JAKARTA – Penyakit infeksi tidak hanya berdampak pada sistem kekebalan tubuh, tetapi juga dapat memberikan beban yang signifikan terhadap kesehatan jantung. Oleh karena itu, pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung, khususnya gagal jantung, dianjurkan untuk melengkapi vaksinasi sebagai upaya mencegah komplikasi yang dapat mengancam jiwa.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. dr. Sidhi Laksono, Sp.JP.Subsp KI(K), FIHA, MARS, MH, CPHM, FISQUA pada kegiatan Heart Care Day yang digelar Siloam Heart Hospital, Sabtu (4/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa ketika tubuh mengalami infeksi, organ jantung dipaksa bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada pasien dengan kondisi jantung yang sudah mengalami gangguan, beban tambahan tersebut dapat memicu perburukan kondisi secara cepat.
Menurut Dr. Sidhi, kondisi ini dapat diibaratkan seperti seseorang yang sedang berlari. Saat berlari, jantung akan memompa darah lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan oksigen seluruh tubuh. Situasi serupa juga terjadi ketika tubuh sedang melawan infeksi. Sistem kekebalan tubuh bekerja lebih aktif sehingga kebutuhan oksigen meningkat dan jantung harus memompa darah lebih kuat.
“Kalau jantung sudah memiliki penyakit sebelumnya, kemudian ditambah adanya infeksi, maka beban kerja jantung menjadi semakin berat. Akibatnya pasien dapat mengalami dekompensasi atau gagal jantung yang memburuk,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pasien gagal jantung merupakan kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi akibat penyakit infeksi. Bahkan infeksi yang tampak ringan sekalipun dapat menyebabkan pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit apabila kondisi jantungnya tidak mampu beradaptasi terhadap peningkatan beban tersebut.
Vaksinasi Menjadi Bagian dari Pencegahan Penyakit Jantung
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan penanganan penyakit jantung tidak lagi hanya berfokus pada pemberian obat-obatan maupun tindakan medis. Pencegahan melalui vaksinasi kini juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kondisi pasien tetap stabil.
Dr. Sidhi menjelaskan bahwa berbagai organisasi profesi internasional telah memasukkan vaksinasi sebagai salah satu rekomendasi dalam tata laksana pasien penyakit jantung. Perhimpunan Jantung Amerika (American Heart Association/AHA) maupun Perhimpunan Jantung Eropa (European Society of Cardiology/ESC) misalnya, kedua organisasi tersebut sama-sama menganjurkan pasien penyakit jantung mendapatkan vaksin sesuai indikasi. Rekomendasi serupa juga mulai diadopsi oleh organisasi profesi jantung di Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Menurutnya, vaksin bukan hanya bertujuan mencegah seseorang terkena penyakit infeksi, tetapi juga mengurangi kemungkinan munculnya komplikasi serius yang dapat memperburuk penyakit jantung. “Semakin sedikit risiko terkena infeksi, maka semakin kecil pula kemungkinan jantung mengalami beban tambahan yang dapat memicu perburukan kondisi,” ujarnya.
Empat Vaksin yang Direkomendasikan
Dalam paparannya, Dr. Sidhi menyebutkan sedikitnya terdapat empat kelompok vaksin yang direkomendasikan bagi pasien dengan penyakit jantung.
Pertama adalah vaksin herpes zoster atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai vaksin cacar api. Penyakit ini disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster, yaitu virus yang sama penyebab cacar air.
Virus tersebut sebenarnya tidak hilang setelah seseorang sembuh dari cacar air. Sebaliknya, virus akan tetap berada di dalam jaringan saraf selama bertahun-tahun dan dapat kembali aktif ketika daya tahan tubuh menurun, terutama pada usia lanjut.
Selain menyebabkan ruam yang terasa nyeri, herpes zoster juga diketahui dapat memicu peradangan yang memengaruhi pembuluh darah dan sistem kardiovaskular.
Vaksin kedua yang direkomendasikan adalah vaksin influenza. Penyakit influenza sering dianggap ringan, padahal pada pasien penyakit jantung infeksi influenza dapat meningkatkan risiko rawat inap, gagal jantung akut, hingga serangan jantung.
Selanjutnya adalah vaksin COVID-19. Meskipun pandemi telah mereda, virus SARS-CoV-2 masih beredar di masyarakat. Pasien dengan penyakit jantung tetap dianjurkan memperoleh vaksinasi sesuai rekomendasi karena kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala berat apabila terinfeksi.
Vaksin berikutnya adalah vaksin terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan tertentu, yang juga berperan mengurangi risiko pneumonia maupun komplikasi lain yang dapat memperburuk kondisi jantung.
Herpes Zoster dapat Memicu Serangan Jantung
Vaksin herpes zoster menjadi salah satu vaksin yang sangat direkomendasikan untuk pasien. Dr. Sidhi mengungkapkan bahwa sejumlah penelitian dan laporan kasus menunjukkan adanya peningkatan risiko serangan jantung maupun stroke setelah seseorang mengalami herpes zoster.
Ia mencontohkan pengalaman di Korea Selatan, di mana berbagai penelitian mengenai hubungan antara herpes zoster dan penyakit kardiovaskular mendorong pemerintah serta tenaga kesehatan semakin aktif mengampanyekan vaksinasi herpes zoster, khususnya bagi kelompok lanjut usia.
Menurutnya, peradangan yang terjadi selama infeksi dapat memengaruhi stabilitas plak pada pembuluh darah sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyumbatan yang berujung pada serangan jantung. “Karena itu pencegahan menjadi sangat penting, terutama pada kelompok yang memang sudah memiliki faktor risiko penyakit jantung,” katanya.
Dr. Sidhi menjelaskan bahwa usia merupakan salah satu faktor yang tidak dapat dihindari dalam perkembangan penyakit jantung. Semakin bertambah usia seseorang, proses aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak juga semakin sering ditemukan. Pada saat yang sama, sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan sehingga virus yang selama ini tidak aktif dapat kembali muncul.
Kombinasi antara penyakit pembuluh darah dan infeksi inilah yang menyebabkan kelompok usia lanjut memiliki risiko komplikasi lebih tinggi dibandingkan usia muda. Karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah preventif yang dinilai efektif untuk membantu menurunkan risiko tersebut.
Senada juga disampaikan dr. Giovanno Rachamanda Maulane, Sp. JP. FIHA. Pada sesi ‘Kenali Risiko bagi Tubuh & Jantung di Usia Lanjut’ ia menjelaskan bahwa vaksin herpes zoster tidak menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari penyakit. Namun, vaksin terbukti mampu menurunkan risiko infeksi berat, mengurangi keparahan gejala, serta mencegah komplikasi yang dapat terjadi setelah seseorang terinfeksi.
“Vaksin bukan berarti membuat seseorang tidak akan pernah terkena herpes zoster. Tujuannya adalah mengurangi risiko dan apabila tetap terinfeksi, gejalanya diharapkan jauh lebih ringan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa prinsip kerja vaksin adalah memperkenalkan sistem kekebalan tubuh terhadap bagian tertentu dari virus. Dengan demikian, tubuh membentuk memori imun sehingga apabila suatu saat virus kembali aktif, sistem kekebalan dapat merespons lebih cepat.
“Ketika vaksin diberikan, tubuh belajar mengenali virus. Setelah itu tubuh membentuk memori sehingga memiliki pasukan pertahanan yang siap bekerja apabila virus muncul kembali,” jelasnya.
Menurutnya, teknologi vaksin saat ini juga beragam, mulai dari vaksin yang menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan hingga vaksin yang hanya memanfaatkan bagian tertentu dari virus untuk merangsang pembentukan antibodi.
