oleh

The International Battery Summit 2023 Bahas Implementasi Ekosistem Baterai dan Kendaraan Listrik di Indonesia

POSKOTA.CO – National Battery Research Institute (NBRI) bekerja sama dengan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Queen Mary University of London, Inggris menyelenggarakan “The International Battery Summit (IBS) 2023” di Jakarta. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari yakni 1-2 Agustus 2023 tersebut menghadirkan 40 pembicara dari 10 negara seperti Indonesia, Singapura, UK, USA, Australia, Korea Selatan, dan lainnya yang terbagi dalam 16 sesi pemaparan.

Pendiri NBRI Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini dalam keterangannya mengatakan International Battery Summit (IBS) 2023 merupakan summit baterai internasional pertama di Indonesia. “Acara ini bertujuan untuk mempertemukan pihak industri, pemerintahan, dan publik untuk mendiskusikan implementasi ekosistem baterai dan kendaraan listrik di Indonesia di masa depan,” kata Prof Evvy, Selasa (1/8/2023).

Mengambil tema “Battery as a core technology for accelerating clean energy transition”, IBS 2023 membahas topik utama mengenai proyek dan industri baterai terbaru di Indonesia dan internasional dari hulu, tengah, hingga hilir. Selain itu, IBS 2023 juga membahas inovasi dan teknologi terbaru, kebijakan dan regulasi, standarisasi, serta langkah Indonesia menuju pemain utama dalam industri baterai dan kendaraan listrik global.

Menurut Prof Evvy, battery summit 2023 ini menjadi pertemuan puncak di mana government berkumpul membahas pengembangan dan masa depan baterai. Karena itu setiap sesi akan diawali oleh government yang berfungsi memberi pengarahan, kebijakan, dan sebagainya. Itu sebab dalam IBS ini ada dari Kementerian ESDM, Kemenkomarves, BPKM, Kemenperin, Kemenhub bahkan ada juga dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).

“Jadi inti dari summit ini pertama mengumpulkan semua battery player dunia di Indonesia. Lalu kita juga mempromosikan Indonesia di dunia,” kata Prof Evvy.

Selain itu, dari summit ini nantinya diharapkan Indonesia memiliki roadmap pengembangan baterai, terbangunnya jejaring dan pada akhirnya mendeklarasikan Indonesia Battery Consorcium atau semacam asosiasi.

Menurut Prof Evvy, baterai menjadi kunci penting dari teknologi untuk menuju net zero emission. Karena itu NBRI sebagai sebuah lembaga yang menjalankan riset baterai terus berupaya mendorong Indonesia mandiri energi melalui kolaborasi dengan industri dan lembaga riset lainnya, dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada.

Namun untuk pengembangan industry baterai, jelas Prof Evvy, resources berupa nikel saja tidak cukup. “Indonesia kaya mineral resources untuk pengembangan baterai. Namun kita butuh bukan cuma nikel, kita juga butuh mangan, cobalt, kapur, dan lainnya untuk membangun manufacture baterai,” kata Prof Evvy.

Karena itu dalam IBS 2023, pihaknya menghadirkan pelaku manufaktur baterai dari China dan Korea Selatan. “Kita gandeng China BAK supaya belajar berkolaborasi, ada juga KG dari Korea,” tegasnya.

Selain itu, pengembangan industry baterai juga membutuhkan renewable industry. “Misalnya kita sudah pakai solar panel yang disimpan dalam baterai, namun charging stationnya masih pakai fuel, itu sama saja memindahkan. Jadi perlu dukungan infrastruktur secara keseluruhan,” tukasnya.

Persoalan industry baterai, juga menyangkut recycling. Sirkular econominya adalah setelah menggunakan baterai, jangan sampai menimbulkan masalah lain terkait lingkungan berupa baterai bekas. “Jadi memang soal recycle baterai ini perlu dibicarakan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Asisten Deputi Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Tubagus Nugraha mengharapkan penyelenggaraan IBS 2023 dapat mengembangkan industri baterai di Indonesia jauh lebih baik lagi.

“Ketika berbicara hulu maka kita akan melihat bahwa apa yang dikerjakan itu khususnya untuk nikel, kita sudah buka dua jalur. Jalur kesatu, kita sudah banyak mengerjakan untuk stainless steel,” tegas Tubagus.

Buah kebijakan dari nikel jalur stainless steel ini, nilai ekspor Indonesia meningkat pesat dari 1 miliar dolar AS pada 2014 menjadi 32 miliar dolar AS pada 2022.

Lalu pemerintah juga akan membuka jalur sesuai dengan tuntutan pasar, ada kebutuhan baterai, ada kebutuhan nikel, ada kebutuhan kobal. Ia mengaku banyak sekali investor yang datang ke Indonesia untuk membuka fasilitas HPAL (high pressure acid learning) dan sampai sekarang sudah ada beberapa yang jalan. “Sampai dengan saat ini sudah ada 200 ribu ton produk MHP yang telah diproduksi di fasilitas HPAL yang ada di Indonesia,” lanjutnya.

Untuk mendiskusikan topik-topik krusial yang ada, selain Prof Evvy, IBS 2023 juga dihadiri  Dr. Moeldoko, Pendiri Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia, Tonny H. Gultom, Direktur PT. Halmahrea Persada Lygend), Toto Nugroho Pranatyasto, Direktur Indonesia Battery Corporation, Jai Un Chun, General Manager Hyundai Kefico ASEAN, Kevin Phang, CEO PT. Swap Energi Indonesia, Dr. Robert Pell, Pendiri dan CEO Minviro UK, dan lainnya.

Bersamaan dengan IBS 2023, NBRI jelas Prof Evvy juga akan menyelenggarakan International Conference on Battery for Renewable Energy and Electric Vehicles (ICB-REV) & International Conference on Multidisciplinary Research and Technology (ICMRT) International Battery Summit 2023. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *