RASULULLAH Saw. telah bersabda, “Ibuku melihat nur memancar dari tubuhnya sewaktu ia melahirkan; nur tersebut dapat menerangi gedung-gedung kota Bashrah.” (HR. Sa’d melalui Abul Faj’aa).
Hadits ini menceritakan tentang nubuwat yang dialami oleh Siti Aminah, ibunda Nabi Muhammad Saw., ketika beliau melahirkan Nabi Saw. Hal ini tidak lain merupakan salah satu dari irhash yang menjadi pertanda bahwa bayi yang kelak dilahirkannya akan menjadi seorang nabi yang menjadi pemungkas para rasul, dan di zamannya kelak hidayahnya akan mencapai semua daerah dan kawasan yang terkena oleh sinarnya itu.
Allah Yang Maha Mendengar dan Mengetahui berkenan memperjalankan Nabi dan Rasul-Nya Muhammad bin Abdullah dengan satu perjalanan yang tinggi menembus ruang angkasa. Allah ingin memperlihatkan kepadanya banyak ayat-ayat-Nya, kekuasaan-Nya, dan kehebatan alam yang diciptakan-Nya. Agar bertambah ilmu pengetahuan dan keyakinannya dengan apa yang sebenarnya (hakikat) ada di balik seluruh alam yang tampak ini. Agar nyata kepadanya, bukan hanya sekedar tahu, bahwa alam yang tak tampak itu jauh lebih hebat lebih luas dan lebih lengkap dari alam yang apa dapat di lihat manusia dengan mata dan ilmu pengetahuannya. Agar Nabi makin sadar akan siksa sengsara yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang berdosa. Supaya apa yang diucapkannya lebih berpengaruh terhadap pendengar-pendengarnya.
Allah ingin agar Nabi-Nya mengatakan segala sesuatu dengan mengetahui akan hakikatnya. Jangan mengatakan sesuatu yang tak diketahuinya sendiri akan hakikatnya. Allah ingin agar Rasul-Nya melihat dan mendengar sendiri akan keajaiban-keajaiban alam ciptaan-Nya. Karena Allah mau mewajibkan kepada ummatnya semulia-mulia ibadat, yaitu salat, yang menjadi tiang dan puncak tertinggi ajaran agama. Salat atau sembahyang yang akan memperhubungkan hamba (manusia) dengan Tuhannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya salat itu adalah bagi orang-orang yang beriman menjadi satu kewajiban yang ditentukan waktunya.”
Isra’ dan mi’raj itu terjadi dalam malam hari yang dinamai Allah malam yang penuh barakah. Perjalanan Nabi di malam hari ini tak lain adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah kepada beliau, maka Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menjemput Nabi Muhammad di Masjidil Haram untuk di bawa ke Masjidil Aqsha di Palestina. Kemudian beliau dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Swt., “Penglihatan Muhammad tidak menyimpang dari apa yang dilihatnya itu dan tidak pula melampaui batas. Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm, 53: 17-18).
Allah cantumkan kedua peristiwa ini di dalam Kitab Suci-Nya Al-Qur’an. Isra’ dalam surah Al-Isra’ sedang mi’raj dalam surah An-Najm. Allah Swt. berfirman, “Maha Suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada satu malam dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsha (Palestina), yang Kami berkati kelilingnya, guna Kami perlihatkan kepadanya akan tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Ia-lah Yang Mendengar, Yang Melihat”. (QS. Al-Isra’, 17:1).
Dalam firman-Nya, “Dan sungguh ia (Muhammad) telah melihatnya dalam rupa yang asli pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidratul Muntaha. di dekatnya ada Surga tempat tinggal. Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya, Sungguh, dia telah melihat sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm, 13-18.
Karena itu, tidaklah diragukan lagi kebenaran Isra’ dan mi’raj itu. Tetapi bagaimana benar caranya, tidaklah dapat kita membicarakannya, namun dapat kita lihat dari yang diriwayatkan oleh Al-Hasan bin Ali dari neneknya, yaitu Rasulullah sendiri sebagai berikut:
Ketika aku sedang berbaring di dekat Hathim, (Ka’bah), tiba-tiba datang seseorang (malaikat) kepadaku, lalu ia membelah dadaku mulai dari sini hingga ke sini dan ia mengeluarkan hatiku. Kemudian didatangkan kepadaku sebuah piala emas yang dipenuhi dengan iman; hatiku dicuci dengan air zamzam, lalu diisi dengan iman, setelah itu dikembalikan ke tempat semula. Kemudian didatangkan kepadaku seekor hewan yang lebih rendah daripada bighal tetapi lebih tinggi daripada keledai; hewan tersebut berbulu putih dan dikenal dengan nama Buroq.
Hanya dengan sekali langkah Buroq dapat sampai ke tempat sejauh mata memandang. Aku dinaikkan ke atas Buroq, lalu Malaikat Jibril berangkat denganku hingga sampai ke langit pertama.
Malaikat Jibril mengetuk pintu langit, lalu ada yang bertanya : “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Penanya (Malaikat penjaga pintu langit pertama) bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Dia adalah Muhammad.” Penanya bertanya kembali, “Apakah ia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Penanya berkata, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”
Lalu pintu langit pertama dibuka; ketika aku masuk, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah ayahmu Adam, ucapkanlah salam padanya.” Maka aku mengucapkan salam padanya, dan dia menjawab salamku. Selanjutnya ia (Adam) mengatakan, “Selamat datang Nabi yang saleh, anak yang saleh.”
Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit kedua; Malaikat Jibril mengetuk pintu langit kedua, lalu Malaikat penjaga pintu langit kedua bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku adalah Jibril.” Kemudian bertanya kembali, “Siapakah orang yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia adalah Muhammad.” Kemudian bertanya kembali, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab, “Ya”. Lalu penjaga langit itu mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”
Lalu pintu langit dibukanya; ketika aku memasuki langit kedua, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa, keduanya adalah anak bibi (ku). Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Yahya dan Isa, ucapkan salam kepada keduanya.” Lalu aku mengucapkan salam kepada keduanya, dan keduanya menjawab salamku, lalu mengatakan : “Selamat datang dengan Nabi yang saleh dan saudara yang saleh.”
Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang ketiga; ia mengetuk pintu langit ketiga, maka penjaga pintu langit ketiga bertanya, “Siapakah Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku adalah Jibril.” Kemudian ia bertanya kembali, “Siapakah orang yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia adalah Muhammad.” Kemudian ia kembali bertanya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab, “Ya”. Penjaga pintu langit ketiga mengatakan, “Selamat datang dengan dia, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”
Lalu penjaga pintu membuka pintu langit yang ketiga, dan ketika aku masuk, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Yusuf, maka ucapkanlah salam kepadanya”. Aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia pun menjawab salamku, setelah itu ia mengatakan, “Selamat datang dengan Nabi yang saleh, saudara yang saleh.”
Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang keempat, lalu ia mengetuk pintu langit yang keempat. Penjaga pintu langit keempat bertanya, “Siapakah Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Kemudian ia bertanya, “Siapakah yang bersama Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia adalah Muhammad.” Kemudian ia kembali bertanya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya.” Malaikat Jibril menjawab, “Ya”. Penjaga pintu langit keempat mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.” Lalu penjaga pintu membuka pintu langit yang keempat, dan ketika aku masuk ke langit keempat, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Idris, ucapkan salam kepadanya.” Lalu aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku, selanjutnya dia mengatakan, “Selamat datang dengan saudara yang saleh, Nabi yang saleh”.
Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit yang kelima, lalu ia mengetuk pintu langit yang kelima, penjaga pintu langit kelima, bertanya, “Siapakah Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku Jibril.” Ia kembali bertanya, “Siapakah yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Dia adalah Muhammad.” Ia kembali bertanya, “Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Jibril menjawab, “Ya.” Ia mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.” Ketika aku memasuki langit kelima, tiba-tiba aku bersua dengan Nabi Harun; Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Nabi Harun, ucapkanlah salam kepadanya.” Aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku, selanjutnya dia mengatakan, “Selamat datang dengan saudara yang saleh, Nabi yang saleh.”
Kemudian Malaikat Jibril … (bersambung)
Drs.H. Karsidi Diningrat M.Ag.
* Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
* Anggota PB Al Washliyah di Jakarta.
* Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat.







Komentar