Beberapa Gejala Cacar Api
Penyakit herpes zoster atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai cacar api tidak hanya menyebabkan ruam dan nyeri hebat pada kulit, tetapi juga dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk stroke, serangan jantung, hingga gagal jantung. Oleh karena itu, masyarakat, terutama kelompok lanjut usia dan pasien dengan penyakit kronis, dianjurkan untuk melengkapi vaksinasi sebagai langkah pencegahan.
Herpes zoster merupakan infeksi yang berasal dari virus Varicella zoster, yaitu virus yang sama penyebab cacar air. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tersebut tidak benar-benar hilang dari tubuh, melainkan menetap di jaringan saraf dalam keadaan tidak aktif.
“Di Indonesia kita mengenalnya sebagai cacar air yang kemudian, ketika usia sudah bertambah dan daya tahan tubuh menurun, dapat muncul kembali sebagai cacar api,” jelas dr Gio.
Ia menerangkan bahwa herpes zoster umumnya muncul pada satu sisi tubuh mengikuti jalur saraf. Keluhan biasanya berupa ruam berisi cairan yang terasa nyeri, panas, atau seperti terbakar. Pada sebagian besar kasus, ruam hanya muncul di sisi kanan atau kiri tubuh dan jarang menyebar ke sisi lainnya.
Gejala awal biasanya berupa rasa nyeri, kesemutan, gatal, atau sensasi terbakar pada area tertentu. Dalam beberapa hari kemudian muncul ruam kemerahan yang berkembang menjadi lepuhan berisi cairan.
“Awalnya biasanya terasa nyeri atau seperti tersengat listrik. Setelah itu muncul gelembung-gelembung kecil berisi cairan. Dalam beberapa minggu ruam akan mengering, menghitam, lalu membentuk keropeng,” paparnya.
Namun demikian, tidak semua keluhan berhenti setelah ruam menghilang. Sebagian pasien masih mengalami nyeri hebat selama berbulan-bulan akibat kerusakan saraf, suatu kondisi yang dikenal sebagai neuralgia pascaherpes.
Rasa nyeri tersebut digambarkan sebagai sensasi terbakar, tertusuk, hingga seperti tersengat aliran listrik sehingga sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. “Bahkan ada pasien yang mengatakan rasa sakitnya sangat hebat hingga mengganggu tidur, bekerja, maupun aktivitas sehari-hari,” katanya.
Selain menyerang kulit, herpes zoster juga dapat mengenai wajah, mata, maupun telinga apabila virus aktif pada saraf di daerah tersebut.
Pada kondisi tertentu, infeksi dapat menyebabkan mata merah, gangguan penglihatan, kelumpuhan otot wajah, hingga gangguan pendengaran. Oleh sebab itu, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis apabila ruam muncul di sekitar wajah atau mata. “Kalau mengenai mata atau telinga, komplikasinya bisa lebih berat sehingga memerlukan penanganan segera,” ujarnya.
Menurutnya, meningkatnya usia merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan virus kembali aktif. Seiring bertambahnya umur, kemampuan sistem kekebalan tubuh secara alami mengalami penurunan sehingga virus yang sebelumnya “tertidur” dapat kembali berkembang.
“Semakin bertambah usia, sistem imun kita memang semakin menurun. Itu merupakan proses alami. Namun, gaya hidup sehat seperti rutin berolahraga juga dapat membantu menjaga daya tahan tubuh,” katanya.
Hal yang menjadi perhatian para dokter adalah hubungan antara herpes zoster dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.
Menurut dr Gio, infeksi virus dapat memicu proses inflamasi atau peradangan pada pembuluh darah. Peradangan tersebut berpotensi menyebabkan gangguan pada pembuluh darah jantung maupun otak sehingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Selain itu, virus juga diduga dapat memengaruhi jaringan otot jantung sehingga memperberat kondisi pasien yang sebelumnya telah memiliki penyakit jantung.
“Peradangan akibat infeksi bisa terjadi pada pembuluh darah. Pada pasien yang sebelumnya sudah memiliki penyempitan pembuluh darah atau pernah menjalani pemasangan ring maupun operasi bypass, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa pasien yang mendadak mengalami sesak napas, nyeri dada, atau penurunan kondisi setelah terkena herpes zoster sebaiknya segera datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain usia lanjut, sejumlah kelompok masyarakat memiliki risiko lebih tinggi mengalami herpes zoster maupun komplikasinya. Kelompok tersebut antara lain pasien penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit ginjal kronis, kanker yang sedang menjalani kemoterapi, serta individu dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Pada kelompok tersebut, infeksi dapat berlangsung lebih berat karena kemampuan tubuh melawan virus telah menurun.
“Semakin banyak penyakit penyerta yang dimiliki seseorang, biasanya daya tahan tubuh juga semakin menurun sehingga risiko herpes zoster dan komplikasinya menjadi lebih tinggi,” katanya.
Jadwal Vaksinasi Disesuaikan dengan Kelompok Usia
Vaksin herpes zoster dapat diberikan kepada orang dewasa sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Untuk kelompok usia 50 tahun ke atas, vaksin diberikan dalam dua dosis dengan interval sekitar enam bulan. Sementara bagi kelompok dewasa berusia 18 tahun ke atas yang memiliki risiko tertentu, pemberian dosis kedua dapat dilakukan dalam interval yang lebih singkat sesuai pertimbangan medis.
Pasien yang baru menjalani perawatan karena serangan jantung atau gagal jantung, misalnya, memerlukan evaluasi terlebih dahulu untuk memastikan kondisinya telah stabil sebelum menerima vaksin.
Ia mengimbau masyarakat yang pernah mengalami cacar air, memiliki penyakit kronis, atau berusia lanjut agar berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan vaksinasi.
“Riwayat pernah terkena cacar air, memiliki penyakit penyerta, maupun adanya anggota keluarga yang pernah mengalami herpes zoster dapat menjadi bahan pertimbangan dalam konsultasi vaksinasi. Yang terpenting adalah melakukan pencegahan sebelum muncul komplikasi yang berat.
Edukasi Heart Care Day
Sementara itu, Direktur Utama Siloam Heart Hospital dr. Karina Afrifiani, MSc dalam sambutan pengantarnya mengatakan pihaknya berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya upaya pencegahan penyakit jantung, salah satunya melalui kegiatan edukasi Heart Care Day. Melalui kegiatan ini, rumah sakit tidak hanya menghadirkan edukasi bagi pasien dan keluarga, tetapi juga melibatkan anak-anak dalam berbagai aktivitas interaktif guna menanamkan kepedulian terhadap kesehatan jantung sejak usia dini.
Karina menyampaikan bahwa Heart Care Day merupakan program promosi kesehatan yang dirancang agar masyarakat memahami bahwa pelayanan rumah sakit tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika seseorang sudah sakit, tetapi juga pada upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit kardiovaskular.
“Kami ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyakit jantung. Jangan menunggu sampai kondisinya terlambat. Melalui Heart Care Day ini kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan jantung sejak dini,” ujar dr. Karina.
Karina menjelaskan bahwa Siloam Heart Hospital terus memperkuat pelayanan jantung, termasuk meningkatkan kesiapan penanganan pasien serangan jantung akut melalui layanan Primary Percutaneous Coronary Intervention (Primary PCI). Menurutnya, rumah sakit menargetkan penanganan pasien serangan jantung dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 90 menit sejak pasien tiba di rumah sakit, sesuai standar internasional yang direkomendasikan oleh American Heart Association.
“Komitmen kami adalah memastikan pasien dengan serangan jantung mendapatkan tindakan secepat mungkin agar peluang keselamatan dan pemulihannya semakin baik,” tandasnya.
Selain seminar kesehatan, Heart Care Day juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif bagi keluarga. Anak-anak diajak mengenal profesi tenaga kesehatan melalui aktivitas seperti face painting, permainan edukasi, hingga simulasi menjadi perawat maupun apoteker. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia dini.








Komentar