus menghibur. Mereka menjadi peserta dalam lomba dan berbagai aktivitas yang mendorong terjadinya interaksi antarsesama warga. “Memang hari ini kita fokuskan ibu-ibunya untuk bahagia. Mereka harus merasakan kemerdekaan yang sama dengan yang lain,” kata Sultan.

“Lombanya ada lomba tumpeng, lomba senam, kemudian juga ada perkumpulan-perkumpulan yang memang seru untuk kaum ibu,” sambungnya.

Suasana perayaan semakin semarak dengan pembacaan puisi oleh Sumangku. Sejumlah putri budaya Banten dan musisi lokal turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Meski berfokus pada kaum ibu, kegiatan tetap terbuka bagi masyarakat. Kehadiran warga dari berbagai RT membuat acara tersebut menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat yang sehari-hari disibukkan dengan aktivitas masing-masing.

Bagi Sultan, kebersamaan semacam itu menjadi bagian dari makna kemerdekaan. Menurut dia, masyarakat tidak harus menunggu kegiatan besar untuk merasakan kebahagiaan dan kebersamaan.

Menjaga Kebersamaan Warga
Semangat gotong-royong yang terlihat dalam perayaan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian HUT ke-81 RI berakhir.

Bloso berencana terus menghadirkan ruang-ruang pertemuan bagi masyarakat, termasuk melalui agenda Jambore Kaum Ibu yang tengah disiapkan untuk kegiatan mendatang.

Sultan menilai kegiatan bersama dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga hubungan sosial di tengah kesibukan masyarakat. “Gotong-royong dalam 81 tahun kemerdekaan ini kita bangun. Panitia dan orang-orang yang membantu sebenarnya mereka semua juga masyarakat. Jadi itu bentuk gotong royong yang kita bangun,” tuturnya.

Ia berharap semangat tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Gotong-royong, kata Sultan, bukan hanya diperlukan ketika ada perayaan, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Momentum kemerdekaan juga menjadi kesempatan bagi Sultan untuk mengajak masyarakat dan pemerintah terus melakukan evaluasi. Ia mengingatkan pentingnya keterbukaan terhadap kritik dan menjaga nurani dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.

“Jangan menjadi manusia anti-kritik. Terus mengevaluasi dan mudah-mudahan Indonesia semakin sejahtera, pemerintah dan masyarakatnya tetap menjadi manusia-manusia dengan nurani yang tinggi dan akal sehat yang tinggi,” ujar Sultan.

Bagi warga Gang Bloso, perayaan HUT ke-81 RI akhirnya bukan sekadar tentang lomba dan kemeriahan. Di antara tawa kaum ibu, hidangan tumpeng, dan berbagai permainan, tumbuh kembali kesadaran bahwa kemerdekaan juga dapat dirasakan melalui hal sederhana: warga yang mau berkumpul, saling membantu, dan bergotong-royong. (*/imam)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *